Tradisi Mepasah di Desa Trunyan, Pemakaman Unik Tanpa Dikubur yang Bertahan 1.300 Tahun
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
01 - Aug - 2026, 04:15
JATIMTIMES - Di balik tenangnya Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, tersimpan sebuah tradisi pemakaman yang telah bertahan selama lebih dari 1.300 tahun. Berbeda dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya yang menguburkan atau mengkremasi jenazah, warga Desa Trunyan justru membiarkan jasad anggota keluarganya beristirahat di atas permukaan tanah dalam sebuah tradisi yang dikenal sebagai Mepasah.
Keunikan tradisi tersebut kembali menarik perhatian publik setelah dibagikan oleh konten kreator asal Bali, Lady Quinn, melalui video di media sosial. Dalam perjalanannya mengunjungi Desa Trunyan, ia memperlihatkan secara langsung suasana kompleks pemakaman yang hanya dapat diakses menggunakan perahu menyeberangi Danau Batur.
Baca Juga : 20 Ide Lomba 17 Agustus 2026 yang Unik dan Kekinian, Bukan Sekadar Balap Karung
“Ini adalah jenazah, hanya digeletakkan begitu saja di atas tanah, tidak dibakar dan tidak dikubur. Dan uniknya, tidak ada bau yang tercium di sini. Selamat datang di kuburan Trunyan,” kata Lady Quinn.
Lady Quinn mengaku pengalaman berdiri di tengah kompleks pemakaman menjadi salah satu momen paling membekas selama perjalanannya. Saat itu terdapat sebelas jenazah yang disemayamkan di bawah pohon Taru Menyan, termasuk satu jenazah yang baru berusia sekitar tujuh hari.
“Berdiri di antara 11 jenazah, di mana salah satunya baru berusia tujuh hari, merupakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kulupakan. Dikelilingi sisa-sisa mereka yang telah kembali menyatu dengan alam, membuat momen ini tergambar jelas di kepala aku selama beberapa hari ke depan,” imbuhnya.
Tradisi Mepasah merupakan warisan masyarakat Bali Aga yang masih dipertahankan hingga kini. Dalam tradisi tersebut, jenazah tidak dikuburkan maupun dibakar karena masyarakat Trunyan meyakini proses pembusukan alami di atas tanah merupakan bagian dari siklus kehidupan manusia sebelum kembali kepada Sang Pencipta.
Meski terdapat sejumlah jenazah yang tengah mengalami proses pembusukan, suasana di kompleks pemakaman justru jauh dari kesan menyeramkan. Hampir tidak tercium aroma menyengat, bahkan lalat, belatung maupun hewan buas nyaris tidak terlihat di lokasi.
Kepercayaan masyarakat setempat menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh keberadaan Pohon Taru Menyan, pohon yang diyakini telah berusia lebih dari 1.300 tahun. Nama Taru Menyan sendiri berasal dari kata taru yang berarti pohon dan menyan yang berarti harum.
“Dari foto yang pertama saya lihat, bentuk pohonnya memang sudah seperti ini. Menurut para tetua juga tidak ada perubahan. Taru berarti pohon, sedangkan menyan berarti harum. Wangi dari pohon inilah yang dipercaya mampu menetralisir aroma busuk yang seharusnya ada di kuburan ini,” tambah Lady Quinn.
Di kompleks pemakaman tersebut hanya tersedia sebelas tempat jenazah. Saat ada warga baru yang akan disemayamkan, jenazah yang paling lama akan dipindahkan ke sisi lain area pemakaman sehingga tulang-belulang maupun sisa jasad yang belum sepenuhnya terurai tetap berada di lokasi.
Baca Juga : Update Tarif Listrik PLN Agustus 2026, Cek Daftar Harga per kWh Terbaru
“Terdapat 11 tempat jenazah di kuburan ini. Artinya, jika ada jenazah baru yang datang, maka jenazah yang paling lama dipindahkan ke sisi lain. Itulah kenapa kita melihat banyak tulang-belulang atau sisa jenazah yang belum selesai terlebur berada di bawah sini,” ucapnya.
Tidak semua warga Desa Trunyan bisa dimakamkan di bawah Pohon Taru Menyan. Tradisi Mepasah hanya diperuntukkan bagi warga yang telah menikah, meninggal secara wajar, dan tidak memiliki luka terbuka pada tubuhnya.
Sementara itu, anak-anak maupun warga yang meninggal secara tidak wajar dimakamkan di lokasi berbeda. Kedua kompleks pemakaman tersebut tetap menggunakan metode yang sama, tetapi tidak memiliki Pohon Taru Menyan sehingga aroma jenazah masih dapat tercium oleh warga, bahkan dari kejauhan.
Bagi Lady Quinn, pengalaman menyaksikan langsung tradisi yang telah bertahan lebih dari satu milenium itu menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang begitu beragam. Ia pun mengaku masih banyak kisah yang ingin digali dari Desa Trunyan, mulai dari misteri Pohon Taru Menyan hingga kehidupan masyarakat Bali Aga yang masih memegang teguh adat leluhur.
“Semua keunikan yang dimiliki desa kecil ini benar-benar bikin aku kagum. Rasanya sulit percaya kalau aku bisa menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri. Ini baru permulaannya, masih ada banyak cerita tentang pohon misterius ini, tradisi yang telah bertahan lebih dari seribu tahun, hingga rahasia Desa Trunyan yang belum banyak diketahui,” tutupnya.
