Lazuardi Firdaus
Lazuardi Firdaus

Saya mempunyai seorang teman di salah satu negara terpencil di Afrika. Walaupun negaranya cukup terpencil di Benua Hitam tersebut, jika saya sebut namanya sekali saja, maka orang Malang banyak yang kenal dengan dia.

Di Malang, nama dia sudah cukup tenar. Kenalannya para pejabat dan pengusaha besar. Sebab dia memang mempunyai prinsip bahwa dirinya ke kota ini mempunyai sebuah tujuan utama. Dan tujuannya itu akan tercapai jika di Malang dia bisa kenal dengan-orang penting.

Baca Juga : Pernikahan Sesama Keluarga Miskin dan Kemiskinan Struktural

 

Karenanya, saya sebut dia dengan nama alias saja. Saya panggil saja dengan sebutan Dulkamdi. Walaupun saya sebut dengan nama alias, orang Malang pasti langsung ngeklik dengan dia. Itu karena saking terkenalnya Dulkamdi.

Di Malang ini, dia mempunyai beberapa perusahaan. Mulai perusahaan konstruksi, pengadaan, dan konsultan. Selain itu dia juga menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang.

Walaupun sebagai pengusaha, dia mempunyai keahlian di bidang menulis. Tulisannya cukup enak dibaca, karenanya hampir tiap minggu tulisannya selalu muncul di media massa yang terbit di Malang. Karena pintar menulis itulah, maka dia diminta membantu membesarkan media tersebut.  

Ada saja tema yang ditulis dan semuanya memang enak untuk diikuti. Dulu saya pembaca setia tulisan Dulkamdi ini. Bahkan sampai hapal gaya tulisan dan maksud dari apa yang ditulisnya.

Kalau Dulkamdi ingin mencaci mantan anak buahnya, dia tulis saja semuanya di koran tersebut. Jika dia ingin punya maksud menyanjung seorang pengusaha, maka dia tak canggung untuk memuji-mujinya setinggi langit.

Demikian juga jika Dulkamdi punya maksud untuk mendapatkan sesuatu dari bupati atau wali kota, fantastis kata-kata yang dituliskannya. Bisa melayang terbang itu sang bupati dan wali kota.

Pada 15 Agustus lalu, saya lupa tahunnya, seperti biasanya dia menulis sebuah tulisan. Saya lupa judulnya, tapi intinya dia menulis tentang sebuah media online yang nyinyir.

Dalam tulisannya itu, dia membela temannya yang kelihatannya orang penting. Temannya itu ternyata dikritisi oleh media online tersebut.

Setelah saya analisa, rupanya media online ini mengkritisi kebijakan salah satu kepala daerah di Malang. Mulai dari kebijakannya yang mengangkat keluarganya sebagai kepala dinas dengan kecepatan turbo.

Media online yang dijuluki nyinyir ini rupanya juga yang paling getol menulis ketika si kepala daerah dangdutan di tengah suasana pandemi dan abai dengan protokoler kesehatan. Sampai-sampai berita kepala daerah dangdutan ini menjadi berita viral diliput televisi-televisi nasional.

Nah, untuk membela temannya yang kepala daerah ini, Dulkamdi menulis tentang jurnalisme. Tidak ada yang salah dengan tulisannya. Semuanya benar.

Hanya saja, karena Dulkamdi ini pintar mengarahkan opini, maka dia mengatur tulisannya agar yang terlihat salah adalah media online yang menulis sesuai data dan fakta itu. Dan agar masyarakat juga ikut arah pikiran Dulkamdi, bahwa jika nanti ada yang mengkritisi temannya, maka media tersebut sedang bernyinyir ria. Sedangkan kelakuan dan kebijakan kepala daerah itu tak masuk dalam framingnya. Intinya, Dulkamdi sedang menuduh media lain lagi memframing, sedangkan tulisannya tak melakukan framing.

Bersamaan dengan tulisan Dulkamdi, secara kebetulan muncul video yang mendiskreditkan media online yang mengkritisi kebijakan si kepala daerah itu. Video itu menyatakan bahwa media online yang mengkritisi kepala daerah adalah media paling hoax. Dalam video itu dijelaskan isi berita soal bupati dangdutan adalah fitnah.

Tapi, kali ini tulisan Dulkamdi ditambah munculnya video yang menjelek-jelekan salah satu media online itu tidak ngefek. Sebab masyarakat lebih percaya dengan tulisan media online tersebut karena semuanya berdasarkan fakta.

Dan si media online ini rupanya juga bebal dan keras kepala. Walaupun sudah dibilangin nyinyir, media ini masih saja mengkritisi kebijakan bupati yang membiarkan pungli di SD dan SMP negeri.

Apalagi, setelah ditelisik lebih dalam, ternyata Dulkamdi ini masuk sebagai salah satu tim sukses si kepala daerah tersebut. Nah, kamu ketahuan. Tak tanggung-tanggung, jabatan si Dulkamdi ini adalah dewan pengarah. Dia duduk dengan tokoh-tokoh politik nasional dan regional. Jabatan yang prestisius di tim sukses.

Dengan jabatan bergengsi itulah, wajar jika dia berani menuding media online yang mengkritisi adalah nyinyir. Namun, masyarakat sudah pintar, mana media yang nyinyir atau objektif. Masyarakat juga sudah paham, media mana yang partisan atau bukan.

Dulkamdi ini rupanya tidak sadar, bahwa pembaca di Malang termasuk pembaca yang kritis. Mereka tahu mana media yang hanya sekadar mencari iklan dan menyingkirkan hak-hak informasi masyarakat.

Berselang sekitar sepuluh hari kemudian, muncul lagi tulisan yang menyerang media online. Kali ini serangan muncul dari sesama media online. Nama media online yang menyerang ini adalah suaraindonesia.co.id.

Media yang berpusat di Jember ini menulis bahwa media online yang kritis tersebut beritanya sangat tendensius dan hoax, serta tidak memakai kaidah jurnalistik dalam menulis.

Suaraindonesia.co.id secara membabi buta menyerang media online itu.

Pemberitaan di suaraindonesia.co.id ini muncul setelah adanya kritik soal maraknya pungutan liar di sekolah-sekolah negeri di Kabupaten Malang. Padahal di daerah lainnya, siswa bisa sekolah gratis tis tanpa pungutan sepeserpun.

Lucunya, ketika suaraindonesia.co.id ini menyerang media lain menulis tanpa kaidah, justru mereka sendiri yang menulis tanpa kaidah jurnalistik. Jelas sekali suaraindonesia.co.id seperti media yang tidak profesional dalam menjalankan tugasnya.

Mereka tidak melakukan konfirmasi ke pihak-pihak yang disebut namanya seperti Partai Demokrat. Padahal pemberitaannya sangat mendiskreditkan nama partai dan media online itu. Entah mengapa si media ini tak berani konfirmasi. Mungkin takut ketahuan kalau berita di suaraindonesia.co.id ini merupakan berita pesanan. Atau bisa jadi memang tidak butuh penyeimbang agar opini sesatnya bisa ditelan mentah-mentah oleh masyarakat.

Dalam berita di suaraindonesia.co.id berjudul Relawan Desak Paslon Sandi Evaluasi Partai Demokrat Kabupaten Malang dalam Mitra Koalisi tersebut dijelaskan, direktur utama media online yang mengkritisi kinerja Bupati Malang Sanusi adalah petinggi partai yang tergabung dalam Koalisi Sandi (Sanusi-Didik Gatot Subroto).

Baca Juga : Survival Intelligence

 

Berita yang publish pada 25 Agustus tersebut menyayangkan mengapa dirut media online ini tidak bisa mengarahkan agar berita-berita di medianya sesuai dengan kaidah jurnalistik, tidak hoax, dan tidak nyinyir, tidak tendesius menyerang pasangan Sandi.

Namun, sekali lagi, sama dengan tulisannya Dulkamdi, berita di suaraindonesia.co.id ini tidak menyebut mana saja berita yang dianggap tendesius, tidak memenuhi kaidah jurnalistik, dan mana juga yang hoax dan nyinyir.

Saya juga sudah bertemu dengan Direktur Utama suaraindonesia.co.id Imam Khairan pada Rabu sore, 26 Agustus 2020 di Dau. Awalnya dia menyatakan bahwa medianya menulis sudah sesuai kaidah jurnalistik.

Namun, mantan karyawan JTV ini kebingungan ketika ditanya mengapa kalau sesuai kaidah jurnalistik kok tidak cover both side.

Kenapa tidak langsung menyebut nama medianya? Dia tidak bisa menjawab hanya terseyum kecut saja. Bisa jadi dia tidak berani menyebut nama media online itu karena memang apa yang dituduhkan berita di suaraindonesia.co.id itu tidak benar.

Ketika menyebut nama Partai Demokrat, tidak ada satu pun dari pengurus Demokrat yang dikonfirmasi. Saya bilang sama Imam Khairan, bisa jadi media anda sekarang menjadi media partisan. Namun, dia menolak dirinya dan medianya disebut bagian dari tim sukses Sandi. Tapi anehnya, ketika wartawannya disuruh untuk konfirmasi ke media online yang bersangkutan, Imam hanya bilang iya. Tapi sampai saat ini belum terealisasi.  

Setelah saya bertemu dengan Imam, baru suaraindonesia.co.id pada Rabu malam, 26 Agustus 2020 pukul 18.40 memberitakan konfirmasi dari Partai Demokrat. Namun, sama sekali lepas dari berita sebelumnya. Di berita tersebut tidak lagi menyebutkan berita-berita media online yang dirutnya adalah ketua Partai Demokrat Kabupaten Malang. Yang ada hanyalah tulisan bahwa Partai Demokrat siap memenangkan pasangan Sandi.

Mungkin lewat tulisan ini saya jelaskan kepada Iman Khairan yang merupakan direktur utama suaraindonesia.co.id, kebebasan pers merupakan mutlak untuk menjadi penyeimbang. Jangan sampai jadi media partisan. Karena media partisan akan sulit dipercaya oleh masyarakat. Sebab media tersebut akan lebih banyak menyembunyikan fakta. Dan juga pada akhirnya media partisan ini akan menyerang media lainnya yang menulis sesuai dengan fakta yang ada.

Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Imam Wahyudi di tirto.id menyampaikan, yang memperkosa kemerdekaan pers sekarang adalah bisnis medianya. Jangan sampai gara-gara bisnis perusahaan, jurnalisnya diperkosa, kemerdekaan persnya diperkosa.

Saya sudah bertemu dengan pemilik sekaligus direktur utama media online yang diserang Dulkamdi dan suaraindonesia.co.id. Saya sangat respek dengan beliaunya. Menurut dia, politik sangat beda dengan media profesional. Dan itu memang harus dipisahkahn dengan tegas.

Subekti W. Priyadharma, pakar media jebolan ilmu komonikasi dari Jerman mengatakan,  akan sangat bahaya bagi masyarakat jika terlalu banyak media partisan.

Bahaya yang sangat mungkin muncul jika terlalu banyak media partisan, apalagi menjelang pemilihan umum, adalah adanya keseragaman berita dan kurangnya tingkat pluralisme pemberitaan. Padahal, selain untuk mengungkap kebenaran, media juga berkewajiban mendidik calon pemilih menjadi well informed voters.

Calon pemilih yang terinformasi dengan baik hanya bisa diwujudkan jika tersedia jumlah informasi yang memadai dan berimbang di media massa. Dengan begitu para calon pemilih ini mempunyai cukup materi untuk menimbang-nimbang kandidat mana yang akan mereka pilih berdasarkan keputusan yang rasional.

Untuk menjamin tersedianya informasi yang berimbang, memang sebuah media harus mampu menampilkan ragam pendapat yang ada di masyarakat dalam pemberitaannya. Idealnya, media tersebut memberikan porsi liputan yang seimbang untuk semua kandidat peserta pemilu.

Namun hal ini tidak berlaku untuk media partisan yang tidak netral, di mana porsi pemberitaan yang lebih banyak biasanya diberikan kepada satu kandidat tertentu.

Menghadapi masalah pluralisme pemberitaan ini, kita dapat mengacu pada sistem media massa di negara-negara eropa. Jerman misalnya, menganut apa yang dinamakan internal dan eksternal pluralism (Binnen- dan Außenpluralismus). Internal pluralism menjamin keterwakilan semua corak pendapat masyarakat di dalam sebuah media. Di sini, media wajib memandang sebuah fenomena dari banyak sisi, yaitu berdasarkan persepsi-persepsi yang berkembang di masyarakat, dengan cara memberikan semua kelompok porsi yang sama untuk mengungkapkan aspirasinya. Pada prakteknya, internal pluralism diwakili oleh media-media publik yang sifatnya independen (bebas dari campur tangan pemeritah) dan keberadaannya dijamin oleh undang-undang serta dibiayai dari pajak (öffentlich-rechtlich). Media-media seperti ini mempunyai tugas untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat.

Oh iya, mungkin masyarakat bertanya-tanya, media online mana yang kini diserang dengan sebutan nyinyir. Media yang Anda bacalah saat ini yang diserang dengan sebutan nyinyir. Ya malangtimes.com, sekali lagi malangtimes.com yang mereka maksud dengan nyinyir. Karena hanya media inilah yang dimiliki ketua Partai Demokrat Kabupaten Malang.

Namun, saya rasa masyarakat sudah sangat pintar dan cerdas. Bisa melihat dari berbagai sisi sebuah berita di media. Saya menilai malangtimes.com juga sudah sangat sering membela Sanusi jika dia dizalimi dan menjadi korban berita abal-abal. Tapi malangtimes.com juga getol mengkritisi jika memang ada kebijakan bupati yang menyakiti hati masyarakat. Karena memang fungsi itulah yang utama mengapa kita menjadi wartawan dan mengapa kita ada di media.

Kepada wartawan dan redaktur di malangtimes.com, teruskan saja secara normal tugas kalian sesuai aturan hukum. Jangan takut dibilang nyinyir oleh media lain. Karena yang menilai adalah masyarakat. Dan juga jangan takut dengan segala ancaman. Karena segala bentuk ancaman ada konsekuensinya. Ancaman atau segala kekerasan akan membuat kalian lebih berani dan berkarakter.

Jika kalian masih punya banyak data soal penyimpangan atau penyelewengan aparat pemerintah atau kepala daerah, tulis saja. Kami sangat menikmati tulisan kalian. Membaca berita bermutu dengan meminum secangkir kopi Amstirdam, sungguh kenikmatan yang luar biasa.

----------------------------------------

Lazuardi Firdaus

Wartawan Setengah Seneor