Tampilan peredaran cuaca yang dihasilkan dari radar cuaca. (Foto: Istimewa)
Tampilan peredaran cuaca yang dihasilkan dari radar cuaca. (Foto: Istimewa)

Fenomena Iklim La Nina yang pada Bulan Oktober 2020 ini melanda Indonesia hingga beberapa bulan ke depan, membuat BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) serta BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di masing-masing daerah menyiapkan langkah strategis.

Langkah strategis tersebut juga telah dipersiapkan oleh BPBD Kabupaten Malang dalam menghadapi iklim La Nina yang membuat intensitas curah hujan semakin tinggi. 

Baca Juga : Lintang Kemukus Muncul di Langit Tulungagung, Begini Penjelasan LAPAN

Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan, mengatakan, bahwa untuk di Kabupaten Malang terkait beberapa mitigasi bencana telah dipersiapkan jauh-jauh hari. Mengingat kondisi dan letak geografis di Kabupaten Malang yang sangat rentan sekali mengalami bencana alam karena berdekatan dengan gunung, pantai, serta tebing-tebing. 

Jadi setiap saat, potensi bencana bakal pasti ada. Artinya, terkait fenomena iklim La Nina yang dikhawatirkan menyebabkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan lain sebagainya, persiapan mitigasi bencana telah dilakukan. 

"Karena memang wilayah Kabupaten Malang yang geografisnya bermacam-macam ini memiliki potensi bencananya masing-masing," ungkapnya saat dikonfirmasi oleh pewarta. 

Bambang mengatakan, bahwa yang menjadi kewaspadaan pada saat fenomena iklim La Nina ini adalah curah hujan yang tinggi, dikhawatirkan menyebabkan beberapa bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan lain-lain. 

Lanjutnya, bahwa perubahan iklim dan cuaca yang cukup ekstrim juga mendukung terjadinya bencana alam yang seringkali melanda. "Perubahan cuaca itu tidak mengenal batas wilayah. Seharusnya kalau dari jadwalnya, masih musim panas. Tapi terkadang turun hujan. Hujannya pun terkadang juga ekstrim," terangnya. 

Selain langkah-langkah antisipasi dan persiapan pada pra bencana, saat bencana dan pasca bencana, BPBD juga terus melakukan koordinasi salah satunya dengan stasiun BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) untuk mengetahui sebaran potensi bencana. 

Baca Juga : Diterjang Hujan, Bunga Tanaman Apel Rontok, Petani di Kota Batu Terancam Merugi

"Jelas rutin dengan stasiun cuaca Brawijaya. BMKG yang membidangi cuaca dan gempa. Pihak kemaritiman karena wilayah kita juga ada yang pesisir, rekan-rekan di bandara juga kami ajak koordinasi," ujarnya. 

Selain berkoordinasi dengan pihak-pihak tersebut, BPBD juga menjalin koordinasi dengan lembaga-lembaga yang memiliki radar cuaca untuk mengetahui peredaran sebaran cuaca. Sedangkan untuk sosialisasi kepada masyarakat terkait pra bencana, saat bencana dan pasca bencana, serta khususnya terkait potensi-potensi bencana yang diakibatkan oleh fenomena iklim La Nina juga telah dilakukan. 

"Saya rasa masyarakat pastinya paham. Ada atau tidak adanya La Nina, serta ada atau tidak adanya perubahan cuaca yang ekstrim, sosialisasi kepada masyarakat dan koordinasi juga terus kami lakukan," tutupnya.