Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Sejarah mencatat, Rasulullah SAW pernah memiliki menantu yang bukan berasal dari kalangan muslim. Peristiwa itu terjadi saat Nabi Muhammad SAW belum menerima wahyu sebagai rasul.

Dilansir dari channel YouTube Inspira Studio, disebutkan jika Rasulullah SAW memiliki seorang menantu yang sangat jujur dan amanah. Dia adalah Abul Ash bin Robi yang dinikahkan dengan putri Rasulullah SAW, Zainab.

Baca Juga : Peringatan Maulid Nabi, DPD PKS Kota Malang: Momentum Peningkatan Iman dan Taqwa

Abu Ash merupakan saudagar ternama dan dikenal karena keahlian dan kejujurannya. Kesuksesannya didukung juga dengan hubungan saudaranya dengan istri pertama Rasulullah SAW, Khadijah.

Hubungan sebagai keponakan Khadijah yang membuatnya dekat dengan keluarga Rasulullah SAW. Khadijah berniat menikahkannya dengan Zainab binti Muhammad.

Ketika itu Nabi Muhammad belum menjadi Rasulullah. Nabi Muhammad merestui pernikahan itu lantaran kejujuran yang dimiliki Abul Ash.

Ahli Sejarah Islam, Budi Ashari sebagaimana video yang diunggah channel YouTube Inspira Stuido tersebut menyampaikan, Abu Ash merupakan sosok yang sangat jujur dan terpandang serta sangat amanah dan layak dinikahkan dengan anak Rasulullah.

Ketika Rasulullah SAW menyiarkan ajaran Islam, maka ketika ada laki-laki yang meminta untuk melamar, maka nikahkan dia. Asalkan pria itu diridhai agamanya dan amanahnya. Ketika dua hal itu dimiliki dua laki-laki, maka dia harus dinikahkan dengan perempuan yang diinginkan.

Pernikahan Abu Ash dan Zainab berlangsung sangat harmonis. Hingga akhirnya Rasulullah SAW diperintahkan menyampaikan Islam kepada keluarga dan kerabat terdekat.

Saat itu, beberapa keluarga terdekat dan Puteri Rasulullah SAW segera menerima Islam. Namun tidak dengan menantu-menantu Rasulullah SAW yang tak mau berpaling dari ajaran nenek moyang mereka.

Hal itu membuat Rasulullah SAW sedih atas perbedaan akidah di dalam rumah tangga putri Rasulullah SAW. Namun saat itu syariat untuk tidak menikah berbeda agama belum turun. Rasulullah SAW pun berdoa agar anaknya bisa dipisahkan dari suami-suami yang belum beriman.

Orang-orang Quraisy pun memaksa untuk menceraikan putri Rasulullah SAW. Hingga akhirnya dua putri Rasulullah SAW dikembalikan. Namun suami Zainab yaitu Abul Ash menolak menceraikan istrinya karena cinta yang dimiliki. Sehingga Zainab tetap hidup bersama Abul Ash. Saat peristiwa Hijrah sekalipun, Abul Ash mempertahankan istrinya

Hingga peperangan Badar terjadi dan Abul Ash menjadi salah satu yang dikirim untuk melawan muslimin. Namun itu bukan keinginannya. Dengan berat hati dia pun ikut dalam peperangan.

Di luar dugaan, kaum muslimin memenangkan peperangan dan banyak pasukan Quraisy yang ditawan, salah satunya Abul Ash. Tawanan pun harus dibebaskan. Zainab yang mendengar itu langsung mengirim kalung hadiah dari ibunya, Khadijah untuk menebus Abul Ash suaminya.

Apa yang dilakukan Zainab sangat menyentuh hati Rasulullah SAW. Kalung itu membuka kenangan terindah Rasulullah SAW dengan istrinya, Khadijah. Karena itu merupakan perhiasan milik Khadijah, istri yang sangat dicintai Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW kemudian meminta persetujuan para sahabat untuk membebaskan Abul Ash tanpa tebusan. Maka Abul Ash bebas dengan satu syarat.

Rasulullah SAW berkata, “Kembalikan putri saya, Zainab.”

Baca Juga : Penceramah Chudzil Ingatkan Nikmat Hidayah saat Santunan Anak Yatim di Lumajang

Persyaratan tersebut disanggupi Abul Ash dan sang istri dipulangkan kepada Rasulullah SAW dengan mengutus kerabatnya mengantar Zainab ke Madinah. Meskipun dia enggan berpisah dan dia tetap menunjukkan komitmennya kepada Rasulullah SAW.

Hari berikutnya dijalani Abul Ash tanpa Zainab di sisinya. Lantaran cintanya yang besar kepada Zainab dan hormatnya yang tinggi kepada sang mertua, meski ia tak menerima kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Sejarah tak mencatat apakah Abu Ash kembali menjadi pasukan melawan muslimin. Catatan lain disebut ia ditunjuk sebagai pimpinan kafilah untuk berdagang ke Negeri Syam. Di benaknya pun ada keinginan untuk bisa bertemu dengan istrinya, Zainab.

Maka dia berangkat memimpin 100 unta dan dia sukses dalam berdagang. Saat kembali, di tengah jalan kafilahnya bertemu dengan pasukan muslim yang menawan mereka. Kafilah itu dibawa ke Madinah dan Abu Ash lolos dari tawanan dan menyelinap ke Madinah.

Secara diam-diam Abul Ash mencari perlindungan istrinya. Setelah salat subuh, Zainab mengumumkan jika ia melindungi Abu Ash. Namun Rasulullah SAW mengingatkan syariat pernikahan berbeda keyakinan telah turun. Sehingga secara otomatis Zainab bercerai dengan Abul Ash.

Rasulullah SAW berkata, “Hormati dia, tapi ingat suamimu tak boleh mendekat padamu secara fisik. Karena telah turun syariat Allah SWT bahwa muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki yang bukan Muslim.”

Itu merupakan sebuah syariat yang harus ditegakkan apapun alasannya. Karena dalam Islam diajarkan agar seorang muslim harus memiliki istri muslimah, dan begitu juga sebaliknya.

Kalau memang harus dipisahkan dengan cinta yang luar biasa, jika suami murtad, maka pernikahan dibatalkan.

Pasca mendapatkan perlindungan dari Zainab, Abul Ash menemui muslimin dan meminta kafilahnya dipulangkan. Rasulullah SAW pun kembali melibatkan para sahabat untuk mengambil keputusan yang diambil. Akhirnya kafilah dagang yang dipimpin Abul Ash itupun dipulangkan.

Abul Ash pulang dengan selamat. Dia bersama dengan kafilahnya kembali ke Makkah dan mengembalikan hak orang Quraisy. Setelah itu dia mengumumkan keislamannya dan kembali ke Madinah untuk bertemu Rasulullah SAW.

Abul Ash kemudian kembali menjadi suami yang sah bagi Zainab. Kegembiraan keduanya pun sangat luar biasa. Namun kebersamaan itu hanya sebentar. Dua tahun kemudian Zainab wafat dan itu menjadi kesedihan luar biasa dari Abul Ash. Tak lama setelahnya Abu Ash wafat.