Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Overparenting Jadi Tren Ortu Zaman Modern: Pakar Usul Buku Saku Parenting dan Digital Detox

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

03 - May - 2026, 19:32

Placeholder
Pakar Pendidikan UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Gelombang modernisasi yang membawa kemudahan ekonomi, teknologi digital, dan pola hidup serba praktis ternyata memunculkan problem baru dalam dunia pengasuhan. Banyak orang tua masa kini dinilai terjebak dalam pola overparenting, yakni kasih sayang berlebihan yang justru membuat anak kurang tangguh, miskin inisiatif, dan lemah mengambil keputusan.

Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menilai fenomena tersebut semakin nyata di tengah keluarga urban maupun kelas menengah yang ingin memberi kenyamanan total kepada anak.

Baca Juga : Long Weekend Bawa Berkah, Hunian Hotel Malang Tembus Angka Tinggi

Menurutnya, niat baik orang tua memberi perlindungan penuh sering kali berubah menjadi pola asuh yang terlalu mengontrol setiap langkah anak. Akibatnya, anak tumbuh patuh tetapi kurang memiliki keberanian menentukan pilihan.

1

“Kadang anak sedikit-sedikit bertanya ke ibunya, ‘Mi, aku harus gimana?’ Semua harus konfirmasi. Bagus karena hormat kepada orang tua, tetapi sisi inisiatif dan pengambilan keputusannya menjadi kurang terasah,” ujar Dr. Arina, Minggu, (3/5/2026).

Ia mengaku melihat langsung fenomena itu, termasuk dari pengamatan di lingkungan sekolah dasar. Bahkan, menurutnya, sebagian orang tua saat ini cenderung lebih memanjakan anak dibanding generasi sebelumnya.

Padahal, karakter tangguh justru lahir dari pengalaman kecil sehari-hari, seperti menyelesaikan masalah sendiri, bermain di luar rumah, hingga menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman.

Dr. Arina menyoroti kecenderungan orang tua modern yang terlalu khawatir terhadap aktivitas fisik anak. Kehujanan dilarang, bermain tanah dianggap kotor, dan beraktivitas luar ruang dibatasi karena takut sakit.

Padahal, menurutnya, anak membutuhkan stimulasi alami untuk membangun daya tahan tubuh dan kecerdasan motorik.

“Hujan itu tidak selalu buruk. Anak-anak kalau diajak kehujanan justru senang. Dulu kita hujan-hujanan happy sekali. Sekarang sedikit kena hujan langsung dianggap bahaya,” katanya.

Ia menjelaskan, anak-anak generasi lama banyak berinteraksi dengan lingkungan alam. Bermain tanah, bergerak aktif, berlari, berkeringat, hingga terkena cuaca alami justru menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang sehat.

“Tanah itu bisa menjadi terapi sensorik untuk menstimulasi psikomotorik anak. Kalau ada anak pendiam, kurang aktif, coba banyak diajak gerak. Itu bisa membantu nafsu makan, perkembangan motorik, bahkan mencegah stunting,” jelasnya.

Menurut Dr. Arina, terlalu sterilnya lingkungan anak masa kini membuat paparan mikroba baik berkurang. Imunitas menjadi tidak terlatih, sehingga tubuh lebih rentan terhadap perubahan cuaca maupun lingkungan.

Karena itu, ia mendorong orang tua kembali memberi ruang eksplorasi sehat. Anak yang terlihat kurang aktif, sulit makan, atau kurang berkembang secara fisik sebaiknya lebih sering diajak beraktivitas luar ruang dan terkena sinar matahari pagi.

Outdoor activity itu penting. Kena sinar matahari, bergerak, bermain, itu booster alami bagi tumbuh kembang anak,” tegasnya.

Selain overparenting, Dr. Arina menilai tantangan terbesar keluarga modern saat ini adalah screen dependency atau ketergantungan layar. Teknologi digital memang memiliki sisi positif, namun tanpa kontrol justru dapat melemahkan kualitas generasi muda.

Ia menegaskan, konten edukatif seperti video pembelajaran bahasa Inggris, bahasa Jepang, sains, atau kreativitas digital tetap bermanfaat jika digunakan proporsional.

“Kalau anak menonton materi belajar, kartun berbahasa Inggris, itu malah bagus. Teknologi bisa jadi alat akselerasi belajar,” ujarnya.

