Mendikbud Nadiem Makarim paparkan 8 indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Mendikbud Nadiem Makarim paparkan 8 indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Kabar gembira untuk perguruan tinggi di Indonesia. Pada tahun 2021 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI akan meningkatkan total anggaran yang disalurkan kepada perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) sebesar 70%.

Namun, peningkatan anggaran itu akan diberikan apabila perguruan tinggi mampu melakukan perubahan-perubahan tertentu. Perubahan-perubahan itu sudah dirangkum dalam delapan indikator kinerja utama (IKU). Kedelapan IKU ini akan dimonitor lalu diapresiasi dalam bentuk pendanaan oleh Kemendikbud.

Baca Juga : UIN Malang Kembali Adakan Konferensi Internasional Daring ICONETOS 2020

"Jadinya, kami akan meningkatkan anggaran. Tetapi dengan kondisi-kondisi bahwa perubahan yang kami inginkan itu tercapai," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim seperti yang disimak media ini dalam peluncuran Merdeka Belajar Episode 6: "Transformasi Dana Pemerintah untuk Perguruan Tinggi", Selasa (3/11/2020).

IKU pertama yakni lulusan mendapat pekerjaan yang layak. Artinya, pekerjaan dengan upah di atas UMR, menjadi wirausaha, atau melanjutkan studi.

Kedua, jumlah mahasiswa yang mendapat pengalaman di luar kampus, seperti magang, proyek desa, mengajar, riset, berwirausaha, hingga pertukaran pelajar.

Ketiga, jumlah dosen yang berkegiatan di luar kampus. Yakni yang mencari pengalaman industri atau berkegiatan di kampus lain. "Pengalaman di industri, pengalaman di kampus lain. Bagaimana pengalaman mereka dalam mencari perspektif baru, mencari pengalaman baru, dan experience learning yang baru," papar pria yang akrab disapa Mas Menteri tersebut.

Keempat, jumlah praktisi mengajar di dalam kampus. Artinya, merekrut dosen dengan pengalaman industri. "Berapa jumlah praktisi yang diundang untuk mengajar di dalam kampus tersebut, berapa jumlah praktisi dari berbagai macam sektor yang diundang untuk mengajar berbagai macam mata kuliah," terang Nadiem.

Ini yang Nadiem maksudkan dengan link and match. Yakni, bagaimana perguruan tinggi terbuka dengan berbagai jenis dosen yang datang untuk mengajar walaupun mereka masih industri atau di pekerjaan di sektor-sektor lain.

Kelima, jumlah riset yang dilakukan dosen-dosen di dalam universitas tersebut yang menghasilkan suatu manfaat nyata baik dari sisi inovasi produk, sisi kebijakan, dan lain-lain.

"Riset terapan seperti apa yang ada dan untuk riset yang akademis publikasi apa di tingkat internasional dan rekognisi apa yang didapatkan," imbuhnya.

IKU keenam adalah program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia, yakni dalam kurikulum, magang, dan penyerapan lulusan. Mitra kelas dunia itu bisa dari industri kelas dunia, universitas kelas dunia, dan NGO atau multilateral organisasi kelas dunia.

Baca Juga : Anak Bebas Pegang Hp dan Nonton Bokep, Psikolog Tulungagung Sebut Narkolema, Apa Itu?

"Semakin banyak prodi yang bermitra dengan berbagai macam sektor, semakin besar pernikahan masal yang akan terjadi dan semakin bermanfaat untuk mahasiswa kita," ungkap Nadiem.

IKU ketujuh adalah kelas yang kolaboratif dan partisipatif,  evaluasi berbasis proyek kelompok atau metode studi kasus (case study).

Dikatakan Nadiem, ini merupakan IKU yang spesial karena melihat di dalam ruang kelas di perguruan tinggi. Kemendikbud akan mengukur berapa jumlah mata kuliah yang penilaiannya berbasis project, bekerja sama untuk menciptakan suatu portofolio, dan menciptakan suatu hasil.

"Penilaiannya itu berat di project based learning. Mahasiswa bukan hanya belajar dari guru tetapi belajar dari teman-temannya juga, bekerja sama belajar berkolaborasi," jelasnya.

Jadi, tercipta interaksi dan perdebatan yang juga merupakan bagian dari penilaian. Hal ini dilakukan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan mengasah skill-skill yang penting untuk masa depan.

IKU kedelapan, program studi (prodi) berstandar internasional, yakni prodi yang memperoleh akreditasi tingkat internasional. "Pelajari 8 IKU ini dan itu akan menjadi pedoman perubahan bagi setiap perguruan tinggi dan akan ada apresiasi dalam bentuk pendanaan terhadap pencapaian IKU ini," pungkas Nadiem.