Trunajaya: Senjata Rahasia Cucu Pangeran Pekik Menggulingkan Amangkurat I

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

01 - Jan - 2026, 09:09

Trunajaya, api dari Madura: Di tengah runtuhnya istana dan asap perang, ia berdiri sebagai simbol perlawanan bangsawan pesisir terhadap tirani Mataram abad ke-17. Bagi babad, ia pemberontak. Bagi sejarah, ia adalah cermin retaknya kekuasaan Jawa lama—ketika darah, dendam, dan politik bertemu di medan api.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam catatan Babad Tanah Jawi, Trunajaya digambarkan bukan sekadar pemberontak, melainkan badai yang lahir dari ketimpangan dan dendam. Ia adalah putra bangsawan Madura, keturunan langsung Cakraningrat I dari Arosbaya, darah biru yang terhempas oleh arus kekuasaan Mataram. Ketika ia muncul di panggung sejarah sekitar tahun 1670-an, namanya membawa gema perlawanan orang pesisir, para ulama, dan bangsawan yang tersingkir dari pusat istana Kartasura.

Mataram saat itu berada di puncak kejemawaan di bawah Amangkurat Agung (Amangkurat I). Raja yang menggantikan Sultan Agung itu telah menebar ketakutan di dalam negeri sendiri. Ia membunuh banyak ulama, menyingkirkan bupati-bupati pesisir, dan menutup keraton dari pengaruh luar. Dalam babad disebut: “Panjenenganipun Sang Prabu Amangkurat, darbe ati mantep, nanging asring mbales dhendha.” — ia teguh hati, tetapi gemar menuntut balas.

Baca Juga : 76 Ormas dan Organisasi Mahasiswa Deklarasi Surabaya Bersatu, Pemkot Bentuk Satgas Anti-Premanisme

Dalam situasi seperti itulah, muncul dua arus besar: di pusat istana, Pangeran Adipati Anom, putra mahkota yang muak melihat kekuasaan ayahnya; di luar istana, Trunajaya, anak muda Madura yang membangun kekuatan di tanah Kediri. Dua arus itu bertemu, membentuk gelombang yang kelak menenggelamkan singgasana Kartasura.

Anak Pesisir dan Darah Madura

Penulis mencatat bahwa Raden Trunajaya, yang juga dikenal sebagai Raden Trunojoyo dan kelak bergelar Panembahan Maduretna, bukanlah pemberontak biasa. Ia merupakan keturunan langsung Panembahan Lemah Duwur, penguasa Arosbaya di Madura Barat pada akhir abad ke-16, salah satu pewaris darah Majapahit dan Pajang sekaligus pelopor Islamisasi di Madura. 

Dari garis ayah, ia adalah cucu Pangeran Cakraningrat I (Raden Prasena), adipati Madura Barat yang diangkat oleh Sultan Agung Mataram setelah penaklukan Madura pada 1624. Sementara dari garis ibu, ia menurunkan darah Jokotole, tokoh legendaris Madura Timur yang menjadi lambang keberanian rakyat pesisir.

Akar genealogisnya menjulur jauh ke belakang. Panembahan Lemah Duwur adalah cucu Kiai Demang Plakaran, tokoh awal Arosbaya yang meletakkan fondasi kerajaan maritim Islam di Madura Barat. Leluhur mereka diyakini bersambung dengan salah satu cabang keluarga Prabu Brawijaya V dari Majapahit, melalui Arya Damar (Adipati Palembang), kemudian Arya Menak Sunaya, Arya Timbul, Arya Kedot, dan Arya Pojok. 

Garis ini lalu berpadu dengan jaringan Islam pesisiran yang menghubungkan Palembang, Gresik, dan Demak pada abad ke-16. Dari darah semacam inilah lahir aristokrasi Islam Madura yang bercorak maritim, terbuka pada perniagaan, dan kerap bersaing dengan kekuasaan pedalaman Jawa.

Puncak kejayaan Arosbaya terjadi di masa Panembahan Lemah Duwur (sekitar 1590–1624), ketika ia memperkuat armada laut Madura dan menjalin hubungan politik dengan pusat-pusat kekuasaan Islam di Jawa, terutama Pajang dan Demak. Ia juga menikahkan salah satu putrinya dengan keluarga Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Pajang, sehingga trah Arosbaya menjadi bagian dari jejaring politik Islam Jawa. Dari perkawinan inilah lahir generasi penerus: Pangeran Tengah, penguasa Arosbaya berikutnya.

Lemah Duwur

Namun tahun 1624 menjadi luka kolektif Madura. Dalam ekspedisi besar besaran, Sultan Agung menaklukkan Arosbaya dan membantai sebagian besar bangsawan Madura. Pangeran Tengah terbunuh, istana Arosbaya hancur, dan banyak keluarga bangsawan dipaksa tunduk atau dibawa ke Mataram. 

Seorang putra Pangeran Tengah, Raden Prasena, selamat dan dibawa ke istana Mataram. Untuk mengikatnya sebagai vasal, Sultan Agung menikahkannya dengan adiknya dan mengangkatnya sebagai Pangeran Cakraningrat I, adipati Madura Barat. Dari pernikahan itu lahirlah generasi baru bangsawan Madura yang setengah Mataram, setengah Arosbaya, termasuk Raden Undagan kelak Cakraningrat II dan Raden Demang Malayakusuma.

Raden Demang Malayakusuma, putra dari selir Cakraningrat I, adalah ayah Raden Trunajaya. Ia wafat di Mataram pada tahun 1647 dalam pergolakan istana ketika meletus Pemberontakan Pangeran Alit. Kematian sang ayah di pusat kekuasaan Jawa menjadi luka genealogis yang membekas dalam diri Trunajaya. Ia lahir di Desa Pababaran atau Babaran di Sampang sebuah nama yang secara simbolik bermakna melahirkan seolah menandai datangnya sosok yang kelak akan melahirkan kembali semangat perlawanan pesisir terhadap dominasi Mataram.

Trunajaya tumbuh sebagai anak bangsawan pesisir yang tidak memiliki tempat terhormat di dalam struktur kekuasaan Mataram, karena ibunya bukan dari kalangan permaisuri bangsawan tinggi. Namun darah maritim Arosbaya mengalir deras dalam dirinya. Ia tumbuh keras, terbiasa hidup mandiri sejak kecil. 

