Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Boncos Dihantam Kenaikan BBM dan Potongan Aplikator, Ojol Kota Batu Keluhkan Biaya Operasional Makin Mencekik

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Dede Nana

20 - Jun - 2026, 17:59

Placeholder
Ilustrasi ojol melayani pengambilan makanan di Kota Batu. Kenaikan harga BBM non subsidi turut berdampak pada operasional Ojol di Kota Batu dari segi biaya operasional.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Gelombang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diiringi lonjakan harga suku cadang memukul telak sektor transportasi online di Kota Batu hingga memicu penurunan pendapatan driver. Kondisi finansial yang kian terjepit ini diperparah oleh skema tarif dan fitur murah dari pihak aplikator yang dinilai memberatkan para pejuang aspal di lapangan.

Ketua Aliansi Ojol Bersatu (AOB) Kota Batu, Arif Kurniawan, mengungkapkan bahwa dampak kenaikan BBM telah merembet ke segala lini operasional, termasuk melonjaknya biaya perawatan berkala seperti penggantian oli mesin yang kini menembus Rp70 ribu hingga Rp75 ribu dari yang semula hanya Rp60 ribuan.

Baca Juga : DPRD Desak Pemkot Batu Segera Tindak Lanjuti Catatan Kritis BPK RI: Jangan Terlena Predikat Opini WTP

"Semua kena efeknya, mulai dari suku cadang (sparepart) sampai oli, semua naik. Semenjak kenaikan ini, sekitar 80 persen teman-teman driver kembali lagi mengonsumsi Pertalite," beber Arif Kurniawan, Sabtu (20/6/2026).

Padahal sebelum ada lonjakan harga, sekitar 50 persen driver ojol di Kota Batu mengandalkan BBM nonsubsidi jenis Pertamax demi menjaga performa mesin kendaraan mereka. Imbas migrasi ke bensin beroktan lebih rendah ini, para driver kini dihantui risiko penurunan performa mesin jangka panjang di tengah kewajiban servis rutin maksimal tiga minggu sekali.

Arif memberikan gambaran riil, dalam sehari seorang driver umumnya mampu mendapatkan 15 hingga 20 tarikan pesanan dengan komisi rata-rata Rp6,5 ribu per penumpang, atau setara dengan pendapatan kotor sebesar Rp130 ribu.

Namun, angka pendapatan kotor tersebut harus langsung tergerus biaya pembelian BBM yang mencapai Rp70 ribu untuk pengisian penuh (full tank) per harinya. Alhasil, uang yang dibawa pulang ke rumah untuk keperluan makan dan keluarga hanya tersisa berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 saja per hari.

"Kira-kira pendapatan bersih driver turun sampai 30 persen," ungkapnya.

Kondisi sisa pendapatan yang minim tersebut kian diperparah oleh belum berjalannya regulasi potongan komisi yang ideal dari pihak perusahaan aplikasi.

"Kita sudah dipotong komisi 20 persen, lalu harus terbebani lagi untuk fitur hemat itu. Jadi kesannya ada potongan ganda yang harus ditanggung driver," keluh Arif.

Baca Juga : Aliansi Banyuwangi Menggugat Tuntut Pemerintah Evaluasi Program MBG dan Koperasi Merah Putih

Sebagai bentuk pertahanan terakhir untuk menyiasati biaya operasional, para driver ojol di Kota Batu kini mulai bersikap pragmatis dan sangat selektif dalam menyaring orderan masuk. Pesanan dengan jarak penjemputan di atas dua kilometer kini kerap dibatalkan secara sepihak karena kalkulasi tarif yang dianggap merugikan, diikuti dengan perubahan strategi kerja.

"Mayoritas driver terpaksa narik lebih pagi hingga larut malam demi mengejar pasar anak sekolah dan pekerja," imbuh dia.


Topik

Peristiwa ojol ojol kota batu aliansi ojol bersatu bbm



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa