JATIMTIMES - Upaya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menemukan kasus tuberkulosis (TBC) terus digenjot. Namun, di balik agresifnya pelacakan penderita, masih ada pekerjaan rumah dalam memastikan pasien benar-benar sembuh.
Data Dinkes menunjukkan tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Kota Malang pada 2025 baru mencapai 85 persen. Artinya, masih ada sekitar 15 persen pasien yang belum masuk kategori berhasil dalam pengobatan.
Baca Juga : Indeks Ketimpangan Gender Kota Batu Menurun, Keterwakilan Perempuan di Gedung Dewan Stagnan
Angka tersebut bahkan masih berada di bawah capaian nasional yang mencapai 90 persen. Kondisi ini membuat Dinkes menargetkan keberhasilan pengobatan Kota Malang naik menjadi 90 persen pada 2026.
Kepala Dinkes Kota Malang Husnul Muarif mengatakan peningkatan keberhasilan pengobatan menjadi salah satu fokus penanganan TBC tahun ini. “Yang 85 persen ini nanti bagaimana bisa menjadi 90 persen sebagai angka standar keberhasilan pengobatan di Kota Malang,” kata Husnul.
Namun, capaian 2026 belum bisa dinilai sekarang. Sebab, pengobatan TBC membutuhkan waktu paling cepat enam bulan sehingga pasien yang ditemukan pada awal tahun baru dapat dievaluasi beberapa bulan kemudian.
“Kalau penemuannya Januari, nanti baru bisa kita evaluasi akhir Juli atau awal Agustus. Itu untuk keberhasilan ataupun pengobatannya,” jelasnya.
Di sisi lain, Dinkes menyebut penemuan kasus TBC di Kota Malang tergolong tinggi. Dari kelompok masyarakat yang diduga memiliki gejala TBC, sekitar 200 orang telah terdeteksi positif. Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam decision support system milik Dinkes. Sistem itu memungkinkan pemerintah memetakan kasus hingga tingkat kelurahan.
Husnul mencontohkan Kelurahan Purwantoro. Dari 302 orang yang masuk kategori terduga TBC, sebanyak 26 orang terdeteksi positif. “Diklik lagi, ternyata dari persentase itu masih tergolong tingkat penularannya rendah untuk Kelurahan Purwantoro,” ujarnya.
Persoalannya, keberhasilan penanganan TBC tidak berhenti pada kemampuan menemukan penderita. Setelah diagnosis ditegakkan, tantangan berikutnya adalah memastikan pasien patuh menjalani pengobatan hingga selesai.
Karena itu, Dinkes kini memperluas skrining melalui portable X-ray. Sebanyak 153 titik ditargetkan menjadi lokasi pemeriksaan pada Agustus hingga Oktober 2026. Kota Malang saat ini baru memiliki satu unit portable X-ray. Kementerian Kesehatan disebut akan membantu menambah satu unit untuk mengejar target skrining tersebut.
Baca Juga : Pemkab Malang Perkuat Sinergi Lintas Sektor Percepat Eliminasi TBC
Setiap titik ditargetkan menjangkau sekitar 100 orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC, terutama anggota keluarga dalam satu rumah. Jika seluruh target tercapai, sedikitnya 15.300 orang berpotensi menjadi sasaran skrining.
Dinkes juga mengandalkan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mempercepat pemeriksaan. Namun, fasilitas tersebut belum tersedia di seluruh puskesmas sehingga layanan dibagi dalam lima regional.
Husnul mengakui masih ada sarana dan prasarana yang perlu diperkuat untuk meningkatkan layanan TBC. Kebutuhan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Kesehatan.
Dengan target penemuan yang semakin agresif, Dinkes kini menghadapi tantangan yang lebih mendasar. Bukan sekadar berapa banyak kasus TBC yang berhasil ditemukan, tetapi berapa banyak pasien yang benar-benar berhasil dituntaskan pengobatannya.
Sebab, keberhasilan menemukan penderita akan kehilangan makna jika sebagian pasien justru gagal menyelesaikan pengobatan. Terlebih, capaian Kota Malang pada 2025 masih tertinggal lima poin dari standar keberhasilan pengobatan nasional
