Mendikbud RI Nadiem Makarim paparkan transformasi dana pemerintah untuk pendidikan tinggi. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Mendikbud RI Nadiem Makarim paparkan transformasi dana pemerintah untuk pendidikan tinggi. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI telah meluncurkan Merdeka Belajar Episode Keenam: "Transformasi Dana Pemerintah untuk Perguruan Tinggi". 

Pada tahun 2020, dana pemerintah untuk pendidikan tinggi berada pada angka Rp 2,9 triliun. Nah, pada 2021 ini, dana pendidikan tinggi akan ditingkatkan sebanyak 70 persen.

Baca Juga : Jokowi Minta Perguruan Tinggi Tak Terjebak Rutinitas dan Buka Diri terhadap Paradigma Baru

"Dana pemerintah untuk pendidikan tinggi berada pada angka Rp 2,9 triliun di 2020 dan akan ditingkatkan sebanyak 70% pada 2021 menjadi Rp 4,95 triliun," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim disimak media ini dalam peluncuran Merdeka Belajar Episode 6.

Nah, Merdeka Belajar Episode Keenam ini mencakup tiga terobosan yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Indonesia. Pertama, insentif berdasarkan capaian indikator kinerja utama (untuk PTN). Kedua, dana penyeimbang atau matching fund untuk kerja sama dengan mitra (untuk PTN dan PTS). Ketiga, program kompetisi kampus merdeka atau competitive fund (untuk PTN dan PTS).

Kebijakan pertama pada Merdeka Belajar Episode Keenam adalah insentif kinerja yang disediakan bagi PTN (perguruan tinggi negeri), didasarkan pada capaian delapan indikator kinerja utama (IKU).

BACA JUGA: 2021 Kemendikbud Gelontorkan Dana Lebih untuk Kampus yang Lakukan 8 Perubahan Ini

"Untuk kali  pertama tambahan pendanaan PTN akan dihitung berdasarkan 8 capaian IKU," kata Nadiem.

Sebelumnya, pendanaan PTN ada dua. Yakni alokasi dasar yang berdasarkan kinerja penyerapan tahun-tahun sebelumnya dan afirmasi yang membantu perguruan tinggi yang tertinggal.

Nah, pada pendanaan PTN yang baru, alokasi dasar ini berdasarkan jumlah mahasiswa, jumlah prodi, dan mutu. Sementara afirmasi membantu perguruan tinggi yang tertinggal dan paling terdampak pandemi. Ditambah dengan insentif yang berdasarkan pada capaian IKU.

Jadi, sekarang bukan hanya ada alokasi dasar dan dana afirmasi, tapi ditambahkan juga dengan komponen insentif berdasarkan capaian 8 IKU. "PTN yang berhasil meningkatkan IKU atau mencapai target (gold standard) akan diberikan tambahan dana di 2021," kata Nadiem.

Alokasi dasar untuk PTN akan meningkat sebesar Rp 800 miliar dan ada bonus di atas itu, yakni Rp 500 miliar untuk PTN yang berhasil meningkatkan capaian IKU terbanyak dan mencapai target (gold standard) yang ditetapkan oleh Kemendikbud.

Kebijakan kedua adalah dana penyeimbang kontribusi mitra (matching fund). Matching fund ini berarti dukungan dana dari mitra yang telah dipilih oleh perguruan tinggi, akan disamakan dengan jumlah yang diberikan Kemendikbud dengan perbandingan 1:1 atau sampai dengan 1:3 untuk pendanaan yang terkait isu sosial dan prioritas nasional.

Bagaimana perguruan tinggi mencari mitranya? Kemendikbud telah menyediakan platform kedaireka.id. Di sini, perguruan tinggi secara bebas dapat mencari dan memilih mitra yang paling tepat.

"Calon mitra dapat mengajukan proposal permasalahan yang harus dipecahkan. Dan perguruan tinggi dapat mengajukan solusi yang akan dikaji," terangnya.

Baca Juga : 2021 Kemendikbud Gelontorkan Dana Lebih untuk Kampus yang Lakukan 8 Perubahan Ini

Untuk mendapatkan matching fund dari Kemendikbud, mitra dan perguruan tinggi dapat mengajukan proposal secara bersama-sama. Mitra dan perguruan tinggi harus dapat meyakinkan bahwa proyek yang akan dijalankan punya potensi besar meningkatkan delapan IKU perguruan tinggi dan memecahkan masalah mitra maupun masyarakat.

Melalui matching fund, kerja sama perguruan tinggi dan mitra dapat memastikan pembelajaran tetap relevan, pengetahuan dosen selalu diperbaharui, dan mahasiswa lebih siap menjajaki dunia kerja. "Total matching fund yang tersedia sebesar Rp 250 miliar," kata Nadiem.

Contoh dari matching fund sendiri misalnya, ada perguruan tinggi yang membangun infrastruktur untuk 5G dan bermitra dengan operator telekomunikasi atau BUMN. Contoh kedua, jika ada pergurian tinggi yang berinovasi dalam bidang biodiesel untuk mempertahankan kemandirian energi Indonesia. Contoh ketiga, penelitian pengolahan limbah sawit untuk pakan ternak oleh suatu yayasan sosial bersama perguruan tinggi bidang agrikultur.

"Melalui matching fund, kerja sama antara perguruan tinggi dan mitra dapat memastikan pembelajaran tetap relevan pengetahuan dosen selalu diperbaharui dan mahasiswa akan lebih siap menjajaki dunia kerja," timpalnya.

Kebijakan ketiga adalah program kompetisi Kampus Merdeka atau competitive fund. Dana kompetisi sebesar Rp 500 miliar dapat digunakan untuk mewujudkan aspirasi masing-masing perguruan tinggi dan mendorong potensi capaian delapan IKU.

"Ini adalah kesempatan baik bagi para civitas akademika, mulai dari dosen, ketua prodi, dekan, hingga rektor yang punya ide dan terobosan untuk mengukir warisan baik di kampus. Ini saatnya civitas akademika memikirkan apa perubahan yang ingin dikedepankan di kampus. Apa spesialisasinya. Di sinilah competitive fund berperan. Bahwa proposal-proposal akan masuk dan mewujudkan misi spesialisasi perguruan tinggi dan mendorong delapan IKU," paparnya.

Pemenang competitive fund akan dipilih berdasarkan dampak program dalam diferensiasi misi perguruan tinggi itu dan dalam meningkatkan capaian delapan IKU.

Mendikbud memberikan beberapa contoh program yang dapat menerima competitive fund, seperti program magang satu semester di perusahaan top dunia dengan pembimbing profesional, atau inovasi penurunan emisi karbon di perkotaan yang merupakan hasil penelitian perguruan tinggi. Bisa juga misalnya prodi kesehatan berkolaborasi dengan universitas top dunia yang melibatkan mahasiswa S2 dan S3.