JATIMTIMES – Kolektif seniman Pondok Seni Batu mengubah total ruang pamer Galeri Raos Kota Batu menjadi instalasi hutan buatan berbahan limbah tanah dan kardus bekas.
Pameran bertajuk 'Tanah Air' yang berlangsung pada 20-27 Juni 2026 ini disajikan sebagai kritik visual tajam terhadap maraknya alih fungsi lahan dan degradasi ekologi di kawasan hulu.

Saat memasuki galeri, yang terasa sangat berbeda untuk pertama kalinya adalah seluruh lantai galeri sengaja ditutup dengan hamparan tanah basah menyerupai lumpur hutan, lengkap dengan instalasi replika batang pohon raksasa yang berdiri kokoh. Siapapun yang memasuki ruang pamer tersebut pun diwajibkan menanggalkan sepatu atau sandal yang dikenakan.
Baca Juga : Wali Kota Mas Ibin Tegaskan Pakta Integritas Harus Menjadi Budaya Kerja di Lingkungan Pemkot Blitar
Menariknya, jika diamati dari dekat pohon-pohon yang merupakan instalasi utama tersebut murni dikonstruksi dari susunan kardus bekas berlapis, termasuk memanfaatkan limbah pembungkus produk komersial.
"Kami ingin menghadirkan kontradiksi nyata di ruang pameran. Lantainya adalah tanah asli yang basah, tapi pohon yang tumbuh di atasnya adalah dari kardus bekas yang mana adalah limbah," ujar Anggota Pondok Seni Batu, Adi Siswanto di lokasi pameran, Selasa (23/6/2026).
Pameran ini sengaja dirancang interaktif untuk memberikan pengalaman sensorik langsung, di mana para pengunjung diajak bertelanjang kaki merasakan dingin dan beceknya tanah.
Lewat eksplorasi material limbah ini, Pondok Seni Batu ingin menyentil kesadaran publik mengenai hilangnya vegetasi asli yang kini digantikan oleh beton dan industrialisasi.
"Eksploitasi alam hari ini sudah di tahap mengkhawatirkan. Dulu Batu masih banyak pertanian dan kebun, sekarang banyak menjadi perumahan. Yang masih hutan di atas banyak menjadi pertanian," katanya.
Melalui media tanah dan kardus ini, Pondok Seni Batu mengajak masyarakat merasakan kembali tanah yang kita pijak sekaligus merenungkan nasib hutan saat ini. Utamanya karena Batu merupakan wilayah tangkapan air atau hulu sungai.
Baca Juga : MTsN 2 Kota Malang Siapkan Sejumlah Program Prioritas untuk Tahun Pelajaran 2026/2027
Pameran ini juga merupakan kerjasama Pondok Seni Batu dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu berkaitan dengan momentum hari lingkungan hidup. Persiapan pameran dikebut dalam waktu lima hari sebelum dibuka dengan melibatkan 15 seniman pondok seni.

Tanah yang memenuhi ruang pamer galeri juga diambil dari wilayah Bumiaji dan sekitarnya yang merupakan tanah longsoran akibat dampak alih fungsi lahan. Adi menyebut, totalnya mencapai sekitar 2 dump truck.
Melalui pameran 'Tanah Air' ini, para seniman lokal berharap Galeri Raos tidak sekadar menjadi ruang pameran estetika visual, melainkan menjelma sebagai ruang refleksi kritis.
"Harapannya, pameran ini memicu diskusi publik yang lebih luas, terutama bagi para pemangku kebijakan, agar lebih serius dalam mengawal isu lingkungan dan tata ruang hijau di Kota Batu," pungkasnya.
