Jelang Hari Air Sedunia, Nawakalam Gemulo Kritisi Perda Tata Ruang Kota Batu | Batu TIMES

Jelang Hari Air Sedunia, Nawakalam Gemulo Kritisi Perda Tata Ruang Kota Batu

Mar 15, 2021 17:03
Komunitas Nawakalam Gemulo bersama DPRD Kota Batu beraudiensi terkait perubahan rencana tata ruang wilayah yang sampai sekarang belum ada kejelasan di gedung DPRD Kota Batu, Senin (15/3/2021) (foto: Mariano Gale/MalangTIMES)
Komunitas Nawakalam Gemulo bersama DPRD Kota Batu beraudiensi terkait perubahan rencana tata ruang wilayah yang sampai sekarang belum ada kejelasan di gedung DPRD Kota Batu, Senin (15/3/2021) (foto: Mariano Gale/MalangTIMES)

BATUTIMES - Ketidakjelasan perubahan rencana  tata ruang wilayah (RTRW) Kota Batu memantik Komunitas Nawakalam Gemulo bergerak. Bersamaan dengan momen menyambut Hari Air Sedunia, Komunitas Nawakalam Gemulo beraudiensi dengan DPRD Kota Batu terkait perubahan Perda RTRW  di gedung DPRD Kota Batu, Senin (15/3/2021).

Aris dari Komunitas Nawakalam Gemulo mengatakan, menyambut Hari Air Sedunia, pihaknya menanyakan seberapa jauh  posisi perda tata ruang hari ini di Kota Batu. Sebab, isi perda tersebut tidak diketahui. "Kami ingin tahu dan memastikan bahwa perda tata ruang ini benar-benar berpihak pada lingkungan," ujarnya.

Baca Juga : Bupati Jombang Paparkan LKPJ Tahun Anggaran 2020

Dan, hal itu terbukti. Dalam perda lama, tempat sumber mata air itu adalah kawasan lindung setempat. Namun dalam perubahan perda saat ini, tidak lagi bertuliskan kawasan lindung setempat.

"Ada di poin-poin perdanya itu. Itulah yang kami berikan masukan kepada para pengambil kebijakan. Selain mempertimbangkan nilai ekonomi, juga perlu dipertimbangkan nilai-nilai ekologis," ucap Aris.

Melihat kondisi lingkungan di Kota Batu, Aris mengungkapkan  banyak wilayah atau kawasan lindung berubah menjadi kawasan industri. Hal itu dianggap sangat memprihatinkan. Apalagi, Kota Batu adalah kota pariwisata yang menggencarkan wisata buatan maupun wisata alam dengan menggunakan lahan milik Oerhutani. 

"Maka, dalam melakukan perubahan perda tata ruang ini, harus mengedepankan aspek-aspek lingkungan. Menurut kami, pihak Perhutani harus menjaga. Kita ingatkan ketika hal itu menyalahi aspek-aspekk lingkungan. Intinya, ketakutan kami jika kondisi lingkungan ini berubah, ketika kita tidak peduli pada lingkungan itu sendiri. Karena lingkungan ini adalah sebagai warisan untuk generasi berikutnya," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Khamim Tohari menjelaskan, perda tersebut masih dalam pengkajian di provinsi. Jika pun nantinya telah disetujui, pihaknya bisa melakukan perubahan kalau isi perda tersebut tidak sesuai aturan dan aspirasi masyarakat.

"Itu sudah kami tanyakan. Katanya masih urgen karena faktor pandemi dan juga banyak daerah yang juga memasukkan perda. Jadi, kami masih mengantrie," ujarnya.

Baca Juga : Sempat Ditolak Warga, Akhirnya Museum HAM Munir Jadi

Selain itu, pihak Nawakalam menyesali tindakan pihak Bappelitbangda (Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah) Kota Batu. Sebab, jika diundang untuk membahas hal itu, Bappelitbangda tidak pernah hadir. 

Hal itu juga disayangkan  Komisi C. "Untuk ke depan kamibpanggil untuk hearing (dengar pendapat)  bersama. Pokoknya dalam waktu dekat ini," ucap Khamim.

 

Topik
Perda RTRW Kota Batu DPRD Kota Batu Pemkot Batu Peduli Lingkungan Hidup

Berita Lainnya