Dalam kisah babad disebut bahwa sejak muda ia gemar bertapa, mencari kekuatan spiritual di gunung-gunung Madura. Ia juga belajar membaca politik istana dari jauh—dengan kebencian yang dalam terhadap pusat kekuasaan pedalaman. Seperti dicatat dalam Babad Tanah Jawi:

 “Trunojoyo rumasa wong cilik, nanging darbe panggalihe agung, nyumurupi sang Prabu adigang.”
(Trunajaya merasa dirinya kecil, tetapi pikirannya besar: ia mampu membaca kesewenangan sang raja).

Hubungan keluarga antara Trunajaya dan Dinasti Cakraningrat terjalin sangat erat, baik melalui darah maupun politik. Ayah Trunajaya, Raden Demang Malayakusuma, adalah putra dari selir Cakraningrat I (Raden Prasena), Adipati Madura Barat pertama yang diangkat oleh Sultan Agung setelah penaklukan Madura pada 1624. Dengan demikian, Trunajaya merupakan cucu Cakraningrat I dari garis samping.

Sementara itu, Cakraningrat II yang bernama kecil Raden Undagan adalah putra sah Cakraningrat I dari permaisuri Ratu Ibu atau Nyi Ageng Sawu, putri Sunan Giri. Ia naik takhta menggantikan ayahnya setelah tragedi berdarah tahun 1647, ketika Cakraningrat I bersama putra sulungnya, Demang Malayakusuma, gugur di Plered dalam penumpasan pemberontakan Pangeran Alit. Sejak peristiwa itu, Raden Undagan diangkat oleh Mataram sebagai Adipati Madura Barat dengan gelar Cakraningrat II.

Dengan posisi tersebut, Cakraningrat II menjadi paman sekaligus pewaris tahta resmi Madura Barat, sedangkan Trunajaya adalah keponakannya dari garis samping. Dalam masa mudanya, Trunajaya tumbuh di bawah pengaruh politik sang paman. Ia banyak belajar tentang pemerintahan, strategi, dan jaringan aristokrasi pesisir dari lingkungan istana Sampang. 

Hubungan keduanya semula sangat dekat; bahkan pada awalnya Cakraningrat II mendukung gerakan Trunajaya untuk melawan Mataram yang dianggap telah menindas Madura dan mengekang otonomi bangsawan pesisir.

Namun seiring waktu, hubungan mereka mulai retak. Trunajaya menunjukkan ambisi besar untuk tidak sekadar menentang Mataram, tetapi juga merebut hegemoni kekuasaan Jawa. Dari perlawanan regional, gerakannya menjelma menjadi revolusi politik berskala besar. Ketika Trunajaya menyingkirkan para pejabat lama dan menguasai pesisir utara Jawa Timur, termasuk wilayah Surabaya dan Pasuruan, ia mulai dianggap ancaman, bukan sekutu.

Bagi Trunajaya, Mataram adalah lambang penakluk leluhurnya, pembunuh ayahnya, sekaligus penindas tanah Madura. Sejarah Madura sejak tahun 1624 merupakan rangkaian panjang penghinaan dan penjinakan politik oleh istana Mataram. Dari bara dendam inilah Trunajaya tumbuh, dan bara itu pula yang kelak membakar tanah Jawa pada dekade 1670-an.

Selain berasal dari garis bangsawan Madura, Trunajaya juga memperkuat pengaruhnya melalui ikatan pernikahan. Ia menikah dengan putri Raden Kajoran, seorang ulama karismatik sekaligus bangsawan dari lereng Gunung Merapi di wilayah Kedu, yang memiliki jaringan spiritual luas dari Demak, Giri, hingga Kediri. 

Melalui hubungan ini, Trunajaya mendapat dukungan dari kalangan santri, petani, dan para tokoh religius yang menentang kekuasaan Mataram. Raden Kajoran menanamkan keyakinan bahwa seorang raja sejati harus lahir dari restu para wali, bukan dari darah yang ternoda oleh kezaliman. Karena itu, perlawanan Trunajaya tidak semata bersifat politik, melainkan juga spiritual dan ideologis, sebuah jihad melawan dosa penguasa.

Dari sisi hubungan istana, Trunajaya bahkan pernah menjadi menantu Mataram. Ia menikah dengan Raden Ayu Klenting Ungu, adik Pangeran Adipati Anom, yang kelak menjadi Amangkurat II, menjadikannya bagian dari keluarga kerajaan. Tapi pernikahan itu tak pernah menyembuhkan luka lama. Di istana, ia tetap dianggap “orang luar”, bangsawan pesisir yang tidak murni darah Mataram. Penghinaan demi penghinaan memperdalam kebenciannya.

Ketika pemberontakan meletus pada 1674, Trunajaya bukanlah seorang petani bersenjata bambu runcing. Ia adalah bangsawan Madura, menantu Mataram, menantu ulama besar Kajoran, dan pewaris darah Majapahit. Ia didukung oleh armada laut Madura dan Surabaya, pasukan Makassar sisa Perang Gowa–VOC, jaringan santri pesisir utara, serta bangsawan-bangsawan Jawa Timur yang kecewa terhadap Mataram. Perang Trunajaya (1674–1680) adalah letusan dendam genealogis Madura sekaligus gerakan oposisi Islam pesisir terhadap hegemoni istana pedalaman.

Namun, konflik keluarga tidak dapat dihindari. Cakraningrat II, pamannya, mulai mencurigai ambisi Trunajaya yang tampak tidak hanya ingin menentang Amangkurat I, tetapi juga berhasrat merebut takhta Jawa. Ketika Trunajaya menganggap pamannya sebagai ancaman, ia memerintahkan agar Cakraningrat II dibuang ke hutan Lodoyo di wilayah Blitar Selatan. 

Namun, takdir berkata lain. Sang paman berhasil selamat, dan peristiwa itu menjadi titik balik dalam perjalanan perang. Dari pengasingannya di Lodoyo, Cakraningrat II kemudian berpihak kepada Amangkurat II dan VOC, serta menjadi tokoh penting dalam operasi penaklukan kembali Trunajaya.

