JATIMTIMES – Tingkat literasi digital generasi muda dinilai memiliki korelasi langsung terhadap kesehatan ruang demokrasi di Indonesia. Kemampuan dalam memilah dan memverifikasi informasi menjadi benteng utama masyarakat dalam menghadapi kompleksitas tantangan digital.
Sebab, tantangan tersebut kini mulai bergeser dari sekadar hoaks konvensional menuju konten berbasis kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Hal ini menjadi poin penting yang ditekankan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (Jatim) dari Fraksi PDI Perjuangan, Diana A.V. Sasa, dalam rangkaian sosialisasi literasi digital yang digelar di beberapa wilayah di Kabupaten Magetan.
Baca Juga : Perbaikan Jalan Gondanglegi-Balekambang 60 Persen, DPUBM Kabupaten Malang Usulkan Tambahan PJU
Sasa menegaskan bahwa semakin baik kemampuan pemuda dalam menyaring informasi, maka semakin sehat pula kualitas demokrasi yang terbentuk. Hal ini menjadi krusial mengingat ruang digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda saat ini, di mana arus informasi mengalir tanpa henti dan sering kali tanpa filter yang memadai.
"Ruang digital, khususnya media sosial, harus dimanfaatkan dengan bijak. Setiap informasi yang dibagikan perlu dipastikan terlebih dahulu kebenarannya agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan," ujar Diana A.V. Sasa belum lama ini.
Ia menyoroti bahwa tantangan di era digital saat ini terus berevolusi seiring kemajuan teknologi. Munculnya konten berbasis AI yang semakin sulit dibedakan dengan produk asli menjadi ancaman baru bagi kejernihan informasi di ruang publik.
Jika tidak diantisipasi dengan nalar kritis, lanjut Anggota Komisi D itu, teknologi ini berpotensi menjadi alat manipulasi opini publik yang dapat merusak tatanan sosial.
"Saat ini tantangan semakin kompleks. Tidak hanya hoaks, tetapi juga konten berbasis AI yang semakin sulit dibedakan dengan yang asli. Ini menjadi tantangan baru yang harus diwaspadai bersama," jelas sosok yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Magetan tersebut.
Sasa menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis mengoperasikan gawai, melainkan kemampuan kognitif untuk mengevaluasi pesan secara mendalam.
Baca Juga : Bupati Sanusi Terbitkan SE untuk Atur WFH ASN Setiap Hari Jumat, Wajib Foto Selfie Tiga Kali
Dalam konteks demokrasi, warga negara yang literat secara digital adalah mereka yang tidak mudah terprovokasi oleh kampanye hitam atau disinformasi yang dirancang khusus untuk memecah belah persepsi publik.
Sebagai langkah preventif, para pemuda diajak untuk selalu melakukan pengecekan ulang serta mencari sumber pembanding sebelum menyebarkan informasi ke ruang publik. Kesadaran untuk melakukan verifikasi mandiri dianggap sebagai aspek fundamental yang harus menjadi budaya baru di kalangan pengguna internet agar tidak terjebak dalam pusaran informasi palsu.
"Kesadaran untuk melakukan verifikasi sangat penting. Generasi muda harus kritis dan tidak mudah menerima begitu saja informasi yang belum teruji kebenarannya," tambahnya.
Melalui penguatan literasi ini, diharapkan para pemuda di Magetan, mampu berperan aktif sebagai garda terdepan dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat. Dengan pemuda yang cerdas bermedia sosial, fondasi demokrasi di tingkat daerah hingga nasional dapat terjaga dari distorsi informasi yang menyesatkan.
