Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Ma'had Nawaina MTsN 2 Kota Malang Wisuda 31 Santri, Peminat Baru Melonjak hingga 73 Siswa

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

13 - Jun - 2026, 13:46

Placeholder
Pelaksanaan Haflah Tasyakur Akhirissanah Ma'had Nawaina, MTsN 2 Kota Malang, (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Di tengah kekhawatiran terhadap dampak media sosial, derasnya arus informasi digital, dan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi remaja, minat orang tua untuk memasukkan anak ke lembaga pendidikan berbasis ma'had atau asrama keagamaan terus meningkat.

Fenomena tersebut terlihat di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kota Malang saat pelaksanaan Haflah Tasyakur Akhirissanah Ma'had Nawaina, Sabtu (13/6/2026). Sebanyak 31 santri kelas IX Ma'had Nawaina diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan tingkat madrasah tsanawiyah sekaligus pembinaan keagamaan berbasis asrama.

Baca Juga : Lepas 380 Siswa Angkatan Ke-47, MAN Kota Batu Gelar Haflah Akhirussanah Megah di Dome UMM Hari Ini

Jumlah lulusan tersebut memang hanya sebagian kecil dari total 256 siswa kelas IX tahun ajaran 2025/2026. Namun, tingginya animo masyarakat justru terlihat pada penerimaan santri baru. Tahun ini, sebanyak 73 siswa baru tercatat masuk ke Ma'had Nawaina, meningkat hampir dua kali lipat dibanding jumlah santri yang lulus.

1

Kepala MTsN 2 Kota Malang, Anita Yusianti, S.Pd., M.Pd., menilai peningkatan minat tersebut tidak lepas dari keresahan orang tua terhadap pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi yang semakin sulit dikendalikan.

"Harapan kami semoga dengan bekal ilmu agama yang lebih mendalam di Ma'had Nawaina, kemudian pendampingan ibadah mulai dari salat, qiyamul lail, salat duha, hingga kebiasaan membaca Al-Qur'an yang terjadwal, itu menjadi benteng keimanan mereka," ujarnya.

Menurut Anita, sejumlah orang tua bahkan menjadikan keberadaan ma'had sebagai alasan utama memilih MTsN 2 Kota Malang. Tidak sedikit calon siswa yang memilih mengundurkan diri apabila diterima di madrasah tetapi tidak memperoleh tempat di ma'had.

1

Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran orientasi sebagian orang tua yang kini tidak hanya mempertimbangkan kualitas akademik sekolah, tetapi juga sistem pembinaan karakter dan pengawasan terhadap aktivitas keseharian anak.

"PPDB tahun ini orang tua memilih MTsN 2 karena memang ada ma'hadnya. Ada yang menjadikan ma'had sebagai tujuan utama. Kalau diterima di madrasah tetapi ma'hadnya tidak diterima, mereka siap mundur," kata Anita.

Mayoritas santri Ma'had Nawaina berasal dari wilayah Malang Raya. Namun dalam beberapa tahun terakhir mulai bermunculan santri dari luar daerah di Jawa Timur bahkan luar pulau. Anita menyebut pernah terdapat santri yang berasal dari Kalimantan.

3

Di sisi lain, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Dr. H. Achmad Shampton, S.HI., M.Ag., mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan berbasis ma'had tidak cukup diukur dari prosesi kelulusan atau seremoni wisuda semata. Menurutnya, indikator keberhasilan justru terlihat setelah para santri meninggalkan lingkungan asrama dan menghadapi kehidupan nyata di tengah masyarakat.

Baca Juga : Minum Susu Putih hingga Menulis Basmalah di Malam 1 Muharam, Ini Makna dan Penjelasannya 

Mengutip Surat An-Nahl ayat 97, Achmad menegaskan bahwa pendidikan yang berhasil akan melahirkan "hayatan thayyibah" atau kehidupan yang baik bagi peserta didik.

"Tasyakur pagi hari ini harus terukur. Tidak sekadar rutinitas yang kita selenggarakan. Apakah murid-murid itu sudah mengamalkan ilmu yang diperoleh sehingga muncul athar atau bekas yang baik dalam kehidupannya," ujarnya.

Ia menilai lembaga pendidikan keagamaan perlu memiliki sistem pendampingan berkelanjutan terhadap alumni. Menurutnya, hubungan antara guru dan murid tidak boleh berhenti ketika proses belajar selesai.

"Harus ada monitoring. Pasca dari Nawaina ini dilihat anak-anak kita tetap dalam relnya atau tidak, mendapatkan hidayah atau tidak, mempunyai kehidupan yang baik atau tidak," katanya.

Achmad juga menyoroti pentingnya budaya empati dalam dunia pendidikan. Ia mengingatkan bahwa guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga membangun hubungan batin dengan peserta didik sehingga mampu menjadi pembimbing yang memahami persoalan murid.

"Orang alim itu yang melihat muridnya dengan kacamata rahmat dan empati. Tidak ada kebencian sama sekali, justru mendoakan," pungkasnya.


Topik

Pendidikan mtsn 2 kota malang ma'had nawaina anita yusianti



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan