JATIMTIMES - Surat At-Takatsur menjadi salah satu surat dalam Al-Qur’an yang sarat dengan pelajaran hidup. Surat ke-102 ini turun sebagai teguran bagi mereka yang sibuk bermegah-megahan dalam harta dan keduniawian, hingga melalaikan kehidupan akhirat. Dengan hanya delapan ayat, pesannya begitu tajam dan menegaskan bahwa dunia hanyalah sementara, dan setiap nikmat akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Mayoritas ulama sepakat bahwa Surat At-Takatsur tergolong Makkiyah, meskipun ada sejumlah pendapat lemah yang menyebutnya Madaniyah. Surat ini diperkirakan turun setelah Surat Al-Kautsar dan sebelum Surat Al-Maun, sebagai respons atas sikap manusia yang saling membanggakan kekayaan dan status.
Baca Juga : Risiko Penukaran Uang Pinggir Jalan: Palsu Hingga Nominal Tak Sesuai
Nama At-Takatsur sendiri diambil dari ayat pertamanya, yang berarti "bermegah-megahan". Surat ini juga dikenal dengan nama Alhaakum (yang melalaikan) dan Al-Maqrabah (kuburan), merujuk pada ancaman bahwa manusia akan menghadapi kematian dan pertanggungjawaban atas segala kesenangan duniawi yang mereka banggakan.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Munir, disebutkan bahwa surat ini turun sebagai teguran terhadap dua kabilah Anshar, Bani Haritsah dan Bani Harits, yang saling bersaing menunjukkan kekayaan dan kehebatan leluhur mereka. Awalnya, mereka berbangga dengan orang-orang yang masih hidup, lalu berlanjut hingga mengunjungi kuburan untuk membandingkan keturunan dan prestasi orang-orang yang telah meninggal.
Peristiwa inilah yang memicu turunnya Surat At-Takatsur, sebagai peringatan bahwa kesombongan duniawi hanya akan berujung pada penyesalan di akhirat. Meski riwayat ini menjadi dasar bagi yang berpendapat bahwa surat ini Madaniyah, mayoritas ulama tetap menguatkan statusnya sebagai Makkiyah karena riwayat tersebut dinilai lemah.
Surat ini mengingatkan manusia agar tidak terbuai oleh harta, jabatan, atau keturunan, karena semua itu fana dan akan ditinggalkan. Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan Tafsir Al-Azhar, dijelaskan bahwa manusia sering kali lupa bahwa setiap nikmat kesehatan, waktu, harta, bahkan anak adalah ujian dari Allah.
Baca Juga : Petasan Meledak saat Tabrakan, Pemuda Pengendara Tewas di TKP
Syaikh Amru Khalid dalam Khawatir Qur’aniyah menegaskan, "Surat At-Takatsur adalah ancaman bagi siapa saja yang hidup hanya untuk kesenangan fisik dan materi." Kelak, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua kenikmatan yang mereka sombongkan di dunia.
Berikut terjemahan Surat At-Takatsur (QS. 102:1-8):
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."
Peringatan dalam surat ini begitu keras: jika manusia benar-benar menyadari hakikat kehidupan, mereka akan melihat neraka dengan mata kepala sendiri. Setiap kesenangan dunia yang dibanggakan akan menjadi bahan pertanyaan di hari penghisaban. Surat ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam kompetisi duniawi yang sia-sia, melainkan fokus pada amal shaleh yang akan menyelamatkan kita di hari kemudian.
