Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Comboran Kota Malang, Dulu Tempat Istirahat Kusir Kini Jadi Pasar Barang Bekas

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

22 - Mar - 2026, 09:55

Placeholder
Pasar 'loak' Comboran, Kota Malang (foto: istimewa)

JATIMTIMES - Kawasan Comboran di Kota Malang saat ini dikenal sebagai pusat perdagangan barang bekas hingga barang antik yang ramai dikunjungi masyarakat. Namun di balik aktivitas ekonomi tersebut, nama Comboran ternyata memiliki jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan aktivitas transportasi dan perdagangan pada masa lampau.

Pemerhati sejarah Kota Malang Agung Buana menjelaskan bahwa penamaan Comboran memiliki kaitan erat dengan kebiasaan para kusir delman pada awal abad ke-20. Pada masa itu, kawasan sekitar Stasiun Jagalan menjadi tempat singgah para kusir yang membawa hasil bumi dari berbagai wilayah menuju pasar di Kota Malang.

Baca Juga : Pemkot Dorong Kurangi Penggunaan Kemasan Plastik, Bagaimana Respons Pedagang?

Agung mengatakan bahwa istilah Comboran berasal dari kata Jawa “nyombor”, yakni aktivitas memberi makan dan minum kuda menggunakan wadah tertentu.

“Comboran ini berasal dari kata combor atau nyombor. Nyombor itu artinya memberi minuman dan makanan pada kuda,” ujar Agung.

Menurutnya, aktivitas tersebut mulai muncul ketika Stasiun Trem Jagalan mulai beroperasi sekitar akhir abad ke-19. Pada masa itu, kendaraan yang ditarik kuda seperti dokar atau delman masih menjadi moda transportasi utama untuk mengangkut penumpang maupun barang.

Para kusir biasanya menunggu penumpang di sekitar stasiun setelah mengantarkan hasil bumi dari berbagai daerah di sekitar Malang. Sebagian besar kusir berasal dari wilayah luar kota sehingga memilih kawasan tersebut sebagai tempat beristirahat sementara.

“Kuda-kuda atau dokar itu berhentinya di dekat Pasar Jagalan dan stasiun. Para kusir berasal dari Kedungkandang, Bululawang, Tumpang, bahkan Kepanjen yang membawa hasil bumi ke pasar-pasar di Malang,” jelasnya.

Saat menunggu penumpang itulah para kusir biasanya memberi makan dan minum kuda yang mereka gunakan sebagai alat transportasi. Pakan dan minuman kuda biasanya ditempatkan di dalam gentong, tempayan atau wadah kayu yang diisi air, rumput dan dedak.

“Ketika menunggu penumpang, kusirnya memberi makan dan minum kuda. Biasanya menggunakan gentong, tempayan, atau wadah kayu yang diisi air, rumput, dan dedak,” tuturnya.

Aktivitas memberi makan kuda tersebut kemudian dikenal dengan istilah nyombor karena kuda meminum dan memakan pakan langsung dari wadah yang telah disediakan.

“Karena banyak orang yang nyombor di situ, lama-lama orang menyebut daerah itu Nyombor. Kemudian berubah menjadi Combor, dan akhirnya menjadi nama tempat, yaitu Comboran,” terang Agung.

Ia menambahkan, kebiasaan nyombor tersebut berlangsung cukup lama hingga sekitar tahun 1950-an. Aktivitas itu berakhir bersamaan dengan berhentinya operasional trem di Kota Malang pada masa tersebut.

“Nyombor ini bertahan sampai sekitar tahun 1950, karena trem di Malang juga berakhir pada masa itu,” tandasnya.

Selain dikenal sebagai tempat singgah para kusir, kawasan Comboran juga memiliki sejarah penting sebagai pusat perdagangan barang bekas di Kota Malang. Aktivitas tersebut mulai berkembang sejak masa pendudukan Jepang pada awal 1940-an.

Baca Juga : 7 Wisata Populer di Kota Batu yang Selalu Diserbu Saat Lebaran, Ada Jatim Park hingga Alun-alun Batu

Agung menyebutkan bahwa perdagangan barang bekas di kawasan Comboran mulai muncul sekitar tahun 1940-an, tepatnya setelah tentara Jepang masuk ke Malang pada 8 Maret 1942.

Pada masa itu, banyak warga Belanda yang tinggal di kawasan elite seperti Ijen, Kawi hingga kawasan Gunung-Gunung terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sebagian dari mereka mengungsi, sementara yang tidak sempat pergi ditangkap oleh tentara Jepang.

“Orang-orang Belanda yang rumahnya di Ijen, di Kawi, dan di Gunung-Gunung itu sebelum Jepang masuk banyak yang mengungsi. Kalau tidak sempat mengungsi, mereka ditangkap Jepang dan dimasukkan ke tempat penahanan yang disebut interniran,” ujar Agung.

Interniran merupakan tempat penahanan bagi warga sipil Belanda, terutama perempuan dan anak-anak, selama masa pendudukan Jepang. Sebelum pergi atau saat ditangkap, sebagian warga Belanda menitipkan rumah mereka kepada pembantu atau penjaga rumah.

Namun kondisi berubah ketika para penjaga rumah tersebut tidak lagi menerima gaji setelah majikan mereka ditahan atau meninggalkan Malang.

“Karena tidak digaji lagi dan tidak punya penghasilan, akhirnya para penjaga rumah itu menjual barang-barang yang ada di rumah Belanda, seperti piring, gelas, hingga perabot rumah tangga,” jelasnya.

Barang-barang tersebut kemudian dijual di kawasan Comboran yang saat itu mulai berkembang sebagai lokasi perdagangan tidak resmi atau pasar gelap. “Awalnya yang dijual hanya piring, gelas, dan peralatan rumah tangga. Lama-lama berkembang menjadi pakaian, meja, kursi, hingga berbagai barang lain,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas tersebut membentuk pasar barang bekas yang dikenal masyarakat hingga sekarang sebagai pasar loak atau pasar klitikan Comboran.

“Karena orang-orang menjual barang bekas di situ, akhirnya Comboran dikenal sebagai pasar klitikan atau pasar loak. Itu asal mula munculnya perdagangan barang bekas di kawasan tersebut,” pungkas Agung.


Topik

Serba Serbi Sejarah Kota Malang Comboran Kota Malang Tempat Istirahat Kusir Kuda Pasar Barang Bekas



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi