JATIMTIMES - Kiai Sadrach merupakan salah satu tokoh yang cukup dikenal bagi umat Kristiani. Sebab, dirinya dikenal sebagai salah seorang yang menjadi penyebar Agama Kristen atau penginjil di Tanah Jawa.
Nama Sadrach sendiri sebenarnya bukan nama asli, namun merupakan nama baptisnya. Pria yang dilahirkan pada tahun 1835 di Karesidenan Jepara ini mempunyai nama lahir Radin. Disebutkan sejak kecil Radin memang gemar mempelajari ilmu agama. Terutama agama Islam.
Baca Juga : Hadiri Temu Bisnis HPN, Menko Marves Puji Ketahanan Ekonomi Desa dan Pesantren
Bahkan, kegemarannya dalam mempelajari ilmu Agama Islam itulah yang juga disebut membawanya berguru di beberapa pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur. Sedangkan gelar Kiai yang ada di namanya, disebutkan karena sosoknya sebagai penganut Agama Islam yang saat itu mempunyai cukup banyak pengikut.
Sebuah akun TikTok bernama @doditsetiyohadi juga mengulas sekilas tentang sosok Kiai Sadrach. Dalam video yang diunggah oleh akun tersebut, titik balik yang menjadi awal mula Radin mempelajari Agama Kristen adalah saat ia hijrah ke Semarang.
Dimana saat itu, Radin bertemu dengan seorang penginjil bernama Hoezoo. Saat bertemu dengan Hoezoo, Radin disebut tertarik terhadap keimanan Kristen dan berniat untuk mendalaminya.
"Dari situlah Radin kenal dan akhirnya kenal dengan seorang pewarta injil Jawa yang bernama Ibrahim Tunggul Wulung," ujarnya dalam video tersebut.
Informasi yang didapat JatimTIMES Ibrahim Tunggul Wulung ternyata berasal dari daerah yang sama dengan Radin. Di saat itulah, Radin menyatakan kehendaknya untuk menjadi murid Ibrahim Tunggul Wulung.
Setelah mantap dengan keimanan Kristen, Radin kemudian dibaptis di sebuah gereja yang ada di Jakarta. Dan mendapat nama baptis yakni Sadrach. Saat dibaptis dia berusia 26 tahun.
Sejak saat dibaptis itulah dia bertugas untuk menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen, dari rumah ke rumah di seputar Batavia. Dan saat itu, ia memutuskan untuk berkeliling Jawa, sebelum akhirnya menetap di Purworejo Jawa Tengah. Tepatnya di Dukuh Karangjoso.
Baca Juga : Jual Beli LKS di SDN 5 Gresik Dikeluhkan Wali Murid
Di dukuh itulah dirinya membangun gereja yang hingga saat ini masih terus digunakan. Dengan nuansa Jawa yang sangat kental. Karena sejak awal, Kiai Sadrach memang tidak mau tercabut dari akar budayanya.
Meskipun sebelumnya, saat di Purworejo, disebut dia sempat diangkat anak oleh Pendeta Stevens-Philips. Sadrach tinggal di Purworejo pada tahun 1869 selama setahun dan pindah ke Karangjasa sekitar 25 kilometer sebelah selatan Purworejo.
Gaya penyebaran Agama Kristen dengan cara pendekatan budaya Jawa inilah yang dibilang dapat lebih diterima masyarakat saat itu. Dan hal itu memang juga telah ia pedomani dalam menyebarkan agama Kristen. Bahkan saat dirinya ke Turki, doa-doa yang dilantunkan juga diucapkan dengan menggunakan bahasa Jawa.
"Sehingga pengikutnya makin hari makin banyak. Saat Kiai Sadrach wafat pada tahun 1924, jumlah pengikutnya tercatat ada sebanyak 7.000 jamaah. Gaya penyebaran agama dengan cara pendekatan budaya jawa ini mengingatkan pada sosok Sunan Kalijaga. Dan dari situlah dikatakan bahwa Kyai Sadrach ini adalah Sunan Kalijaga versi Kristen," pungkasnya.
