Pro Kontra Soal Vaksin Covid-19, PBNU: Percayalah Pemerintah Tak Celakai Rakyat | Batu TIMES

Pro Kontra Soal Vaksin Covid-19, PBNU: Percayalah Pemerintah Tak Celakai Rakyat

Jan 13, 2021 14:19
KH Ahmad Ishomuddin (Foto:   MusliModerat)
KH Ahmad Ishomuddin (Foto: MusliModerat)

MALANGTIMES - Munculnya vaksin Covid-19 sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi Covid-19 justru menimbulkan pro kontra. Banyak dari kalangan tokoh publik mendukung adanya vaksinasi Covid-19 ini. Namun sebagian juga ada yang menolak dengan disuntikannya vaksin Covid-19 tersebut.  

Terkait hal ini, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin dengan tegas mengatakan, jika pihaknya menolak dengan munculnya kampanye anti vaksin Covid-19.  

Baca Juga : Melonjaknya Angka Kasus Penyebaran Covid-19, Kabupaten Kediri Kembali Ke Zona Merah

Ahmad menjelaskan, jika program vaksinasi ini menggunakan vaksin yang aman. Bahkan, Ahmad mengatakan, jika masyarakat harus percaya dengan pemerintah.  

“Percayalah. Pemerintah tidak akan mencelakakan rakyatnya. Percayalah vaksin merupakan sesuatu yang aman,” kata Ahmad.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan jika vaksin ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk melindungi masyarakat agar tetap sehat. “Oleh sebab itu vaksinasi merupakan kewajiban kita semua, agar terhindar dari wabah yang melanda ini, yaitu serangan COVID-19,” paparnya.

Seperti diketahui, vaksin yang digunakan pemerintah ini sudah memiliki sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dengan begitu, masyarakat bisa mengikuti vaksinasi Covid-19 tanpa rasa takut dan ragu.

Seperti diketahui, pada hari ini Rabu (13/1/2021) Ahmad beserta Presiden Joko Widodo dan perwakilan dari berbagai kalangan sudah mendapatkan suntik vaksin Covid-19 di Istana Presiden. Vaksin yang disuntikkan ialah vaksin Sinovac yang sudah mendapatkan izin edar darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari BPOM. Untuk diketahui, beberapa tokoh yang mendukung adanya vaksin Covid-19 seperti MUI, Gus Ami, IDI, hingga TNI. Majelis Ulama Indonesia diketahui telah mengeluarkan tausiah tentang pelaksanaan vaksinasi Covid-19.  

"Mendukung program vaksinasi COVID-19 yang menggunakan vaksin halal--dalam tahap ini Vaksin COVID-19 produksi Sinovac Life Science Co. Ltd dan PT.Bio Farma (Persero)--sebagai salah satu ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah semaksimal mungkin terjadinya penularan wabah COVID-19 di tengah masyarakat," demikian bunyi salah satu poin tausiah MUI.

Sementara Wakil Ketua DPR RI yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Ami mendukung penuh program vaksinasi ini.  Gus Ami meminta agar masyarakat untuk tidak ragu akan kualitas vaksin yang disiapkan pemerintah secara gratis.

“Presiden Jokowi sudah memberikan contoh sebagai prototype vaksin Covid-19. Itu artinya vaksin ini dipastikan aman. Jadi tidak ada alasan bagi kit untuk menolak vaksin,” tuturnya.

Baca Juga : GMNI Blitar Dukung Pemerintah Jalankan Program Vaksinasi Covid-19

Dukungan serupa juga disampaikan oleh pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sementara, pihak-pihak yang kontra dengan vaksin ini seperti Gus Nuril dan Ribka Tjiptaning. Gus Nuril tidak menganjurkan untuk vaksinasi Covid-19 karena ia mengklaim vaksin tersebut diambil dari DNA virus.  

"Karena vaksin harus diambil dari DNA virusnya, selama ini tidak ada yang menjelaskan soal DNA virusnya bahwa vaksin itu diambil dari mana," cetusnya.  

Penolakan tegas terhadap vaksin Covid-19 ini juga disampaikan oleh anggota DPR Komisi IX dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Ribka Tjiptaning. Melalui rapat kerja Komisi IX Selasa (12/1/2021) Ribka menyampaikan dengan tegas untuk menolak vaksin Covid-19. Ia bahkan mengaku rela menjual mobilnya untuk membayar denda daripada harus disuntik vaksin tersebut.

"Kedua, kalau persoalan vaksin saya tetap tidak mau divaksin maupun sampai yang 63 tahun bisa divaksin, saya sudah 63 tahun nih. Misalnya hidup di DKI Jakarta semua anak cucu saya dapat sanksi Rp 5 juta mending saya bayar jual mobil lah," ujarnya.

 

Topik
pro kontra vaksinasi Vaksin Covid 19 Rais Syuriah PBNU

Berita Lainnya