JATIMTIMES - Di tengah perdebatan yang kerap mempertentangkan ilmu agama dan sains, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang justru membangun identitas akademiknya di atas gagasan penyatuan keduanya. Gagasan itu diwujudkan dalam sebuah filosofi yang hingga kini menjadi ruh pengembangan kampus, yakni Pohon Ilmu.
Bagi UIN Maliki Malang, Pohon Ilmu bukan sekadar simbol yang terpampang di berbagai sudut kampus. Filosofi tersebut menjadi kerangka berpikir yang menuntun arah pendidikan, penelitian, dan pengembangan keilmuan. Melalui konsep itu, kampus berupaya melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki landasan spiritual yang kuat.
Baca Juga : Harlah Bung Karno ke-125, Wali Kota Blitar: Bung Karno Berkah bagi Bangsa Indonesia
Mantan Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, menjelaskan bahwa lahirnya konsep Pohon Ilmu berawal dari momentum penting ketika institusi tersebut bertransformasi dari institut menjadi universitas pada 2002. Perubahan status itu menghadirkan tantangan baru karena kampus mulai membuka berbagai program studi umum di luar bidang keislaman.
Saat itu, muncul pertanyaan dari banyak pihak mengenai bagaimana posisi agama di tengah berkembangnya disiplin ilmu seperti ekonomi, psikologi, kedokteran, teknologi, dan berbagai bidang keilmuan lainnya.
“Banyak yang bertanya, kalau menjadi universitas nanti di mana letak agama? Dari situlah konsep Pohon Ilmu dibuat untuk menjelaskan bahwa agama dan sains harus berjalan bersama,” ujar Prof. Imam.
Melalui filosofi tersebut, seluruh proses pendidikan diibaratkan sebagai sebuah pohon yang tumbuh secara utuh. Bagian akar menjadi fondasi yang harus dimiliki setiap mahasiswa sebelum memasuki pengembangan disiplin ilmu yang lebih spesifik. Fondasi itu mencakup penguasaan bahasa Arab, bahasa Inggris, filsafat, serta wawasan kebangsaan.
Menurut Prof. Imam, kemampuan dasar tersebut merupakan prasyarat penting agar mahasiswa mampu memahami berbagai sumber ilmu pengetahuan sekaligus memiliki cara pandang yang luas terhadap perkembangan dunia.
Dari akar yang kuat itulah tumbuh batang pohon yang melambangkan agama. Dalam konsep UIN Maliki Malang, agama tidak ditempatkan sebagai pelengkap ataupun sekadar mata kuliah wajib, melainkan menjadi pusat orientasi seluruh proses pendidikan. Nilai-nilai keislaman menjadi landasan yang menuntun pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tetap memiliki arah moral yang jelas.
Karena itu, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki identitas sebagai muslim, tetapi juga memahami substansi ajaran agama secara mendalam sehingga mampu menjadikannya sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan berkarya.
“Mahasiswa UIN harus memahami agamanya dengan baik, sekaligus mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Prof. Imam.
Sementara itu, cabang dan ranting pohon menggambarkan keragaman disiplin ilmu yang berkembang di lingkungan kampus. Mulai dari ekonomi, pendidikan, psikologi, teknologi, kedokteran, hingga ilmu sosial dan humaniora dipandang sebagai bagian dari satu kesatuan yang tumbuh dari akar dan batang yang sama.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Minggu Kliwon 7 Juni 2026: Awas Mudah Tersinggung
Pandangan tersebut menegaskan bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Keduanya saling melengkapi dan berkontribusi dalam membentuk pemahaman yang utuh terhadap kehidupan. Dengan pendekatan ini, pengembangan sains tidak berjalan tanpa arah, sementara pemahaman agama tidak berhenti pada aspek normatif semata.
Tujuan akhir dari keseluruhan proses pendidikan itu digambarkan melalui buah yang dihasilkan pohon. Buah tersebut adalah lahirnya insan Ulul Albab, sosok yang menjadi cita-cita utama pendidikan UIN Malang.
Konsep Ulul Albab merujuk pada pribadi yang mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan kematangan moral dalam kehidupan sehari-hari. Lulusan tidak hanya dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja sebagai tenaga profesional, tetapi juga diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
“Lulusan kampus ini harus memiliki pikiran cerdas, hati yang lembut, dan mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tutur Prof. Imam.
Lebih dari dua dekade setelah diperkenalkan, filosofi Pohon Ilmu tetap menjadi identitas yang membedakan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari banyak perguruan tinggi lainnya. Di tengah derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, konsep tersebut terus mengingatkan bahwa kemajuan akademik tidak harus mengorbankan nilai-nilai spiritual.
Sebaliknya, agama dan sains dapat berjalan beriringan untuk melahirkan generasi yang kompeten, berintegritas, dan memiliki kepekaan sosial. Melalui filosofi inilah UIN Malang berupaya menjaga warisan pemikiran integrasi ilmu dan agama sebagai fondasi dalam menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
