Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Bupati Kartanagara dari Lumajang: Warisan Berdarah dan Kejatuhan Keturunan Surapati

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

02 - Jan - 2026, 10:49

Placeholder
Gapura makam para tokoh perang Surapati di Lumajang. Nama nama seperti KRT Ratmodjo, R Singoyudo, dan Sultan Djauhari tercatat sebagai bagian dari jaringan perlawanan anti VOC di Jawa Timur akhir abad ke 17 hingga awal abad ke 18. Lokasi makam ini berada di gang timur Pendapa Arya Wiraraja.(Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada pertengahan abad ke-18, Jawa Timur menjadi panggung bagi satu babak terakhir dari drama sejarah panjang yang dimulai sejak pelarian Untung Surapati dari Batavia. Warisan darah dan perlawanan yang ditinggalkan oleh Surapati tidak hanya menjelma menjadi jaringan kekuasaan lokal, tetapi juga menjadi api yang terus menyala di benak para keturunannya. 

Di antara mereka, Raden Kartanagara dari Lumajang muncul sebagai simbol perlawanan yang diwariskan, tetapi juga sebagai saksi kejatuhan tragis keturunan Surapati di tangan kolonialisme VOC. Artikel ini menelusuri secara runut dan kritis kisah Kartanagara, dari ikhtiar diplomatik hingga pertumpahan darah, dalam konteks gejolak politik kolonial dan pertarungan ideologi pada zamannya.

Pendopo lumajang

Jejak Surapati dan Keturunannya di Jawa Timur

Surapati bukan sekadar tokoh pembelot dari tubuh militer VOC, melainkan figur politik Jawa akhir abad ke 17 yang lahir dari lintasan kekerasan kolonial dan kecerdikan istana. Ia berasal dari Bali, dalam sumber Belanda disebut sebagai Surawiraaji, seorang budak yang diperjualbelikan di Batavia sebelum melarikan diri dan membentuk jaringan perlawanan pribumi. Dari pelarian itulah ia meniti jalan sebagai prajurit bayangan Mataram, mengabdi sekaligus memberontak, hingga menjelma menjadi musuh paling ditakuti Kompeni di Jawa.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Wage 2 Januari 2026: Hati-Hati Saat Beraktivitas di Tempat Tinggi

Perjalanan Surapati mencapai puncaknya pada peristiwa Kartasura tahun 1686, ketika ia memimpin pasukan Bali menyerbu dan membunuh Kapten François Tack beserta ratusan serdadu VOC di dalam lingkungan keraton. Pembantaian itu bukan sekadar insiden militer, melainkan lakon politik tingkat tinggi yang memperlihatkan rapuhnya dominasi kolonial di jantung kekuasaan Jawa. 

Di balik tragedi itu berdiri politik sandiwara Amangkurat II, yang berpura pura tunduk pada VOC namun diam diam memberi ruang bagi Surapati untuk menumpahkan darah Belanda. Sejak hari itu, nama Surapati menjelma simbol perlawanan, sementara Kartasura tercatat sebagai saksi bahwa Kompeni bisa dipermalukan di hadapan raja Jawa.

Setelah tragedi Kartasura, Surapati menyingkir ke Jawa Timur dan membangun basis kekuasaan yang semakin kokoh. Ia menguasai Pasuruan dengan gelar Adipati Wiranegara, mengendalikan wilayah Malang, Lumajang, hingga berpengaruh ke Blambangan. Dari daerah daerah inilah terbentuk jaringan loyalis dan keturunan Surapati yang mewarisi bukan hanya kekuasaan administratif, tetapi juga sumpah ideologis anti kolonial. 

Wilayah timur Mataram secara bertahap berubah menjadi ruang politik yang sulit dijinakkan VOC, karena di sana Surapati tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh darah, ikatan keluarga, dan solidaritas perlawanan.

Riwayat Surapati berakhir secara tragis pada tahun 1706, ketika koalisi besar yang terdiri dari pasukan Kartasura, Madura, Surabaya, dan VOC mengepung Pasuruan. Dalam pertempuran sengit di Bangil, Surapati terluka parah oleh tembakan peluru besar. Meski demikian, ia menolak menyerah dan tetap memimpin perlawanan hingga ajal menjemput. 

Dalam wasiat terakhirnya, ia berpesan agar jasadnya dikuburkan tanpa tanda, tanpa nisan, dan tanpa kemegahan, karena baginya perlawanan tidak membutuhkan monumen. Tubuhnya kemudian dibakar oleh VOC setelah makamnya terbongkar, tetapi tindakan itu justru mempertegas kegagalan kolonial untuk memadamkan ingatan.

Warisan Surapati tidak berhenti pada kematiannya. Anak cucu dan pengikutnya meneruskan kekuasaan di wilayah timur Jawa, menjadikan daerah seperti Lumajang dan Malang sebagai ruang resistensi struktural terhadap Kompeni. Raden Kartanagara, Bupati Lumajang, disebut dalam arsip VOC sebagai cucu langsung Surapati, bahkan dicatat mewarisi keris pusaka sang kakek yang kelak akan dihunus kembali melawan Belanda. 

Dengan demikian, Surapati bukan hanya tokoh perlawanan personal, melainkan pendiri sebuah tradisi politik berdarah yang menjadikan perlawanan sebagai warisan keluarga dan wilayah.

Dalam sejarah Jawa abad ke 17 hingga awal abad ke 18, Surapati berdiri sebagai cermin kegagalan kolonialisme awal. VOC mampu membeli perjanjian, menguasai pelabuhan, dan menundukkan raja, tetapi tidak pernah sepenuhnya menguasai ingatan dan loyalitas rakyat. Dari budak Bali hingga Adipati Wiranegara, dari Kartasura hingga Pasuruan, perjalanan Surapati menunjukkan bahwa kekuasaan kolonial selalu memiliki celah, dan dari celah itulah lahir perlawanan yang diwariskan lintas generasi.

Selain Kartanagara, tokoh-tokoh lain seperti Malayakusuma (bupati Malang), Kartayuda (Panayungan), Natayuda (Porong), dan Mas Pangulu (Malang) menunjukkan eksistensi nyata jaringan kekuasaan keturunan Surapati. Mereka membentuk semacam konfederasi tidak formal yang berlandaskan hubungan darah, loyalitas, dan dendam sejarah terhadap VOC.

Surapati

Strategi Diplomasi: Janji Damai dan Ketegangan yang Mendidih

Sebelum ekspedisi militer diluncurkan, VOC tidak serta-merta memilih jalur kekerasan. Diplomasi menjadi jalan pertama, terutama melalui pendekatan pada Kartanagara. Dalam surat yang disampaikan oleh Ngabehi Puspakusuma dari Banger pada Maret 1767, VOC berusaha membujuk Kartanagara agar tunduk dan mengirim upeti sebagai tanda persahabatan. Sebagai jaminan, Gubernur Semarang bahkan menyatakan siap "melupakan masa lalu dan memberi ampunan atas pelanggaran moyangnya."

Namun Kartanagara membalas dengan tegas: "Aku tidak bisa melakukannya karena Allah tidak menghendaki hal itu." Kalimat ini bukan sekadar penolakan politis, tetapi menunjukkan adanya dimensi spiritual dalam perlawanan Kartanagara. Seolah-olah perjuangannya telah memperoleh legitimasi ilahiah.

VOC menanggapi penolakan ini dengan surat ancaman. Kartanagara menjawab dengan retorika tajam: keris pusaka dari Surapati telah diasah dan siap menembus dada Kompeni. Ini adalah simbol bahwa perang bukan hanya tak terhindarkan, melainkan telah menjadi takdir historis bagi keturunan Surapati.

Kartanagara

Dari Kata ke Peluru: Meletusnya Konflik Militer

Dengan berakhirnya diplomasi, VOC memutuskan mengerahkan kekuatan militer untuk menaklukkan Lumajang. Kartanagara, yang telah lama memprediksi agresi ini, mempersiapkan perlawanan dengan membangun barikade, jebakan, dan menyerang pos-pos Belanda, termasuk pos terdepan Adiraga.

Dalam laporan Mantri Wiralaksana, disebutkan bahwa Kartanagara secara aktif mengatur patroli dan menyiagakan prajuritnya di sepanjang jalur Banger-Lumajang. Akan tetapi, kekuatan militer VOC, diperkuat pasukan dari Surabaya dan Madura, terlalu besar. Mereka mengepung wilayah itu dari berbagai arah. Sang Gubernur memerintahkan penangkapan Kartanagara "hidup atau mati."

Lumajang

Situasi menjadi lebih kompleks ketika muncul dilema moral dan politik dalam lingkaran keluarga Surapati. Malayakusuma, anak Kartanagara sekaligus bupati Malang, mencoba menyelamatkan ayahnya dengan jalur diplomasi baru. Ia mengutus menantunya, Nitinagara, bupati Pasuruan, untuk bernegosiasi dengan Gezaghebber Surabaya, Coop à Groen.

Baca Juga : Panduan Menyusun Target Kerja Awal Tahun Supaya Tidak Gagal di Tengah Jalan

Namun, Nitinagara menghadapi tekanan diplomatik dari kedua sisi. Di satu sisi, ia terikat sebagai menantu; di sisi lain, ia telah menjadi sekutu VOC. Gubernur Semarang pun memberi jalan keluar dengan mendorong Nitinagara untuk "berdalih takut menyampaikan permintaan Malayakusuma," sembari menegaskan bahwa serangan ke Lumajang adalah keputusan final yang tak dapat ditawar.

Dalam suratnya kepada Nitinagara, Malayakusuma tetap bersikeras membujuk ayahnya menghentikan perlawanan dan berjanji akan mengirim upeti kayu atau daun sebagai tanda tunduk. Tapi semua sudah terlambat. Kompeni tidak bergeming. Diplomasi patah.