Makam panembahan Rama

Adipati Anom: Putra Amangkurat I yang Memberontak Diam-diam

Sementara itu, di balik tembok megah Istana Plered, udara mengental oleh ketegangan. Raja yang berkuasa, Amangkurat I, digambarkan dalam Babad Tanah Jawi sebagai sosok keras, curiga, dan diliputi dendam. Ia telah membungkam para bangsawan, menyingkirkan para ulama, bahkan memerintahkan pembantaian mereka tanpa ampun. Ketakutan terhadap ancaman dari dalam istana membuatnya menutup diri dari dunia luar. Tak tersisa lagi keakraban antara ayah dan anak, antara raja dan pewaris.

Putra mahkotanya, Raden Mas Rahmat, dikenal di lingkungan istana dengan gelar Pangeran Adipati Anom, putra sulung dari Ratu Kulon, permaisuri utama Amangkurat I. Dari garis ayah, ia merupakan cucu Sultan Agung Hanyokrokusuma, penguasa terbesar Mataram, keturunan langsung Panembahan Senapati, raja pertama Mataram, dan Ki Ageng Pamanahan, pendiri dinasti. 

Sementara dari garis ibu, darah yang mengalir dalam diri Adipati Anom memiliki warna politik yang lebih kaya. Ia adalah cucu Pangeran Pekik, bangsawan agung Surabaya, keturunan langsung Sunan Ampel, wali besar dari Ampel Denta yang menjadi pelopor Islam di Jawa Timur.

Pangeran Pekik sendiri adalah putra dari Panembahan Jayalengkara, penguasa Surabaya yang memiliki hubungan erat dengan trah Pajang dan jaringan spiritual pesisir timur. Setelah penaklukan Surabaya oleh Sultan Agung pada 1625, Pangeran Pekik tidak dihukum, melainkan dijadikan menantu raja, menikahi Ratu Pandansari, adik Sultan Agung. Pernikahan ini adalah simbol besar rekonsiliasi antara pesisir dan pedalaman, dua kutub kekuasaan yang selama berabad-abad bersaing untuk memperebutkan hegemoni di tanah Jawa.

Sebagai keturunan Sunan Ampel, Pangeran Pekik membawa legitimasi religius dan moral yang sangat penting bagi dinasti Mataram. Ia dikenal sebagai seorang pandhita raja, pemimpin spiritual sekaligus negarawan ulung yang mampu memadukan kebijaksanaan pesisir dengan tradisi keagungan istana pedalaman. 

Sultan Agung bahkan mempercayainya untuk memimpin ekspedisi penaklukan Giri Kedaton pada tahun 1636, sebuah pusat keulamaan yang saat itu masih menjadi lambang kemandirian Islam di Jawa Timur. Penaklukan tersebut bukan hanya kemenangan militer, tetapi juga kemenangan simbolik atas otoritas spiritual di luar istana, yang menjadikan Mataram sebagai satu-satunya pusat kekuasaan duniawi dan rohani di tanah Jawa.

Namun harmoni itu tak bertahan lama. Pada masa Amangkurat I, hubungan antara sang raja dan mertuanya, Pangeran Pekik, memburuk tajam. Raja yang paranoid terhadap pengaruh dan popularitas keluarga Surabaya itu menuduh Pangeran Pekik bersekongkol dengan lawan politik di dalam istana. Tahun 1659, perintah keji dijalankan: Pangeran Pekik bersama anggota keluarganya dibunuh secara massal atas titah Amangkurat I sendiri.

Tragedi itu menjadi luka yang tak pernah sembuh dalam sejarah keluarga Mataram. Bagi Pangeran Adipati Anom, cucu kandung Pangeran Pekik, peristiwa tersebut bukan sekadar persoalan keluarga, melainkan pengkhianatan darah dan kehancuran kehormatan Surabaya, tanah asal ibunya. Dari sinilah bara dendam dan ambisi politik dalam dirinya mulai menyala. Ia mewarisi keluhuran trah Mataram, tetapi juga kemarahan pesisir yang terhina.

Banyusumurup

Nasabnya, dengan demikian, mempersatukan dua arus besar sejarah Jawa: Pedalaman Pajang–Mataram dan Pesisir Surabaya–Ampel Denta. Jalur ganda ini menjadikan Adipati Anom tokoh unik dalam sejarah: darahnya menyimpan spiritualitas para wali sekaligus politik dinasti. Dari sisi ini pula dapat dipahami mengapa Babad Tanah Jawi menyebutnya sebagai putra mahkota yang memiliki “penerangan dalam hati”, tetapi juga “api di dalam dada”—simbol dari dua kekuatan yang bertolak belakang: kebijaksanaan dan kemarahan.

Namun, sejarah resmi Mataram kemudian menyunting dan memangkas silsilah Surabaya dari narasi istana. Catatan Sadjarah Dalem hanya menulis Pangeran Pekik sebagai “putra seorang pandhita”, seolah menyingkirkan akar bangsawan dan religiusnya. Para peneliti seperti Djajadiningrat dan Hageman menduga, ini merupakan bagian dari politik penghapusan silsilah yang dilakukan setelah keruntuhan Surabaya dan pemberontakan keturunan Pangeran Pekik di masa-masa berikutnya.

Silsilah Surabaya dipandang berbahaya karena mengandung potensi legitimasi tandingan terhadap garis Pakubuwanan yang berkuasa setelah Perang Suksesi Jawa. Jika hubungan darah antara Amangkurat II dan Pangeran Pekik terlalu ditegaskan, kekuasaan Surakarta bisa dianggap sebagai kelanjutan dari Surabaya, sebuah pandangan yang tentu mengancam monopoli sejarah dan klaim keabsahan dinasti Mataram.

Maka dalam Babad Tanah Jawi, nama Surabaya jarang disebut dengan kebesaran lamanya; leluhur seperti Panji Wirya Krama, Panembahan Jayalengkara, atau Pangeran Pekik hanya muncul sekilas sebagai tokoh religius, bukan penguasa duniawi. Padahal, sumber-sumber Eropa seperti Raffles, Meinsma, dan Hageman justru mencatat peran besar Surabaya dalam jaringan politik Pajang–Mataram.

Dengan latar ini, darah Surabaya yang mengalir dalam diri Pangeran Adipati Anom bukan sekadar catatan genealogi, tetapi sumber identitas politik dan spiritual. Ia menanggung warisan dua dunia: istana yang membunuh kakeknya, dan pesisir yang menuntut penebusan. Maka ketika kelak ia bersekutu diam-diam dengan Raden Kajoran dan Raden Trunajaya untuk mengguncang tahta ayahandanya sendiri, hal itu bukan hanya manuver kekuasaan—tetapi juga pembalasan sejarah atas darah Pangeran Pekik yang tertumpah.

Dalam catatan Babad Tanah Jawi, Adipati Anom sering dimarahi di hadapan para abdi dalem. Setiap kali ia menunjukkan perhatian kepada para ulama atau tokoh spiritual, Amangkurat I menegurnya dengan kemarahan membara. Bahkan, hubungan personalnya dengan Raden Kajoran, seorang ulama karismatik dari lereng Merapi, membuat sang raja semakin mencurigai putranya sendiri. Ia menganggap bahwa para wali dan santri adalah benih pemberontakan. Dalam salah satu bait babad disebutkan:

“Sang Anom angling, ‘Prabu bapakku boten adil, angilangake rasa manungsa.’” — Pangeran Anom berujar lirih bahwa ayahandanya telah kehilangan rasa kemanusiaan.

Pernyataan itu bukan sekadar keluhan anak kepada ayah, melainkan ekspresi batin seorang pewaris yang menyaksikan kezaliman tanpa daya. Dendam itu membara dalam diam, menjelma menjadi tekad tersembunyi untuk menumbangkan rezim yang telah menua dan kehilangan nurani.

Di tengah keterasingannya, Raden Mas Rahmat mulai membangun jaringan rahasia dengan para tokoh di luar istana, mereka yang masih meyakini bahwa Mataram hanya dapat diselamatkan melalui keadilan dan restu para wali, bukan dengan kekerasan seorang raja. Dari jaringan inilah takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pemuda pemberani dari Madura, Raden Trunajaya, keturunan langsung Cakraningrat I, penguasa Madura Barat.

Pertemuan Tersembunyi: Antara Putra Raja dan Anak Pembuangan

Dalam Babad Tanah Jawi, pertemuan pertama Adipati Anom dan Trunajaya digambarkan secara puitis:

“Ing wanci wengi, Pangeran Anom sowan ing dalem Kajoran, sinamun rahsa, nyawang Trunajaya, katon sinorot cahya geni.” — Di malam sunyi, Pangeran Anom datang diam-diam ke rumah Kajoran, melihat Trunajaya yang wajahnya diterangi cahaya api.

Makna simboliknya tajam. Cahaya api menjadi perlambang takdir dan perubahan. Dalam diri Trunajaya, Adipati Anom melihat potensi pembebas yang tidak dimilikinya sendiri, api yang mampu membakar singgasana lama untuk membuka jalan bagi kekuasaan baru. Sebaliknya, Trunajaya menemukan legitimasi politik melalui darah istana, seorang raja muda yang kelak akan menjadi penguasa Mataram. Dari pertemuan inilah lahir sebuah persekutuan yang misterius, sebuah perjanjian diam antara darah raja dan darah pesisir.

Trunajaya bukanlah tokoh biasa. Ia merupakan putra Raden Demang Melaya, anak dari Cakraningrat I atau Raden Prasena, penguasa pertama Madura yang diangkat langsung oleh Sultan Agung. Namun setelah ayahnya terbunuh dalam konflik istana, Trunajaya hidup sebagai anak pembuangan. Ia tumbuh di pinggiran kekuasaan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membawa luka batin dan ambisi yang membara. 

Serat Kandha menyebut bahwa masa mudanya diwarnai kisah cinta terlarang dengan putri pamannya sendiri, sebuah peristiwa yang memaksanya melarikan diri dan akhirnya mencari perlindungan di lingkungan istana Adipati Anom.

Menurut Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, Raden Kajoran, seorang ulama sufi sekaligus guru spiritual Pangeran Anom, melihat potensi besar dalam diri Trunajaya. Dengan mata batinnya yang tajam, ia menubuatkan bahwa pemuda dari Madura itu kelak akan menjadi pangreksa jaman, penjaga perubahan zaman. 

Kajoran kemudian menjadikannya menantu, sebagai lambang penyatuan antara darah spiritual dan darah bangsawan. Melalui hubungan itulah, Kajoran mempertemukan Trunajaya dengan Pangeran Anom dalam sebuah pertemuan rahasia yang kelak menentukan arah sejarah Jawa.

Babad Tanah Jawi menggambarkan bahwa dalam pertemuan itu, Raden Kajoran berkata kepada Adipati Anom:

“Putra mantuku iki pantas dados wakil panjenengan ing Madura. Wenehana pangkat, sandhangan, lan gaman.”
— “Menantuku ini pantas menjadi wakil Paduka di Madura. Berikanlah ia pangkat, pakaian, dan senjata.”

Adipati Anom menyetujui usulan itu. Ia memberi Trunajaya dana, prajurit, dan legitimasi untuk kembali ke Madura dengan misi mengguncang dominasi Pangeran Cakraningrat II, pamannya sendiri, yang dianggap terlalu dekat dengan Amangkurat I dan telah menindas rakyat. Dalam Serat Kandha, bahkan disebut bahwa Adipati Anom menjanjikan jabatan tumenggung kepada Trunajaya, sebagai pengakuan atas perannya dalam menggalang kekuatan pesisir.

Dari keterangan ini tampak jelas bahwa Trunajaya tidak bergerak sebagai pemberontak tanpa arah, melainkan sebagai utusan rahasia dari putra mahkota Mataram. Ia dikirim untuk membangun basis kekuatan di luar istana, menggalang simpati rakyat, dan menanti saat yang tepat untuk mengguncang pusat kekuasaan yang telah tenggelam dalam korupsi. Dalam istilah politik modern, langkah ini dapat disebut sebagai strategi subversif dari dalam, sebuah pemberontakan yang sesungguhnya didukung oleh sebagian kalangan elit kerajaan sendiri.

Perintah dari Adipati Anom sangat jelas. Trunajaya harus kembali ke Madura, membujuk rakyat Sampang agar tidak tunduk kepada istana, dan menggoyahkan kekuasaan Cakraningrat. Ia juga diberi tugas untuk memengaruhi daerah-daerah pesisir seperti Surabaya, Gresik, dan Pasuruan, wilayah yang selama ini hanya setengah hati dalam kesetiaannya kepada Mataram.

Namun, di balik instruksi itu tersimpan desain politik yang jauh lebih besar: pelemahan pusat kekuasaan Mataram melalui penggerusan legitimasi di daerah-daerah bawahan. Dengan begitu, ketika saatnya tiba, Amangkurat I akan jatuh bukan karena kudeta istana, melainkan oleh kehancuran yang datang dari pinggiran kekuasaannya sendiri.

Trunajaya

Trunajaya kembali ke Madura

Antara tahun 1670 hingga 1672, Trunajaya kembali ke tanah leluhurnya di Madura. Di sana, ia segera membangun jaringan patronase baru di Pamekasan dan Sampang. Menurut laporan syahbandar Tionghoa di Jepara (1671), Trunajaya telah menguasai wilayah barat Madura secara de facto setelah terjadi insiden berdarah di Teluk Sampang—pembunuhan terhadap seorang Eropa bernama Cornelis Francen atau “Kees”. Kasus itu tak pernah diusut tuntas, menunjukkan bahwa otoritas resmi sudah kehilangan kendali atas pulau itu.

Baca Juga : 9 Wisata yang Wajib Dikunjungi saat ke Blitar, Nomor 4 Tempat Healing Alami

Di Pamekasan, Trunajaya merekrut tokoh-tokoh bangsawan lokal seperti Wiranegara dan Wiradipa, membangun kekuatan bersenjata dari rakyat desa dan bekas prajurit pesisir. Ia juga menjalin aliansi dengan kelompok pelaut Makassar yang bermukim di pesisir utara Jawa. Dalam laporan rahasia Laksamana Cornelis Speelman, disebutkan bahwa pada tahun-tahun ini Trunajaya telah memiliki kekuatan militer mandiri dan struktur komando layaknya sebuah negara kecil.

Ketika aktivitas perompakan meningkat di perairan utara Jawa pada tahun 1672, VOC menuduh Trunajaya sebagai dalang di balik kekacauan itu. Namun bagi rakyat Madura, tindakan tersebut dianggap sebagai bentuk pembalasan terhadap penindasan pajak dan ketidakadilan yang dilakukan oleh Mataram. Secara perlahan, Madura pun berubah menjadi semacam negara di dalam negara, sebuah pusat perlawanan yang menyatukan dendam para bangsawan, semangat rakyat, serta ambisi politik sang putra mahkota.

Di Plered, kabar tentang gerakan Trunajaya segera sampai ke telinga Amangkurat I. Ia menuduh putranya bersekongkol dengan kaum pemberontak. Namun Adipati Anom sudah terlalu jauh mundur untuk kembali. Menurut Babad Tanah Jawi, ia bahkan memohon kepada gurunya, Raden Kajoran, agar “waktu kehancuran Mataram” segera tiba. Dalam diskursus spiritual Kajoran, kehancuran itu bukan sekadar politik, melainkan takdir ilahi:

“Wis dadi karsaning Hyang Agung, Mataram wus tuwa, bakal sirna. Wong kang mulihake bakal kawentar.”
— “Sudah menjadi kehendak Tuhan, Mataram telah tua, dan akan musnah. Yang membangkitkan kembali akan termasyhur.”

Di mata Kajoran dan Anom, Trunajaya adalah “tangan sejarah” yang ditakdirkan menjalankan kehendak langit. Maka, ketika perang besar akhirnya meletus pada tahun 1674, itu bukan semata pemberontakan daerah terhadap kerajaan, melainkan benturan dua visi kekuasaan: antara kekuasaan lama yang bertumpu pada ketakutan dan kekuasaan baru yang menjanjikan keadilan serta pembaruan spiritual.

Sejak saat itu, sejarah Jawa tidak lagi sama. Api yang disulut oleh persekutuan rahasia antara Adipati Anom, Raden Kajoran, dan Trunajaya menjalar ke seluruh tanah Jawa, membakar istana Plered, mengguncang singgasana Amangkurat I, dan mengubah peta politik kerajaan selama setengah abad berikutnya.

Trunajaya

Membangun Basis di Kediri: Dari Gunung ke Gelombang

Trunajaya kemudian meninggalkan Madura dan menuju pedalaman timur Jawa. Ia memilih Kediri sebagai pusat gerakan. Alasannya strategis dan simbolik. Kediri adalah tanah lama kerajaan yang pernah besar, tempat arwah raja-raja Jawa bersemayam. Dalam Babad Tanah Jawi, ia disebut mendirikan benteng di “Gunung Wilis” dan “Kutha Gedhong Kedhiri.” Di sana, ia mengumpulkan pengikut: para santri, bekas prajurit, dan bangsawan pesisir yang tersingkir.

Trunajaya membangun gerakan dengan pola baru: bukan sekadar perang, tetapi juga dakwah. Setiap pasukannya diwajibkan shalat dan zikir sebelum berangkat. Kajoran memberi restu dengan air doa. Lambat laun, Kediri menjadi pusat perlawanan yang sukar dijangkau. Dari luar, tampak seperti sekumpulan pemberontak; tetapi dalam pandangan babad, itu adalah laskar suci yang ingin membersihkan tanah Jawa dari dosa raja.

Dalam waktu singkat, Trunajaya menguasai pesisir utara. Pasukan dari Gresik, Tuban, Lasem, dan Jepara bergabung. Bahkan para bajak laut dari laut Jawa ikut berjuang. Gerakannya menjadi badai yang menakutkan Mataram. Dari balik tembok istana, Amangkurat I mulai mendengar kabar bahwa “pesisir wis gumregah.”

Trunajaya Galesong

Api Pertama di Pesisir: Mataram Retak

Tahun 1675 menjadi titik balik dalam perjalanan sejarah Jawa. Trunajaya melancarkan serangan besar ke arah barat. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan, “Sura kapisan Trunajaya nggegeri bumi,” yang berarti serangan pertama Trunajaya mengguncang tanah Jawa. 

Ia merebut Gresik dan Tuban, lalu menaklukkan pasukan Mataram di Lasem. Namun yang paling mengejutkan, serangan besar itu tidak dihadang oleh pasukan dari pusat kerajaan. Alasannya, banyak prajurit Mataram diam-diam bersimpati kepada Trunajaya, bahkan sebagian di antaranya merupakan orang-orang yang dikirim secara rahasia oleh Pangeran Adipati Anom sendiri.

Amangkurat I marah besar. Ia menuduh putranya bersekongkol dengan pemberontak. Pertengkaran di istana pun tak terelakkan. Dalam Babad Tanah Jawi terdapat dialog pahit:

“Heh Anom, sira arep dadi raja, nanging nganggo tangan wong durhaka!”
“Kula boten nyengkuyung durhaka, nanging nyengkuyung bebener, rama wis lali marang janji para leluhur.”

(“Hei Anom, kau ingin jadi raja tapi dengan tangan pemberontak!”
“Aku tak mendukung durhaka, tapi mendukung kebenaran; Ayah telah lupa pada janji leluhur.”)

Pertengkaran ini menandai pecahnya Mataram dari dalam. Dari luar, Trunajaya menggempur; dari dalam, Adipati Anom menggoyang legitimasi ayahnya. Amangkurat I kehilangan keseimbangan. Para bupati pesisir mulai membelot. Dalam babad disebut, “Kartasura katingal peteng, amargi ora ana kang satuhu setya.” — Kartasura tampak gelap, sebab tiada lagi yang sungguh setia.

Amangkurat

Trunajaya di Puncak Kemenangan

Sekitar tahun 1677, Trunajaya menaklukkan kota demi kota. Ia bahkan menjarah Plered, ibu kota lama Mataram. Dalam babad, adegan penyerangan itu digambarkan seperti badai merah: “Kota Plered murub, geni nguntab nganti swarga, Sang Prabu mlayu menyang Tegal.” — Plered terbakar, apinya menjulang ke langit, dan sang raja lari ke Tegal.

Trunajaya tidak mengejar takhta, tapi menegakkan kasekten sejati. Ia mengangkat dirinya sebagai Panembahan Maduretna, dan memindahkan pusat kekuasaan ke Kediri. Di sana ia hidup seperti raja, namun tetap dikelilingi para ulama dan santri. Babad menggambarkannya sebagai pemimpin yang sederhana, gemar tirakat, tetapi keras terhadap pengkhianatan. Ia tidak berambisi menjadi raja seluruh Jawa, hanya ingin menegakkan keadilan di tanah yang dianggapnya ternoda.

Sementara itu, Amangkurat I melarikan diri ke arah barat bersama Adipati Anom. Ironisnya, sang ayah yang dulu menuduh putranya berkhianat kini harus bergantung padanya untuk bertahan hidup. Dalam perjalanan pelarian inilah, Amangkurat I jatuh sakit. Babad Tanah Jawi menulis dengan getir: “Sang Prabu kaparan lelara, anjaluk ngapura marang putra.” — sang raja terserang penyakit, memohon ampun kepada anaknya.

Tak lama kemudian, di Tegalwangi, Amangkurat Agung wafat. Ia dimakamkan dalam kesunyian, tanpa upacara megah. Adipati Anom naik takhta sebagai Amangkurat II, seorang raja yang lahir dari reruntuhan dan pengkhianatan.

Trunajaya

Pengkhianatan yang Berbalik

Trunajaya mungkin mengira bahwa naiknya Amangkurat II akan menuntaskan perjuangan. Namun politik istana selalu penuh jebakan. Setelah menjadi raja, Amangkurat II mulai menjauh. Ia ingin merebut kembali legitimasi, dan tahu bahwa Trunajaya adalah ancaman terbesar. Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa utusan dikirim untuk “nggawe rukun” dengan Trunajaya, tetapi diam-diam berniat memata-matai.

Trunajaya menolak untuk menghadap Amangkurat II. Ia berkata, “Raja anyar iku isih ngagem getih bapakne, durung suci,” yang berarti raja baru itu masih mengenakan darah ayahnya, belum menjadi suci. Ucapan tersebut menandai berakhirnya hubungan antara dua sahabat lama. Sejak saat itu, Amangkurat II mulai mencari cara untuk menyingkirkan Trunajaya tanpa menampakkan diri sebagai seorang pengkhianat.

Maka, babad menulis bahwa raja muda itu mulai “ngundang bala manca”, memanggil bantuan dari luar untuk menundukkan pemberontak. Dalam tafsir sejarah, inilah awal campur tangan bangsa asing di Jawa. Tapi dalam versi babad, yang ditekankan adalah karma politik: siapa yang menggunakan orang luar untuk menindas saudara sendiri, kelak akan dibalas oleh nasib yang sama.

Trunajaya

Akhir di Kediri: Senjata yang Menjadi Kutuk

Pertempuran terakhir itu pecah di dataran Kediri, saat fajar sejarah Jawa abad ke-17 mulai redup oleh bara perang yang tak kunjung padam. Pasukan Trunajaya, yang selama enam tahun mengguncang istana Mataram, kini terjepit dari segala arah. Menurut Babad Tanah Jawi, suasananya lirih dan mistis; di balik dentum meriam dan gemerincing tombak, tercium aroma kematian yang tak lagi menakutkan bagi sang pemberontak.

 Trunajaya naik ke puncak bukit, bersemedi dalam hening yang panjang. Ia tahu, takdirnya telah selesai. “Sampun wayahe kawula bali marang bumi,” katanya pelan sudah waktuku kembali ke tanah. Dalam kalimat itu terkandung kepasrahan seorang pejuang yang tahu bahwa ajalnya bukan kekalahan melainkan jalan pulang menuju keabadian.

Ketika pasukan Amangkurat II dan VOC tiba, Trunajaya turun tanpa senjata. Ia menyerahkan diri dengan langkah tegap, seolah bukan tawanan, melainkan tamu yang datang menunaikan janji lama. Dalam babad, adegan itu ditulis dengan bahasa spiritual yang mengguncang: “Trunajaya nyunggi asta, nyumerepi langit, matur: Gusti, sampun dados kawula.”—Trunajaya mengangkat tangan, menatap langit, dan berkata: Tuhan, aku sudah menjadi hamba-Mu. Tak lama kemudian, keris Kyai Balabar milik raja menembus dadanya.

 Darahnya memercik ke tanah Kediri, dan Babad Tanah Jawi menulis: “Bumi Kedhiri gumeter.” Tanah bergetar, seolah bumi sendiri menolak kematian orang yang menyalakan kembali roh keadilan Jawa.

Namun sebelum sampai pada peristiwa tragis itu, terdapat kisah lain yang jarang diungkap, yakni tentang Cakraningrat II, paman Trunajaya yang menjadi kartu andalan politik Amangkurat II untuk menaklukkan keponakannya sendiri. Di sinilah letak ironi paling dalam dalam sejarah Jawa abad ke-17, ketika pengkhianatan justru lahir bukan dari musuh, melainkan dari darah sendiri.

