Puan Maharani (Foto: IndependensI)
Puan Maharani (Foto: IndependensI)

Polemik pernyataan Puan Maharani soal Provinsi Sumatera Barat bisa mendukung negara Pancasila hingga kini masih ramai diperbincangkan.  Akibatnya, Puan Maharani mendapat berbagai cibiran dari beberapa pihak di kalangan politikus dan masyarakat, khususnya Sumatera Barat.  

Mereka tidak terima saat Puan menyebut soal Sumbar yang harus mendukung Pancasila. Pasalnya, banyak pahlawan nasional  yang berasal dari provinsi tersebut dan  turut mencetuskan Pancasila.  Bahkan, salah satu proklamator, yakni Mohammad Hatta, berasal dari Sumbar. Sehingga mereka menilai Puan tidak pantas saat menyampaikan pernyataan tersebut.  

Baca Juga : Tokoh Sesepuh Muhammadiyah Malik Fadjar Meninggal Dunia, Dikenal Banyak Bekerja ketimbang Bicara

Namun, kali ini giliran Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah yang turut memberikan tanggapan di tengah cibiran yang tertuju kepada Puan. Basarah menilai ketua DPP PDIP tersebut akan naik kelas setelah ujian yang dialami saat ini.  

Hal itu diungkap Basarah dalam program Indonesia Lawyer Club (ILC) yang bertajuk "Sumbar Belum Pancasilais?" pada Selasa (8/9/2020) malam.  

Basarah lantas mengatakan masyarakat patut bersyukur bahwa Puan lahir dari keluarga proklamator, yakni sang kakek yang merupakan Presiden Pertama RI Soekarno.  

Menurut Basarah, sebelumnya juga sudah banyak tokoh besar bangsa dari Minang, seperti Bung Hatta yang diketahui menjadi wakil presiden pertama RI.  

“Jadi, ini adalah persembahan masyarakat Minang kepada bangsa Indonesia sehingga mempersembahkan Bung Hatta sebagai wakil presiden pertama RI sejak awal merdeka, kemudian sekarang masyarakat Minang mempersembahkan Uni Puan Maharani kepada bangsa Indonesia sebagai ketua DPR RI pertama (perempuan),” ungkap Basarah.

Baca Juga : Jelang Pilkada 2020, Berikut Deretan Calon Kepala Daerah yang Positif Covid-19

Lebih lanjut, Basarah mengungkapkan jika akan ada hikmah yang bisa dipetik dari balik peristiwa ini.   “Saya percaya peristiwa ini pasti akan membuat Mbak Puan naik kelas. Ini adalah proses dialektika sebagai pemimpin bangsa,” katanya.

“Dan saya percaya juga barang siapa dizalimi hidupnya, Tuhan akan mengangkat derajatnya. Bung Karno dulu dizalimi oleh kolonialisme Belanda, kolonialisme asing dan kemudian akibat penzaliman itu Bung Karno menjadi presiden RI. Bu Mega dizalimi di zaman Orde Baru, akibatnya Bu Mega jadi presiden perempuan pertama RI,” lanjut Basarah.