JATIMTIMES - Fenomena silent call atau panggilan tanpa suara belakangan makin sering dialami masyarakat. Modus ini bukan sekadar panggilan iseng, tetapi diduga menjadi salah satu pintu masuk kejahatan siber yang bisa berujung pada kerugian finansial, bahkan pengurasan rekening.
Dalam sebuah tayangan informasi yang beredar, disebutkan bahwa “silent call” merupakan pintu masuk kejahatan siber. Panggilan ini biasanya datang tanpa suara, lalu terputus dalam hitungan detik. Sekilas terlihat sepele, namun di balik itu terdapat potensi ancaman serius bagi keamanan data pribadi.
Baca Juga : Heboh Kabar Krakatau Osaka Steel Tutup hingga Lakukan PHK Massal, Ada Apa?
Melansir unggahan akun TikTok @peace&love, fenomena ini semakin meresahkan karena menjadi bagian dari modus penipuan digital yang terus berkembang. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa merespons panggilan tersebut justru bisa membuka celah bagi pelaku kejahatan.
Dosen Program Studi Ilmu Komputer IPB University, Heru Sukoco, mengingatkan masyarakat untuk tidak menanggapi panggilan semacam ini. Ia menegaskan langkah paling aman adalah mengabaikan panggilan tersebut.
“Jangan angkat, jangan telepon balik, blokir dan abaikan karena panggilan tersebut merupakan tahapan awal dari penipuan berbasis telepon,” ujarnya, dikutip dari laman resmi IPB University, Senin (4/5/2026).
Heru menjelaskan, silent call merupakan bagian dari metode social engineering atau rekayasa sosial. Pelaku memanfaatkan psikologi korban untuk memancing respons, seperti menelepon balik atau memberikan informasi tertentu.
Tujuan dari modus ini beragam. Mulai dari memastikan nomor aktif, menjebak korban agar melakukan call back, hingga mengumpulkan data untuk serangan lanjutan seperti pencurian OTP dan phishing. Bahkan, dalam beberapa kasus, korban bisa terhubung ke nomor premium berbiaya tinggi tanpa disadari.
Risiko dari panggilan ini tidak bisa dianggap remeh. Nomor yang merespons bisa masuk dalam daftar target penipuan berikutnya. Dari situ, pelaku dapat melancarkan berbagai skema penipuan yang lebih kompleks.
Untuk menghindari hal tersebut, masyarakat diimbau tidak mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal, terutama yang menggunakan kode luar negeri mencurigakan. Jika panggilan memang penting, biasanya penelepon akan menghubungi kembali atau mengirim pesan.
Baca Juga : BLT Kesra vs BLT Dana Desa, Apa Bedanya? Ini Pengertian, Besaran hingga Jadwal Pencairannya
Heru juga menekankan agar tidak pernah melakukan call back. Menurutnya, teknik ini dikenal sebagai missed call bait, yang kerap digunakan untuk menjebak korban.
Selain itu, penggunaan teknologi juga bisa membantu perlindungan tambahan. Misalnya dengan memasang aplikasi pendeteksi nomor spam, mengaktifkan fitur blokir otomatis, hingga menggunakan fitur bawaan ponsel seperti silence unknown callers.
Ia juga mengingatkan, jika panggilan terlanjur terangkat, hindari menjawab dengan kata “ya”. Suara tersebut bisa direkam dan disalahgunakan untuk berbagai kepentingan ilegal, termasuk manipulasi data pribadi seperti OTP, NIK, hingga informasi perbankan.
Lebih jauh, edukasi kepada keluarga juga menjadi hal penting, terutama bagi orang tua dan anak-anak yang rentan menjadi target. Masyarakat diminta untuk tidak panik dan tidak mudah percaya pada ancaman melalui telepon.
Secara keseluruhan, peningkatan literasi digital dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi modus penipuan seperti ini. Di sisi lain, peran operator dan kolaborasi lintas pihak juga dibutuhkan untuk memfilter serta menekan penyebaran panggilan mencurigakan.