Cakraningrat II memerintah Madura Barat dan pesisir utara Jawa Timur dengan kekuatan armada laut yang besar. Ia adalah sosok politik yang licin, selalu berpihak sesuai arah angin kekuasaan. Pada awalnya ia mendukung Trunajaya melawan Amangkurat I yang tiranik. Namun ketika ambisi keponakannya kian membesar, ingin menjadi raja seluruh Jawa, ia berbalik arah. 

Dalam versi babad, Trunajaya bahkan memerintahkan agar pamannya itu dibuang ke hutan Lodoyo di Blitar Selatan untuk dimangsa binatang buas. Hutan Lodoyo pada masa itu dikenal angker, penuh pepohonan lebat dan menjadi sarang harimau. Di tempat itulah, menurut kisah tutur, berdiri sebuah kedaton gaib yang disebut kedaton macan. Tapi sejarah punya ironi: Cakraningrat II tidak mati. Ia justru selamat, dan dari hutan pembuangan itulah roda takdir mulai berputar.

Hutan Lodoyo, wilayah pedalaman Blitar Selatan, menjadi saksi awal pembelotan Cakraningrat II. Setelah bertahan hidup dari maut, ia mendengar kabar bahwa pasukan Trunajaya mulai terdesak. Dari Lodoyo, ia memutuskan kembali ke Mataram. Di sepanjang perjalanan, ia membawa keluarga dan pengikut setia, menandai transformasinya dari pengkhianat istana menjadi alat istana.

Ketika menghadap Amangkurat II di pesanggrahan Kerta, Cakraningrat II bersujud dan menangis memohon ampun. Sang raja menerimanya kembali, bahkan mengembalikan kekuasaan atas Madura. Namun, ada satu tugas besar yang harus ia laksanakan: membujuk Trunajaya agar menyerah hidup-hidup. Tugas ini bukan sekadar diplomasi, melainkan jebakan politik tingkat tinggi. Amangkurat II tahu, hanya Cakraningrat II yang bisa mendekati Trunajaya tanpa kecurigaan.

Di saat yang sama, Trunajaya bersembunyi di Gunung Ngantang, wilayah Kediri pada masa itu yang kini termasuk kawasan Kabupaten Malang. Ia ditemani dua istrinya, Raden Ayu Kleting Ungu dan Raden Ayu Kleting Kuning, putri-putri Mataram yang dahulu diberikan sebagai lambang perdamaian. 

Namun, perdamaian itu tinggal kenangan. Kleting Kuning menolak dimadu dan memilih mati dengan berpuasa selama empat puluh hari. Ratapannya menggema di gua Ngantang, menjadi nyanyian duka yang menandai runtuhnya dunia batin Trunajaya. Saat itulah ia mulai sadar bahwa perlawanan yang dibangunnya kini hanya menyisakan abu. “Aku mung wong cilik sing kepengin dadi ratu,” katanya dalam penyesalan. Aku hanyalah orang kecil yang memaksa diri menjadi raja.

Dalam kegamangan itu, datang utusan dari Sampang membawa surat bertinta janji. Cakraningrat II menjamin keselamatan Trunajaya. “Yen kawula nuli dipateni, kawula ingkang tanggung,” tulisnya, yang berarti: jika engkau harus mati, biarlah aku yang menanggung. Surat itu menggoyahkan hati sang pemberontak. Ia percaya bahwa darah keluarga masih menyimpan nurani.

Trunajaya turun dari gunung bersama tiga puluh pengikutnya. Senjata ditinggalkan, tanda ikhlas menyerah. Di kaki Ngantang, Cakraningrat II menyambutnya dengan pelukan. Namun di balik pelukan itu tersimpan perintah maut. Dengan isyarat tangan, prajuritnya mengikat Trunajaya dan ajudannya, Seca Gora, dengan kain cinde. 

Tanpa perlawanan, Trunajaya berkata lirih: “Paman, aku pasrah. Sebab kabeh iki salahku dhewe.” Ia digiring menuju pesanggrahan Amangkurat II. Sepanjang jalan, gamelan bertalu, meriam meledak—sebuah pawai kematian yang disamarkan sebagai pesta kerajaan.

Setibanya di hadapan raja, simbolisme kekuasaan dimainkan dengan rapi. Amangkurat II menatap Trunajaya, wajahnya bergetar di antara nostalgia dan dendam. Ia teringat pada janji lama yang pernah diucapkan kepada Trunajaya: jika Mataram selamat, tahta Jawa akan diserahkan kepadanya. Tiga kali ia mengulang janji itu, dan tiga kali pula Trunajaya memilih diam. Ia tahu janji itu hanya racun kata-kata. Dalam diamnya tersimpan martabat terakhir seorang ksatria.

Akhirnya Amangkurat II menunaikan nadarnya sendiri: keris Kyai Balabar yang ia sumpah tak akan disarungkan sebelum menembus dada Trunajaya. Dengan satu hunjaman tajam, keris itu menancap. 

Tubuh Trunajaya roboh, darahnya muncrat ke tanah. Para bupati menirukan sang raja, menghunjamkan keris mereka ke tubuh yang sudah tak bernyawa. Ritual kekuasaan mencapai puncak kekejamannya: hati Trunajaya dipotong, dibagi-bagi, ditelan mentah-mentah oleh para bupati sebagai tanda sumpah setia. Kepala sang pemberontak dipenggal, dihancurkan di lumpang, lalu ditanam di bawah dampar raja. Simbolisme itu jelas: tubuh pemberontak harus menjadi fondasi bagi kekuasaan yang baru.

Ketika kabar kematian itu sampai ke Ngantang, Kleting Ungu meraung, memukul dada, menumpahkan kutuk kepada Mataram. Ia menolak makan dan minum, bertapa dalam duka yang panjang. Namun Amangkurat II mengutus abdi istana menjemputnya, bukan untuk dihukum, melainkan dijadikan pelengkap legitimasi. Seorang perempuan bangsawan Mataram yang dulu dijadikan jaminan pernikahan politik, kini menjadi simbol pengampunan palsu dari kekuasaan yang baru.

