Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Kontroversi Panjat Pinang: Dari Warisan Belanda, Festival Hantu Tionghoa, sampai Pelarangan Lomba

Penulis : Dede Nana - Editor : Yunan Helmy

19 - Aug - 2019, 17:19

Placeholder
Lomba panjat pinang masih terus menyimpan kontroversi sampai saat ini. (Nana)

Merayakan hari ulang tahun kemerdekaan RI setiap tahun menjadi tidak lengkap tanpa adanya lomba panjat pinang. Kemeriahan dengan gelak tawa masyarakat, kengototan para peserta yang tak pantang menyerah untuk menaklukkan licin dan tingginya pinang dengan gelantungan berbagai hadiah sampai pada sisi guyub masyarakat pedesaan dalam lomba panjat pinang telah membuatnya khas dalam setiap perayaan kemerdekaan Indonesia.

Walau semakin langka ditemukan, panjat pinang tetap membekas dalam hati masyarakat di setiap merayakan kemerdekaan. Selain mulai langkanya pohon pinang, bayang-bayang jejak sejarah terkait perlombaan itu juga masih menjadi kontroversi di dalam masyarakat. Yakni, lomba panjat pinang merupakan warisan kolonial Belanda yang digelar dalam upaya untuk semakin mengerdilkan masyarakat Indonesia. 

Buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal karya Fandy Hutari, terbitan tahun 2011, secara gamblang menggambarkan lomba panjat pinang sebagai warisan kolonial Belanda. Tahun 1930-an, menurut Fandy, panjat pinang memang merupakan hiburan bagi orang Belanda dalam berbagai acara atau hajatan besar yang mereka gelar. Peserta panjat pinang tentunya orang-orang pribumi yang dengan setengah mati menaklukkan licinnya pohon yang termasuk ke dalam famili Arecaceae pada ordo Arecale itu.
Sedangkan orang-orang Belanda menonton perjuangan para pribumi dengan tertawa-tawa 

"Perlombaan memanjat pohon pinang pada masa ini hanya diikuti oleh orang-orang pribumi. Sedangkan orang-orang Belanda cuma tertawa-tawa menyaksikan orang pribumi mati-matian memanjat pohon pinang. Panjat pinang biasa juga diadakan oleh keluarga pribumi kaya-raya, antek kolonial," tulis Fandy dalam bukunya.

Panjat pinang pun terus dipelihara di era penjajahan Belanda, bahkan sampai Indonesia merdeka. Tercatat dalam beberapa pernyataan warga yang ditemui MalangTIMES di sebagian wilayah selatan Malang, panjat pinang marak tahun 1980-an.

"Di wilayah sekitaran Sumberpucung dan sekitarnya, lomba panjat pinang digelar di setiap RT maupun RW. Jadi. meriah banget waktu itu dan jadi hiburan bagi masyarakat setiap kali hari kemerdekaan," ucap Mutholib (76), warga Sumberpucung, mengenang kemeriahan lomba panjat pinang. "Saat itu hadiahnya biasa saja, tapi keramaian dan kegembiraannya luar biasa," imbuhnya.

Panjat pinang dari beberapa literatur lainnya ternyata memiliki jejak sejarah yang terbilang tua. Sebelum mewabah dan jadi bahan lelucon Belanda untuk semakin mengerdilkan kemanusiaan pribumi saat itu, lomba tersebut ternyata telah dikenal dan ada pada era Dinasti Ming (1368–1644).

Dalam tulisan Korelasi Perlombaan Panjat Pinang di Indonesia dengan Budaya Tionghoa karya Rianto Jiang, disebutkan bahwa panjat pinang tercatat pertama pada masa Dinasti Ming dan dikenal sebagai qiang-gu. Tradisi itu berkaitan erat dengan festival hantu yang menjadi bagian dalam budaya populer di Fujian, Guangdong dan Taiwan saat ini.

Sama-sama menimbulkan kontroversi, di era Ming, panjat pinang kerap menimbulkan korban jiwa. Sehingga di era Dinasti Qing yang menggulingkan Dinasti Ming, panjat pinang dilarang untuk digelar.

Tapi, panjat pinang yang telah jadi tradisi terus tumbuh. Laten. Menyusup dan tetap digelar dalam berbagai aktivitas masyarakat. Bahkan sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, panjat pinang jadi bagian tak terpisahkan dalam perayaan festival hantu.

Pesona panjat pinang di berbagai lokasi di Taiwan secara teknis tak jauh berbeda dengan yang masih digelar di Indonesia. Baik tata cara permainan yang biasanya beregu sampai pada hadiah-hadiah menarik yang disematkan di puncak pohon pinang. Yang menjadi pembeda adalah, tinggi pohon pinang yang harus dipanjat. 

Di Taiwan, tinggi panjat pinang bukan hanya setinggi pohonnya saja. Tapi, tingginya satu bangunan dari pohon pinang dan kayu-kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. 

Kontroversi kembali mencuat atas lomba panjat pinang tersebut di berbagai wilayah. Bahkan, pada hari ulang tahun kemerdekaan ke-74, Pemerintah Kota (Pemkot) Langsa, Aceh, melarang lomba panjat pinang. Dasarnya adalah sejarah kelam dan merupakan warisan kolonial Belanda.

Tidak main-main, Pemkot Langsa bahkan mengeluarkan larangan tertulis dalam surat Instruksi Wali Kota Langsa bernomor 450/2381/2019 tentang peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2019. 
Dalam surat tersebut, Usman Abdullah -sang wali kota- menginstruksikan seluruh kepala organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkot Langsa, kepala desa, dan pimpinan BUMN/BUMD untuk tak menyelenggarakan lomba panjat pinang yang dinilai nya tidak ada nilai edukasinya.

"Tidak melaksanakan kegiatan panjat pinang di setiap gampong dikarenakan secara historis merupakan peninggalan kolonial Belanda dan tidak ada nilai edukasinya," begitulah isi larangan lomba panjat pinang dalam poin keempat dari surat itu.

Tentunya, larangan itu juga menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat yang menilai bahwa lomba panjat pinang tetap memiliki nilai edukasi di masyarakat saat ini. Hal ini misalnya, terlihat dari yang dicatat dalam Bibliografi Beranotasi: Hasil Penelitian Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang (2009) suntingan Nismawati Tarigan. Di situ, disebutkan permainan panjat pinang memang berfungsi sebagai hiburan dan diadakan pada waktu perayaan kemerdekaan Indonesia. 

"Setiap permainan tradisional mempunyai fungsi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, antara lain gotong-royong, demokrasi, pendidikan, ketangkasan, keuletan, sosial, seni, hingga sportivitas. Terlepas dari kontroversi maupun risiko yang bisa muncul, panjat pinang tentunya juga mengandung sisi positif ini," begitulah kutipan terkait lomba panjat pinang.

Hal senada juga disampaikan oleh Mutholib yang menegaskan bahwa lepas dari kontroversi yang ada, lomba panjat pinang adalah bagian dari sebuah hiburan dengan nilai yang dibutuhkan masyarakat saat ini. "Pandangan panjat pinang adalah warisan Belanda untuk menghina pribumi, saya pikir semakin hilang saat ini. Kita melihatnya dari sisi lain, yaitu hiburan rakyat. Kalau lebih filosofisnya lomba panjat pinang mengandung unsur gotong royong, kerja keras dan kebersamaan," ucap dia.

 


Topik

Serba Serbi malang berita-malang Lomba-panjat-pinang- Warisan-Belanda Festival-Hantu-Tionghoa hari-ulang-tahun-kemerdekaan-RI



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Batu Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Dede Nana

Editor

Yunan Helmy