Ilustrasi (kiri), Psikolog Tulungagung Ivada Nurohmaniah (kanan) / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES
Ilustrasi (kiri), Psikolog Tulungagung Ivada Nurohmaniah (kanan) / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

"Awas, Narkotika Lewat Mata." Begitulah kata Ifada Nur Rohmaniah psikolog di Tulungagung saat memaparkan bahaya nonton film dewasa (bokep) untuk anak. 

Narkotika lewat mata disebut Ifada sebagai Narkolema tidak boleh diremehkan. Pasalnya, kasus demikian berdampak jangka panjang.

Baca Juga : UIN Malang Bagikan Masker, Alat Tulis, dan Snack Sehat untuk Anak-Anak di Sekitar Kampus 3

 

"Narkolema via pornografi pada anak ojo (jangan, red) diremehkan. Efeknya jangka panjang karena bisa merusak otak," kata Ifada Biro Konsultasi  Psikologi Ifada and Partners yang berkantor di Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 10 Tulungagung, Minggu (01/11/2020).

Lanjutnya, pornografi telah diakses usia anak-anak dengan  jumlah yang tidak bisa dibayangkan dan berpotensi menimbulkan kerusakan otak yang melebihi efek narkoba. Pornografi juga game (permainan online) bisa dikatakan Narkolema (narkotika lewat mata) berdampak pada adiksi atau kecanduan.

“Pornografi dapat memberi dampak langsung pada perkembangan otak anak dan remaja yang bisa menyebabkan kerusakan otak permanen bila tidak segera ditangani," jelasnya.

Dipaparkan oleh Ifada, dua bagian otak yang masing-masing berfungsi untuk berpikir logika (Pre Frontal Corteks atau bagian otak depan) dan emosi reaktif (sistem limbik atau bagian tengah otak).

Pada bagian Pre Frontal Corteks (PFC) dijelaskan, otak bertanggung jawab untuk mengontrol konsekuensi, tujuan masa depan, kecerdasan dan rasa peduli dengan orang lain. "Dengan rusaknya otak, maka anak dan remaja akan mudah mengalami bosan, merasa sendiri, marah, tertekan dan lelah," terangnya.

Selain itu, dampak yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan prestasi akademik dan kemampuan belajar serta berkurangnya kemampuan pengambilan keputusan. “Tapi sebenarnya pornografi pada anak lebih mudah diatasi ketimbang pada orang dewasa," ungkapnya.

Otak anak yang belum berkembang dengan sempurna sebenarnya bersifat neuro plastic (mudah dibentuk). Di satu sisi akan berdampak buruk karena pengaruh media dan pornografi akan lebih mudah masuk.

"Tapi di sisi lain pengaruh tersebut bisa cenderung lebih mudah dihilangkan bila ada usaha yang dilakukan perlahan untuk memulihkannya. Terutama usaha yang dilakukan oleh orangtua. Jangan remehkan kondisi ini bila terjadi, minta bantuan profesional ke psikolog," tandasnya.

Potensi anak melihat film dewasa di Tulungagung menjadi persoalan baru. Apalagi di masa pandemi Covid-19 yang panjang ini, anak-anak sekolah belajar wajib daring atau menggunakan handphone sambil mengerjakan tugas di rumah.

Tak jarang, orang tua kesulitan mengendalikan anaknya untuk memegang handphone di luar keperluan mengikuti pelajaran sekolah.

"Jika di rumah, saya bisa mengawasi penggunaan hp pada anak. Namun, di mana-mana ada layanan wifi gratis dan jika bermain anak pasti memaksa membawa gadget," kata Putri, orang tua siswa SMP di Tulungagung menceritakan perilaku anaknya.

Sekolah tatap muka, dikatakan Putri, sangat membantu mengurangi ketergantungan memegang handphone bagi anaknya.

Diceritakannya, jika pagi hingga siang anak belajar di sekolah, kemudian sore hari belajar ngaji di taman pendidikan Alquran dan malamnya seminggu 3 kali ikut les.

Baca Juga : Pekan Kebudayaan Daerah, Disdikbud Libatkan UMKM dan Penyandang Disabilitas

 

"Pegang hp bisa dibilang hanya jeda waktu antara kegiatan itu. Namun sekarang sebaliknya," ujar ibu yang punya kesibukan berdagang keliling itu.

Putri kemudian menceritakan ia terkejut saat anaknya tidur dan melihat jejak pencarian ditemukan beberapa kali mengakses film dewasa. Bahkan, setelah di cari dalam memori penyimpanan ditemukan juga film bokep (porno) di dalamnya.

Menanggapi masalah ini, Syaifudin Zuhri, Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung menjelaskan, di masa pandemi ini pemerintah telah memenuhi kebutuhan daring anak didik dengan paket data 35 MB untuk akses pembelajaran dan internet.

"Dari dulu kami (Dinas) menyampaikan PJJ (pembelajaran jarak jauh) sangat membutuhkan kerja sama antara orang tua dengan guru. Orang tua wajib mengawasi anaknya berproses belajar di rumah. Termasuk di dalamnya penyimpangan penggunaan HP oleh anak," kata Syaifudin.

Dirinya tidak menampik, jika pembelajaran tatap muka sangat efektif membantu proses belajar anak sekaligus mengurangi penggunaan handphone.

"Semua pihak sangat menginginkan proses pembelajaran tatap muka dimulai. Tapi keadaan lah yang belum memungkinkan  hal itu dilaksanakan," jelasnya.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Haryo Dewanto, menegaskan, orang tua jika kesulitan mengendalikan anak yang ketagihan handphone di luar tugas sekolah dapat menghubungi Guru BK atau yang juga sering disebut dengan istilah bimbingan konseling.

"Pengendalian ada pada guru BP (BK-red) sekolah, setelah orang tuanya melapor," kata pria yang akrab dipanggil Yoyok itu.

Merujuk hasil survei yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika di tahun sebelum adanya Covid-19 mengungkapkan, ada 65,34 persen anak usia 9 hingga 19 tahun yang menggunakan gawai atau gadget untuk mengakses pornografi.