Candi Borobudur yang dibangun sekitar tahun 800 Masehi di masa puncak kejayaan Wangsa Syailendra serta diperkirakan menghabiskan waktu 75-100 tahun lebih ternyata pernah membuat jatuh hati dua tokoh besar dunia di masanya.
Pertama, seorang pujangga besar dari India bernama Rabindranath Tagore (1861-1941). Kedua adalah sang legenda revolusi kelahiran Argentina bernama Ernesto Guevara atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Che Guevara (1928-1967).
Dua manusia besar dengan sepak terjangnya yang berbeda tersebut sempat mencicipi megahnya Candi Borobudur. Mereka terpesona dengan gaya dan karakternya yang berbeda-beda. Tagore yang penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan asal tanah Bengali, Kolkata, India, itu takjub. Dan lahirlah karya puisinya yang berjudul 'Kepada Tanah Jawa'. Puisi itu adalah bukti kekaguman Tagore kepada kemegahan dan nilai magis Borobudur.
"Dalam zaman yang kalem, yang jauh, yang tidak tertulis/kita bersua, engkau dan aku/dan dalam perkataanku terjalin dalam perkataanmu/dan jiwaku dalam jiwamu.
Angin timur membawa seruanmu yang merdu/melalui jalan angkasa yang tidak terlihat/jauh, ke tempat matahari menyinari pesisir/yang dipayungi daun-daun kelapa. Seruan itu bersatu dengan bunyi sangkala/yang ditiup ketika sembahyang/dalam candi di tepi Gangga keramat.
Dewa Wisnu yang mulia raya bersabda kepadaku/dan Uma, dewi berlengan sepuluh, demikian pula;
“Sediakanlah kapak dan bawalah menyebrangi laut yang asing, sekalian ucapkan menyembah kami”/Sungai Gangga mengulurkan tangannya ke lautan timur/dalam gelombang amat dahsyat/dari langit bersabdah dua suara yang kuasa kepadaku- yang satu/yang menyanyikan keindahan sengsara Rama,/yang lain menyanyikan kemenangan Arjun.
Mendesak daku membawa kakawinnya meyebrangi laut/ke pulau-pulau timur.

Pagi hari datang; kapalku menari di gelombang biru tua/layarnya yang putih kembang gagah di tiup angin/ia mencium pesisirmu, langit gemetar dan selubung hijau dewi rimbamu/pun bergerak, kita bersua dalam bayang-bayang senjakala,/ketika malam sunyi-senyap, malam menjadi muram; siang hari menebarkan emasnya di jalan —tempat kita bersua/jalan jiwa kita berdua menempuh jaman bersama-sama,
dari abad ke abad, antara impian yang gilang-gemilang yang tidak terbilang.
zaman pun silam, malam yang gelap menutupi kita/kita tidak kenal mengenal lagi/tempat kita duduk hilang lenyap, tertimbun abu roda kereta.
Dan aku dihanyutkan pasang surut kelupaan/kembali ke pesisirku sendiri yang sunyi/senyap-tanganku hampa dan semangatku kosong/laut di rumahku jadi bisu, tidak menceritakan pertemuan kita yang disaksikannya itu,/dan sungai Gangga yang gemar bicara itu/tidak memberitahukan kepadaku di mana jalan yang tersembunyi/dan yang jauh, ke tempatnya yang lain, yang keramat.
Saya datang kepadamu, memandang matamu/dan seperti melihat cerlang gaib yang kemilau/ketika kita bersua pertama kalinya dalam hutanmu, cerlang suka cita raya.
ketika kita saling mengikat pergelangan dengan benang merah persaudaraan./Alam tua itu telah muram,/akan tetapi belum lepas dari tanganmu. Di jalan yang kita tempuh dahulu/masih tersebar bekas perkataanku,/sehingga aku mendapat jalan lagi ke dalam jantung hatimu,/tempat sinar masih bercahaya, /sinar kita nyalakan bersama-sama,/pada malam pertemuan dahulu kala.
Ingatlah aku sebagaimana aku mengingat wajahmu/dan lihatlah padaku sekalian yang telah silam/akan tetapi yang harus kita hidupkan kembali nan kita perbaru (alih bahasa K.R.T. Suryanto Sastroatmodjo).
Begitulah Tagore pada tahun 1927 menuliskan ketakjubannya kepada Jawa yang dihuni candi terbesar dan pusat ibadah pemeluk Buddha dunia itu. Jejak Tagore di Candi Borobudur diperkuat oleh pemerintah India yang mempersembahkan patung perunggu dada Rabindranath Tagore untuk ditempatkan di kawasan suci tersebut, November 2012. Patung setinggi 55 sentimeter dengan alas setinggi 150 sentimeter kini disimpan dalam Museum Arkeologi Candi Borobudur.
Lantas bagaimana dengan sang revolusioner Che Guevara terkait jejaknya di Candi Borobudur?
Dari berbagai foto dokumentasi, Che Guevara pada tahun 1959 sempat mengabadikan kemegahan Candi Borobudur.
Che dikenal juga sebagai seseorang yang mahir memotret. Bahkan kerap dalam berbagai lawatannya, Che selalu mengabadikan berbagai momen dalam kameranya. Tak terkecuali Candi Borobudur.
Saat itu, Che diajak Presiden Soekarno mengunjungi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Di sela kunjungan itu, Che mengambil kesempatan untuk memotret bangunan bersejarah warisan peradaban leluhur Indonesia itu. Dirinya pun berpose dengan sejawatnya dengan latar Candi Borobudur. (*)