Namun persoalan muncul ketika anak terlalu lama bermain gim digital seperti Roblox atau larut dalam tontonan video tanpa batas waktu.

Menurutnya, beberapa gim memang melatih ketelitian, logika, dan respons cepat. Tetapi jika durasinya berlebihan, anak menjadi kehilangan kontrol waktu, tidak responsif terhadap panggilan orang tua, dan minim interaksi sosial.

“Dipanggil orang tua saja tidak dengar karena fokus bermain. Ini tanda bahwa manajemen penggunaan teknologi di rumah belum berjalan,” katanya.

Baca Juga : Rakerda Golkar Situbondo: Ali Mufthi Tekankan Sinergi Partai dan Pemerintah Daerah

Dr. Arina juga mengingatkan paparan gawai berlebihan pada usia dini dapat memicu keterlambatan bicara, malas berkomunikasi, kurang sosialisasi, dan tumpulnya kreativitas.

“Anak hanya menerima stimulus. Dia menikmati tontonan, menerima instruksi, tetapi tidak tumbuh inisiatif. Ini berbahaya untuk masa depan,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi tersebut dapat berkembang menjadi anak yang sangat cerdas secara individual, tetapi tertutup secara sosial. Dalam beberapa kasus, anak menjadi introvert ekstrem, merasa cukup dengan dunianya sendiri, dan enggan berinteraksi dengan lingkungan.

“Kadang ada anak yang cepat paham, berpikir kritis, bahkan genius. Tetapi sisi sosialnya lemah. Dia merasa sudah tahu, jadi tidak mau mendengar guru atau orang lain,” katanya.

Fenomena itu, lanjutnya, harus dijawab dengan kebijakan yang lebih progresif. Ia mendorong pemerintah tidak hanya membenahi kurikulum sekolah formal, tetapi juga menyiapkan kurikulum parenting nasional bagi keluarga Indonesia.

Dr. Arina melanjutkan, bahwa rumah adalah ekosistem pendidikan pertama. Sekolah yang bagus tidak cukup jika atmosfer rumah tidak mendukung.

“Ibu adalah madrasah pendidikan di rumah. Kalau sekolah sudah bagus, maka di rumah tinggal distimulus. Harus selaras,” tegasnya.

Salah satu langkah konkret yang ia usulkan ialah menghadirkan buku saku parenting untuk orang tua. Isinya berupa panduan sederhana namun aplikatif tentang pola asuh modern, batas penggunaan gawai, komunikasi keluarga, nutrisi anak, stimulasi tumbuh kembang, hingga penguatan karakter.

“Walaupun sekarang ada YouTube dan teknologi, buku saku untuk orang tua itu keren. Tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk ayah,” ujarnya.

Ia menilai peran ayah selama ini belum maksimal dalam sistem pengasuhan. Padahal keterlibatan ayah, terutama terhadap anak perempuan, berdampak besar pada pembentukan rasa percaya diri.

“Anak perempuan yang dekat dengan ayah biasanya punya self confidence tinggi. Dia tidak mudah insecure dan keberaniannya berbeda,” katanya.

Dr. Arina juga mengusulkan penerapan digital detox keluarga, yakni hari tanpa gawai di rumah, khususnya setiap akhir pekan. “Kalau bisa hari Minggu full anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh. Dari situ bonding keluarga tumbuh dan nasihat akan lebih mudah diterima,” ucapnya.

Menurutnya, keluarga Indonesia dulu memang dikenal lebih sederhana, bahkan kadang otoriter. Namun ada nilai positif yang tidak boleh hilang, yakni kedisiplinan, kebersamaan, penghormatan pada orang tua, serta rutinitas spiritual dan sosial yang kuat.

Kini, tantangannya adalah meramu nilai lama dengan pendekatan baru yang lebih sehat, demokratis, dan adaptif terhadap zaman.

“Ini investasi jangka panjang. Kalau rumah tertata, komunikasi tertata, kelembutan tertata, maka kepribadian anak juga akan tertata,” pungkasnya.

Ia menegaskan, generasi emas Indonesia tidak cukup dibangun lewat gedung sekolah dan kurikulum negara. Fondasi utamanya tetap berada di ruang keluarga, ketika orang tua mampu menjadi navigator, bukan sekadar penyedia fasilitas.


Topik

Pendidikan overparenting digital detox



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan