JATIMTIMES - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menguatkan peran Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026. Sebanyak 500 mahasiswa diterjunkan ke 15 titik lokasi KKN yang tersebar di sejumlah wilayah, terdiri dari 10 KKN reguler dan 5 KKN tematik.
Salah satu lokasi strategis yang menjadi fokus KKN tematik adalah Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang. Kawasan ini dipilih sebagai lokus revitalisasi budaya berbasis digital yang mengintegrasikan pelestarian tradisi dengan pemanfaatan teknologi.
Kehadiran mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen disambut langsung oleh penggagas kampung budaya, Isa Wahyudi atau Ki Demang, bersama para pelaku seni dan budaya Kota Malang.
Sejumlah tokoh budaya turut hadir, di antaranya dalang Wayang Suket Syamsul Subakri atau Mbah Karjo, Ketua Umum Perempuan Bersanggul Nusantara Sany Repriandini, pegiat Upcycle Art Suli Sulaihah, serta sejarawan Malang Arik Susilowaty.
Dosen pendamping KKN Kelompok 14 Kampung Budaya Polowijen, Dr. Daroe Iswatiningsih, menjelaskan bahwa fokus utama pengabdian masyarakat kali ini adalah transformasi nilai-nilai budaya lokal melalui media seni dan teknologi digital. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen memiliki kekayaan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kampung Budaya Polowijen menyimpan beragam ekspresi seni, mulai dari topeng, tari tradisional, batik, gerabah, wayang, anyaman, pawon, hingga tradisi lisan. Kekayaan ini sangat memungkinkan untuk didigitalisasikan agar transformasi budaya tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi mampu menjangkau ruang global,” ujar Daroe, yang juga menjabat Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM.
Melalui KKN Tematik ini, program pengabdian yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga penguatan kemandirian sosial, ekonomi, lingkungan, serta kesehatan masyarakat.
Tradisi lokal seperti Megengan, Nyadran, budaya Patrol, hingga festival seni kembali dihidupkan sebagai ruang spiritual, ekspresi budaya, sekaligus sarana regenerasi pelaku seni lintas generasi.
Di sisi lain, transformasi digital menjadi elemen penting dalam pelaksanaan KKN. Mahasiswa terlibat dalam digitalisasi aset budaya melalui katalog berbasis barcode, penguatan publikasi media sosial, pengembangan storytelling budaya, produksi podcast, hingga penyusunan e-book sebagai arsip pengetahuan dan media edukasi digital.
Baca Juga : Parkir Kayutangan Tak Kaku, Dishub Malang Buka Opsi Khusus Ojol
Upaya ini diharapkan mampu memperluas promosi Kampung Budaya Polowijen hingga tingkat nasional bahkan global. Aspek penguatan ekonomi kreatif dan kepedulian lingkungan juga mendapat perhatian khusus.
Warga didorong mengolah limbah melalui konsep upcycle yang dikemas dengan identitas Kampung Budaya Polowijen. Selain itu, urban farming berbasis tanaman obat dan jamu dikembangkan untuk menghasilkan produk ramah lingkungan bernilai ekonomi. Program literasi, perbaikan infrastruktur kampung, aksi sosial, serta pendampingan Posyandu balita dan lansia turut melengkapi rangkaian kegiatan.
Ki Demang berharap kolaborasi antara UMM dan masyarakat Kampung Budaya Polowijen dapat menjadi jembatan kuat dalam upaya revitalisasi budaya lokal yang berakar pada tradisi, namun tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Mahasiswa tidak hanya datang menjalankan program, tetapi menjadi mitra masyarakat dalam merawat, mengembangkan, dan mempromosikan budaya lokal. Inilah bentuk pengabdian yang berdampak dan berkelanjutan,” tegasnya.
Melalui pendekatan multidimensi tersebut, Kampung Budaya Polowijen kian menegaskan diri sebagai ruang hidup kebudayaan yang berdaya, berkelanjutan, dan mampu beradaptasi di era digital tanpa kehilangan akar tradisi yang menjadi identitas utamanya.