Arsip VOC mencatat bahwa Trunajaya dieksekusi pada 2 Januari 1680 di Kartasura, bukan di Kediri. Tidak ada catatan tentang gamelan, pagar betis, atau hati yang dimakan mentah. Tetapi di mata Babad Tanah Jawi, detail mistik itu bukan sekadar hiasan. Ia berfungsi sebagai simbol: raja menegakkan kembali poros kosmos Jawa yang sempat terguncang oleh pemberontakan. Darah Trunajaya menjadi tumbal bagi pemulihan dunia yang porak-poranda. Dalam tafsir babad, Amangkurat II bukan hanya pembunuh, tetapi juga “penyatu jagat” yang menuntaskan siklus karma politik ayahnya.

Cakraningrat II tampil sebagai pemenang di permukaan, namun dalam lapisan sejarah ia meninggalkan stigma pengkhianatan. Ia memang kembali memerintah Madura hingga 1707, tetapi namanya selamanya terikat pada luka keluarga, paman yang menjerat keponakannya menuju kematian. Tragedi Lodoyo, hutan tempat ia nyaris binasa sebelum berbalik mengkhianati darah sendiri, menjadi metafora abadi dalam politik Jawa bahwa kekuasaan selalu menuntut korban, bahkan dari keluarga sendiri.

Eksekusi Trunajaya

Dari Api Menjadi Abu, dari Abu Jadi Cermin

Persekutuan Trunajaya dan Adipati Anom adalah ironi terbesar dalam sejarah Mataram. Dalam Babad Tanah Jawi, hubungan keduanya digambarkan seperti dua bintang kembar yang saling membakar. Mereka sama-sama ingin menumbangkan tirani, tapi akhirnya salah satunya harus mati agar yang lain bisa berkuasa.

Trunajaya menjadi senjata rahasia bagi Pangeran Adipati Anom, senjata yang ampuh untuk menghancurkan Amangkurat I, tetapi kemudian dianggap berbahaya setelah tujuan tercapai. Ia tidak kalah di medan perang, melainkan ditaklukkan oleh politik. Namun babad tidak memandangnya sebagai kekalahan. Dalam pandangan Jawa, Trunajaya telah menempuh laku yang sempurna, menegakkan kebenaran, menolak keserakahan, dan wafat dalam kesadaran spiritual.

Ketika darahnya menetes di bumi Kediri, babad menutup kisahnya dengan kalimat yang dalam:

“Sing sapa ngukum wong bener, bakal dipun hukum jaman.” — siapa yang menghukum orang benar, akan dihukum oleh zaman.

Dan benar, beberapa dekade kemudian Mataram runtuh di tangan kekuatan asing, seolah menjadi kutukan yang lahir dari pengkhianatan terhadap Trunajaya.

Trunajaya Kajoran

Trunajaya, Martir dari Timur

Dari Babad Tanah Jawi kita belajar bahwa sejarah bukan hanya kisah tentang raja dan istana, tetapi juga tentang luka-luka yang diwariskan dari generasi ke generasi. Trunajaya, yang oleh kronik disebut bangsawan Madura keturunan raja, sejatinya bukan sekadar pemberontak yang menentang Mataram. Ia adalah lidah sejarah yang berseru dari timur, mewakili dendam lama yang belum tuntas: dendam atas darah Pangeran Pekik, ulama sekaligus adipati Surabaya yang dibunuh secara rahasia oleh Amangkurat I, sang raja yang menebas semua yang dianggap mengancam singgasananya.

Namun sejarah selalu berputar dengan ironi. Ketika api pemberontakan Trunajaya berkobar dari Madura hingga ke jantung Plered, di balik kekacauan itu justru berdiri sosok Adipati Anom, putra mahkota yang kelak bergelar Amangkurat II. Ia bukan sekadar korban tirani ayahnya, melainkan juga aktor politik yang cerdik. Dalam Babad Tanah Jawi, ia digambarkan sebagai raja dalam bayangan, diam menunggu saat ketika ayahnya jatuh dan para lawan lama keluarga Surabaya kembali bernafas melalui tangan Trunajaya.

Ada kesan bahwa perlawanan Trunajaya bukan hanya tentang tanah dan takhta, tetapi tentang keadilan spiritual bagi darah yang ditumpahkan di Banyusumurup. Darah Pangeran Pekik, kakek dari Adipati Anom, seolah menagih balasannya melalui amukan pasukan dari timur. Amangkurat I pun tersungkur dalam pelarian yang hina, meninggalkan istana dan rakyatnya. Ia mati di pengasingan, jauh dari Imogiri, seolah tertolak oleh tanah Jawa yang dulu ia kuasai.

Dan di saat sang raja sekarat, Adipati Anom berdiri di sisinya bukan sebagai anak yang berduka, melainkan sebagai penuntun bagi kejatuhan itu. Seperti ditulis dalam babad, ketika ayahnya berkata, “Dosa-dosaku adalah warisanmu,” ia menjawab dingin: “Aku hanya akan mengambil yang tak sanggup lagi engkau pikul.” Sejak saat itu, garis dendam yang dimulai di Surabaya menemukan keseimbangannya. Trunajaya menjadi alat, Amangkurat I menjadi korban, dan Amangkurat II muncul sebagai raja baru — lahir dari puing-puing perang dan dosa ayahnya sendiri.

Namun di antara batu-batu di Payak, Bantul, tempat Trunajaya dieksekusi oleh sekutunya sendiri pada 1680, sejarah berbicara lain. Dalam tafsir yang lebih dalam, Trunajaya adalah martir dari dendam Pangeran Pekik. Ia bukan raja yang menang, tetapi jiwa yang dibakar oleh api keadilan yang tak sempat padam. Kematian di Bantul bukan akhir, melainkan permulaan dari zaman baru Mataram, zaman di mana kekuasaan lahir bukan dari wahyu keprabon yang suci, melainkan dari intrik, persekutuan rahasia, dan darah para pemberontak.

Sejarah Jawa terus berputar antara dosa dan dharma, antara wahyu dan darah. Nama Trunajaya hidup sebagai peringatan bahwa setiap tirani selalu menanam benih kehancurannya sendiri. Dalam setiap babak krisis di tanah Jawa, dari Kartasura hingga Yogyakarta, dari Diponegoro hingga perlawanan rakyat, nama itu selalu bergema: suara kecil dari timur yang menuntut keadilan, menandakan bahwa tidak ada istana yang abadi di atas darah yang belum ditebus.