Webinar UIN Malang bertajuk A Critical Analysis of The Science-Religion Integration in Indonesia Universities. (Foto: istimewa)
Webinar UIN Malang bertajuk A Critical Analysis of The Science-Religion Integration in Indonesia Universities. (Foto: istimewa)

Pusat Studi Integrasi Islam dan Sains (PSIS) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang kembali menggelar website seminar (webinar) dengan tajuk A Critical Analysis of The Science-Religion Integration in Indonesia Universities, Rabu (4/11/2020).

Webinar kali kedua yang terselenggara dari salah satu unit di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) ini menghadirkan tokoh-tokoh sains yang juga jago ilmu agama.

Baca Juga : Jokowi Minta Perguruan Tinggi Tak Terjebak Rutinitas dan Buka Diri terhadap Paradigma Baru

Selain Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg, hadir sebagai pembicara Prof Dr Anas Saudi MA dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta dan Prof Dr Ir Abdullah Shahab MSc dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Mokhammad Yahya PhD selaku kepala PSIS UIN Malang menyampaikan bahwa pemateri kali ini ahli di bidang IPA dan yang satunya di bidang IPS. Namun selain itu ada kriteria istimewa lagi yang memberi nilai plus, yakni keduanya juga tokoh agama. "Jadi keahlian beliau yang membuat PSIS memilihnya sebgai narasumber," katanya.

Hadirnya dua tokoh ilmuwan dan agama ini memberikan pemikiran kritis terhadap integrasi keilmuan yang telah cukup lama diterapkan di UIN Maliki Malang. Apalagi integrasi keilmuan itu manjadi bagian dari visi kampus berlogo ulul albab ini.

Oleh karena itu, tambah dia, webinar yang menganalisis kritis terhadap Integrasi sains dan Islam di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) di Indonesia. "Secara khusus PSIS UIN Maliki ingin proses integrasi keilmuan yang telah dilakukan di UIN Maliki Malang bisa berjalan dengan baik," katanya.

Baca Juga : 2021 Kemendikbud Gelontorkan Dana Lebih untuk Kampus yang Lakukan 8 Perubahan Ini

Selanjutnya perlu follow up dari kedua narasumber yang nanti bisa diimplementasikan dalam proses mengintegrasikan ilmu sains dan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.