JATIMTIMES – Rentetan longsor di jalur Pacitan–Ponorogo serta Ponorogo–Trenggalek dalam sepekan terakhir kembali menegaskan tingginya kerentanan kawasan selatan Jawa Timur (Jatim) saat musim hujan. Ini menjadi perhatian serius bagi DPRD Jatim.
Legislatif menilai kejadian tersebut bukan sekadar bencana musiman, melainkan persoalan berulang yang memerlukan penanganan permanen, terlebih menjelang arus mudik Lebaran 2026.
Baca Juga : Setelah 4 Tahun Hiatus, BTS Comeback dengan Album ARIRANG Berisi 14 Lagu Baru
Anggota Komisi D DPRD Jatim Diana AV Sasa menyebut jalur selatan merupakan akses vital dengan kontur perbukitan dan tebing curam yang rawan longsor ketika intensitas hujan meningkat. Karena itu, langkah mitigasi tidak boleh menunggu lonjakan kendaraan.
“Jalur Pacitan–Ponorogo dan Ponorogo–Trenggalek adalah akses vital. Kita tidak bisa menunggu sampai arus kendaraan padat baru bergerak. Mitigasi harus dilakukan sekarang,” ujar Diana Sasa, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, pola longsor di kawasan tersebut hampir selalu muncul setiap musim hujan. Pendekatan penanganan, kata dia, tidak cukup hanya bersifat reaktif setelah material menutup badan jalan, melainkan harus berbasis evaluasi teknis menyeluruh.
Komisi D, lanjut Diana, akan meminta laporan komprehensif dari Dinas PU Bina Marga Jawa Timur terkait stabilitas struktur jalan dan tebing rawan. Evaluasi itu mencakup kebutuhan penguatan lereng permanen, perbaikan sistem drainase lereng, hingga pemasangan pelindung tebing di titik-titik kritis.
“Keselamatan pemudik harus menjadi prioritas. Longsor bukan hanya memutus akses, tapi juga berpotensi menimbulkan korban jika tidak diantisipasi,” tegas politisi PDIP tersebut.
Selain penguatan fisik infrastruktur, koordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Timur dinilai krusial untuk memastikan sistem peringatan dini dan pemantauan cuaca berjalan optimal, terutama menjelang puncak mobilitas masyarakat.
Diana juga mengingatkan perlunya perlindungan bagi warga yang tinggal di sekitar lereng atau radius bahaya longsor susulan. Opsi evakuasi sementara harus disiapkan apabila kondisi tanah dinilai belum stabil.
Baca Juga : ASDP Hentikan Lintas Jawa–Bali saat Nyepi, Skema Mudik Disiapkan
Sebagai legislator dari Dapil 7 Jatim yang meliputi Ngawi, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, dan Magetan, ia mendorong pemetaan detail zona rawan, pemasangan rambu peringatan tambahan, serta pembatasan kendaraan berat di titik tertentu hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman. Masyarakat pun diminta mematuhi imbauan pengalihan arus apabila diberlakukan.
“Keselamatan lebih penting daripada kecepatan sampai tujuan. Jika ada penutupan sementara, itu demi keamanan bersama,” katanya.
Menutup pernyataannya, Diana menekankan bahwa momentum menjelang mudik harus menjadi titik evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan infrastruktur di kawasan rawan longsor.
“Kita tidak ingin setiap musim hujan selalu dihadapkan pada situasi darurat yang sama. Infrastruktur di kawasan rawan harus dikelola dengan pendekatan jangka panjang agar mudik tahun ini aman, lancar, dan tanpa korban,” pungkasnya.
