Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Tata Cara Salat Istisqa untuk Memohon Hujan Saat Kemarau

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

30 - Aug - 2026, 07:01

Placeholder
Ilustrasi kemarau. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - El Niño Godzilla membuat persediaan air di sejumlah daerah menipis. Dalam ajaran Islam, ketika hujan tak kunjung turun dan masyarakat mengalami kekeringan, ada ibadah yang bisa dilakukan sebagai bentuk ikhtiar sekaligus permohonan kepada Allah SWT. Ibadah tersebut adalah salat Istisqa.

Salat Istisqa merupakan salat sunnah yang secara khusus dikerjakan untuk meminta hujan. Istisqa secara bahasa berarti meminta hujan.

Baca Juga : Cuaca Jatim Minggu 30 Agustus 2026: Malang Cerah Berawan Suhu Capai 32°C

Dikutip dari buku Tuntunan Lengkap 99 Shalat Sunnah Superkomplet karya Ibnu Watiniyah, salat ini menjadi salah satu bentuk doa umat Islam ketika menghadapi kemarau panjang atau kekurangan air.

Salat Istisqa terdiri dari dua rakaat dan dianjurkan dilakukan secara berjemaah di tempat terbuka. Pelaksanaannya juga disertai khutbah dan doa agar Allah SWT memberikan hujan yang membawa manfaat.

Niat Salat Istisqa

Seperti ibadah salat lainnya, Salat Istisqa diawali dengan niat. Berikut bacaan niatnya:

أُصَلَّى سُنَّةَ الْإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ (مَأْمُومًا إِمَامًا) لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Ushalli sunnatal istisqa'i rak'ataini mustaqbilal qiblati ma'mûman/imâman lillâhi ta'âlâ.

Artinya:
 "Aku niat sholat sunnah Istisqa' dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai makmum/imam, karena Allah Ta'ala."

Kapan Salat Istisqa Dilaksanakan?

Waktu pelaksanaan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Dikutip dari laman Kementerian Agama, Rasulullah SAW mengerjakan salat Istisqa setelah matahari terbit.

Waktunya kurang lebih sama dengan pelaksanaan salat Idul Fitri maupun Idul Adha. Para ulama juga menyebut salat Istisqa masih dapat dikerjakan hingga menjelang sore, selama tidak dilakukan pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat.

Di antaranya ketika matahari berada tepat di tengah langit dan ketika matahari menjelang terbenam.

Tata Cara Salat Istisqa

Pelaksanaan salat Istisqa dilakukan sebanyak dua rakaat. Ada ketentuan takbir tambahan yang membedakannya dari salat sunnah biasa.

Berikut rangkaiannya:
1. Imam dan jemaah berkumpul di lapangan atau tempat terbuka.
2. Tidak ada azan maupun iqamah sebelum salat. Imam dan jemaah langsung berniat melaksanakan salat Istisqa.
3. Imam melakukan takbiratul ihram. Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua terdapat lima kali takbir.
4. Setelah itu, imam membaca Al-Fatihah dan surah lainnya dengan suara yang dapat didengar oleh jemaah.
5. Salat dilanjutkan dengan rukuk, bangkit dari rukuk, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kedua.
6. Setelah menyelesaikan rakaat pertama, salat dilanjutkan ke rakaat kedua dengan rangkaian yang sama. Setelah dua sujud pada rakaat kedua, imam dan jemaah duduk untuk membaca tahiyat akhir, tasyahud dan selawat.
7. Salat ditutup dengan salam ke kanan dan ke kiri.
8. Setelah salat selesai, imam menyampaikan dua khutbah yang didengarkan oleh jemaah.

Baca Juga : Deretan Kebakaran Besar di Indonesia Sepanjang 2026, Kalimantan hingga Gunung Semeru Masih Membara

Isi Khutbah Salat Istisqa

Khutbah menjadi bagian penting dalam rangkaian Salat Istisqa. Pelaksanaannya terdiri dari dua khutbah dan di antara keduanya terdapat satu kali duduk.

Secara umum, tata cara khutbah Istisqa menyerupai khutbah salat Id. Khatib membaca takbir sembilan kali pada khutbah pertama dan tujuh kali pada khutbah kedua.

Pesan yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan permohonan turunnya hujan. Khatib juga dianjurkan mengajak jemaah untuk bertaubat, memohon ampun kepada Allah SWT dan memperbanyak istighfar.

Setelah sepertiga bagian khutbah kedua berlalu, khatib menghadap kiblat dan membelakangi jemaah. Pada bagian ini, khatib bersama jemaah memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Khatib juga mengubah posisi rida' atau selendang yang dikenakan di bahunya. Perubahan posisi ini dikenal dengan istilah tahwil atau tankis.

Tahwil dilakukan dengan memindahkan sisi kanan selendang ke kiri dan sisi kiri ke kanan. Sedangkan tankis berarti membalik bagian atas selendang ke bawah dan bagian bawah ke atas.

Kedua gerakan tersebut dapat dilakukan sekaligus. Salah satu caranya dengan meletakkan bagian selendang yang sebelumnya berada di atas ke posisi bawah.

Demikian niat, tata cara hingga waktu pelaksanaan salat Istisqa yang menjadi bentuk ikhtiar umat Islam ketika menghadapi kekeringan. Pelaksanaannya tidak hanya berupa salat dua rakaat, tetapi juga diiringi doa, istighfar dan ajakan untuk bertaubat.

Karena itu, ketika hujan belum juga turun, umat Islam dapat memperbanyak amal ibadah dan memohon pertolongan Allah SWT. Harapannya, Allah memberikan rahmat berupa hujan yang cukup dan membawa manfaat bagi kehidupan manusia, hewan, serta tumbuh-tumbuhan. Semoga informasi ini bermanfaat.


Topik

Agama salat meminta hujan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri