Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Inflasi Jawa Timur Juni 2026 Naik 3,36 Persen, Sumenep Tertinggi, Ini Penyebabnya

Penulis : Irsya Richa - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

02 - Jul - 2026, 16:00

Placeholder
Infografis Perkembangan Indeks Harga Konsumen Provinsi Jawa Timur, Juni 2026. (Foto: BPS Jatim)

JATIMTIMES - Laju inflasi di Jawa Timur terus merangkak naik. Pada Juni 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat inflasi tahunan mencapai 3,36 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga dipicu oleh sejumlah komoditas, mulai dari emas perhiasan, angkutan udara, bensin, hingga beras, yang berdampak pada meningkatnya biaya hidup masyarakat.

Berdasarkan data BPS, inflasi tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,17. Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) tercatat 0,30 persen, sedangkan inflasi sejak awal tahun (year to date/y-to-d) mencapai 1,74 persen.

Baca Juga : Terusir dari Rumah karena Problem Catatan Sipil, Penjual Rujak Ini Kasusnya Dibuka Kembali oleh Polda Jatim

Dari 11 kabupaten/kota yang menjadi lokasi penghitungan IHK di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, yakni 4,48 persen dengan IHK 116,19. Sebaliknya, Kabupaten Tulungagung mencatat inflasi terendah sebesar 2,57 persen dengan IHK 112,34.

“Seluruh kabupaten dan kota yang menjadi sampel penghitungan IHK mengalami inflasi,” kata Pelaksana Tugas Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan inflasi dipengaruhi oleh meningkatnya harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. Secara rinci, kelompok transportasi menjadi salah satu penyumbang kenaikan harga terbesar dengan inflasi mencapai 5,87 persen. Kenaikan ini dipicu meningkatnya tarif angkutan udara dan harga bahan bakar.

Kemudian kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi secara persentase, yakni 10,34 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi cukup besar sebesar 4,01 persen, disusul kelompok kesehatan sebesar 2,13 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,20 persen, serta pendidikan sebesar 1,92 persen.

Kelompok lainnya yang mengalami kenaikan harga antara lain pakaian dan alas kaki sebesar 0,49 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,05 persen, perlengkapan rumah tangga sebesar 1,06 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,58 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,54 persen.

Dari sisi penyumbang inflasi, emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan. Selain itu, kenaikan harga angkutan udara, bensin, beras, minyak goreng, daging sapi, cabai rawit, bawang merah, Sigaret Kretek Mesin (SKM), daging ayam ras, laptop atau notebook, nasi dengan lauk, dan mobil.

“Lalu ada cabai merah, air kemasan, tahu mentah, sepeda motor, telepon seluler, biaya akademi atau perguruan tinggi, hingga bahan bakar rumah tangga juga ikut mendorong inflasi,” imbuhnya.

Baca Juga : Cek Kesehatan Gratis Driver Ojol Perempuan, Polresta Malang Kota Temukan Enam Peserta ada Indikasi

Sebaliknya, sejumlah komoditas masih memberikan andil terhadap penurunan inflasi tahunan atau deflasi, di antaranya telur ayam ras, kelapa, tomat, sawi hijau, dan kacang panjang.

Untuk inflasi bulanan pada Juni 2026, kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh bensin, angkutan udara, bawang merah, bawang putih, beras, daging sapi, wortel, dan emas perhiasan. Sementara komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, sawi hijau, telur ayam ras, udang basah, cabai merah, dan bayam justru menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga.

Jika dilihat dari kontribusi terhadap inflasi tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya serta transportasi menjadi penyumbang terbesar, masing-masing memberikan andil 0,73 persen dan 0,72 persen. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,10 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,24 persen, pendidikan sebesar 0,14 persen, serta kelompok lainnya dengan kontribusi yang lebih kecil.

Herum menambahkan, dibandingkan dua tahun terakhir, tingkat inflasi Jawa Timur pada Juni 2026 memang mengalami peningkatan. Pada Juni 2025 inflasi tahunan tercatat 2,02 persen, sedangkan pada Juni 2024 sebesar 2,21 persen.

“Pergerakan harga pada sejumlah komoditas strategis masih menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi di Jawa Timur. Pemantauan terhadap pasokan dan distribusi barang kebutuhan masyarakat tetap menjadi hal penting agar stabilitas harga dapat terus terjaga,” tutup Herum.


Topik

Ekonomi Inflasi Jawa Timur BPS Jatim



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Sri Kurnia Mahiruni