Bupati Malang

Kejatuhan Lumajang dan Pengasingan Berdarah

Ketika pasukan VOC menyerbu Lumajang pada akhir Juni 1767, mereka tidak menemukan perlawanan berarti. Kartanagara dan para pengikutnya telah melarikan diri atau menyerah. Sekitar 60 orang menyerah di lereng Gunung Semeru. Kartayuda, Natayuda, dan seorang Bali bernama Wayan Kutang mundur ke Malang.

Lumajang jatuh dan di bawah kendali Kompeni. Pos militer didirikan, lengkap dengan pasukan Eropa dan lokal. Kartanagara yang telah tua dan sakit, akhirnya meninggal di Malang tak lama setelah kekalahan itu dan dikubur di selatan kota.

Tahun 1768 menjadi tahun penangkapan besar-besaran atas keturunan dan pengikut Surapati. Natapura, anak Kartanagara, ditangkap bersama empat istrinya, tujuh budak, dan beberapa anggota keluarga. Mereka dikirim ke Batavia. Putranya, Tirtakusuma, menyusul dengan kapal Vreijheid. Cucu-cucu Surapati, termasuk Luncup dan Sabya, ditahan dan diasingkan ke Banda.

Perang

Kisah Kartanagara tidak hanya berkisar pada urusan kekuasaan lokal atau pemberontakan regional. Ia berada pada simpul pertemuan antara ideologi perlawanan anti-kolonial, spiritualitas yang memaknai kehendak Tuhan sebagai legitimasi politik, dan dendam sejarah yang berakar sejak kematian Komisioner Tack oleh Surapati.

Dalam suratnya, Kartanagara tidak menyatakan tunduk karena "Allah tidak menghendaki hal itu." Ini menunjukkan bahwa perlawanan yang ia lakukan tidak sekadar bersandar pada motif duniawi, tetapi memiliki makna kosmis. Bahwa penaklukan atas Surapati belum selesai, dan bahwa darah yang diwariskan harus ditebus dengan perlawanan.

Kejatuhan Lumajang dan pengasingan besar-besaran tahun 1768 menandai akhir dari pengaruh nyata keturunan Surapati di wilayah timur Mataram. Kartanagara wafat tanpa kejayaan, namun meninggalkan narasi tentang harga yang harus dibayar untuk mempertahankan kehormatan leluhur.

Di atas kertas arsip VOC, mereka hanya menjadi nama-nama tahanan yang dikirim ke Batavia atau Banda. Tapi di balik nama-nama itu, mengalir darah perlawanan, keyakinan akan kehendak ilahi, dan jejak luka dari kolonialisme yang mengakar dalam tubuh politik Nusantara.

Pengasingan

Catatan Akhir: Keturunan yang Disingkirkan

Kisah Raden Kartanagara memperlihatkan bahwa kolonialisme VOC tidak hanya bekerja melalui meriam dan perjanjian, tetapi juga lewat pemutusan silsilah, pembuangan keluarga, dan penghapusan memori politik. Kekalahan Lumajang pada 1767–1768 bukan sekadar runtuhnya satu wilayah, melainkan penutup paksa atas tradisi perlawanan yang diwariskan sejak Untung Surapati pada akhir abad ke 17.

Dalam arsip VOC, Kartanagara dan keluarganya dicatat sebagai tahanan, buronan, serta nama nama yang harus disingkirkan demi stabilitas kolonial. Namun dalam ingatan sejarah lokal Jawa Timur, mereka adalah bagian dari narasi panjang tentang kehormatan, kesetiaan, dan penolakan terhadap dominasi asing. Di titik inilah arsip kolonial dan memori rakyat berpisah jalan. Yang satu mencatat penertiban, yang lain menyimpan luka dan perlawanan.

Tragedi itu tidak berhenti pada Kartanagara. Nasib anaknya, Raden Adipati Malayakusuma, justru menyingkap wajah kolonialisme yang lebih telanjang. Setelah mempertahankan Malang sebagai benteng terakhir keturunan Surapati, Malayakusuma dikejar, ditangkap, dan akhirnya dibunuh tanpa pengadilan. 

Tubuhnya dilemparkan ke Laut Selatan, sementara anak anaknya yang masih kecil dihabisi, dan para perempuan keluarganya dikirim sebagai tahanan. Ini bukan sekadar tindakan militer, melainkan upaya sadar untuk memutus satu garis darah perlawanan sampai ke akarnya.

Sejarah mungkin mencatat Kartanagara dan Malayakusuma sebagai bupati dan raja yang kalah. Namun justru melalui kekalahan itulah cara kerja kekuasaan kolonial tersingkap dengan jelas, beserta harga yang harus dibayar oleh mereka yang memilih setia pada warisan leluhur. 

Dalam arti itu, Kartanagara dan Malayakusuma tidak sepenuhnya gugur. Mereka hadir sebagai pengingat bahwa perlawanan tidak selalu berakhir dengan kemenangan, tetapi selalu meninggalkan makna, dan bahwa ingatan rakyat kerap bertahan lebih lama daripada arsip kekuasaan.


Topik

Serba Serbi untung surapati raden kartanagara voc sejarah jawa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana