Polisi saat mengamankan pelajar yang akan gabung unjuk rasa (Hendra Saputra)
Polisi saat mengamankan pelajar yang akan gabung unjuk rasa (Hendra Saputra)

15 pelajar yang sempat diamankan polisi saat akan mengikuti demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Kota Malang, Selasa (20/10/2020) akhirnya dipulangkan setelah pihak Polresta Malang Kota memanggil orang tuanya lebih dulu.

Demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Kota Malang diwarnai pencegahan bergabungnya para pelajar ke kumpulan mahasiswa dan buruh. Hal tersebut dikhawatirkan dimanfaatkan oknum yang bisa menunggangi aksi sehingga berujung pada kerusuhan.

Baca Juga : Molor 6 Jam, Pendemo Mulai Padati Perempatan Rajabali Kota Malang

Para pelajar itu ditangkap saat tiba-tiba akan bergabung dengan Aliansi Malang Melawan yang melakukan orasi di perempatan Rajabali. Diketahui anak di bawah umur itu masih berstatus sebagai pelajar SMP dan SMA/SMK. Dari anak di bawah umur yang diamankan tersebut, ditemukan pasta gigi serta stik pancing.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata, mengatakan, pihaknya tidak melakukan penahanan kepada anak di bawah umur yang diamankan tersebut. 

"Kami lebih menekankan kepada pembinaan saja. Anak-anak ini akan kami kembalikan kepada orang tuanya. Untuk dilakukan pembinaan oleh orang tua dari anak-anak tersebut," ujar Leo.

Menurut Leo, dari interogasi yang dilakukan anggota di lapangan, diketahui bahwa anak di bawah umur itu hendak ikut aksi unjuk rasa karena mendapat ajakan dari grup WhatsApp bersama teman-temannya.

Baca Juga : Pengamanan Diperketat, Pergerakan Massa Aksi Belum Juga Terlihat

"Para anak di bawah umur itu ikut karena mendapatkan info dari grup WA. Jadi mereka punya grup WA sendiri, dan mendapat ajakan demo dari grup tersebut. Alasan dari ajakan itu sebenarnya belajar bersama, akan tetapi kenyataannya bukan belajar bersama, melainkan ajakan demo," ungkapnya.