Ranu Pani Makin Dangkal, TNBTS Ajak Masyarakat Segera Pulihkan
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
30 - Jul - 2025, 02:12
JATIMTIMES - Ranu Pani, danau yang berada di kaki Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, kini tengah menghadapi masalah. Proses pendangkalan yang terus berlangsung membuat danau ini makin menyusut dari waktu ke waktu. Jika tak ada langkah nyata, Ranu Pani bisa saja hilang dan hanya tinggal cerita.
Lewat unggahan akun Instagram resmi @bbtnbromotenggersemeru, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengajak masyarakat untuk turut andil memulihkan Ranu Pani. BB TNBTS mengangkat isu "Memulihkan Ranu Pani: Melindungi kedalaman dan menjaga nafas yang mulai menghilang."
Baca Juga : Gempa M 8,7 Rusia, Beberapa Wilayah Indonesia Berpotensi Tsunami
Untuk diketahui, danau yang menjadi pintu masuk pendakian Semeru ini punya peran sebagai ekosistem air tawar. Tapi, kini danau tersebut mengalami perubahan karena sedimentasi dan aktivitas manusia yang tak terkendali.
Data dari BB TNBTS menyebut, pada tahun 2004, luas badan air Ranu Pani masih mencapai 5,9 hektare. Tahun 2016 menyusut jadi 4,7 hektare. Kini, di tahun 2025, danau ini hanya tersisa sekitar 3,4 hektare.
“Kalau tidak segera kita pulihkan, Ranu Pani bisa saja hilang dan tinggal dongeng pengantar tidur,” tulis BB TNBTS dalam unggahannya.
Menurut penjelasan BB TNBTS, masalah ini terjadi karena adanya aktivitas pertanian di sekitar danau. Semakin bertambahnya jumlah penduduk, yang mayoritas petani, membuat lahan digarap lebih intensif.
Sayangnya, pengelolaan di lereng gunung seperti ini rentan menyebabkan erosi, apalagi saat musim hujan datang.
Dampaknya, tanah dari pertanian bersama residu pupuk, pestisida, dan herbisida mengalir ke danau.
Di musim hujan, limbah ini membentuk endapan yang menyebabkan danau makin dangkal. Tak hanya dari pertanian, pertambahan perumahan juga ikut menyumbang limbah rumah tangga.
“Letak Ranu Pani berada di titik terendah, sehingga saat hujan, air dari permukiman dan lahan pertanian membawa sedimen langsung masuk ke danau,” jelas TNBTS.
Kondisi ini memicu fenomena eutrofikasi, dimana air menjadi terlalu subur, alga dan tumbuhan air tumbuh berlebihan hingga menutup permukaan dan mempercepat pendangkalan.
Melihat situasi ini, BB TNBTS mulai bergerak. Sejumlah langkah pemulihan sudah dijalankan untuk menyelamatkan Ranu Pani.
Baca Juga : Upaya Bank CIMB Niaga Lebih Dekat Masyarakat: Layanan Digital Lengkap dan Praktek Bisnis Berkelanjutan
Beberapa upaya yang dilakukan antara lain:
• Mengendalikan spesies asing invasif seperti Salvinia molesta, Azolla pinnata, dan Alternanthera sessilis.
• Mengedukasi warga sekitar lewat kampanye pertanian ramah lingkungan.
• Menanam kembali vegetasi asli seperti Cemara Gunung, Danglu, dan Edelweiss di sekitar danau.
Tahun ini, TNBTS juga akan lebih agresif. Targetnya:
• Menyedot lumpur dari danau seluas 1,6 hektare, setara dengan sekitar 10.000 meter kubik sedimen.
• Membuat sediment trap atau perangkap lumpur semi alami seluas 0,4 hektare.
• Membangun tanggul penahan sedimen semi alami di area seluas 0,5 hektare.
“Ranu Pani adalah mangkuk. Sedimentasi yang terus menerus selama musim hujan dari lahan pertanian dan pemukiman menjadikannya semakin dangkal dan menyempit,” ujar BB TNBTS.
BB TNBTS juga mengajak masyarakat untuk menjaga Ranu Pani. Karena ini harus jadi tanggung jawab bersama, termasuk warga, komunitas konservasi, petani, sampai para pendaki dan wisatawan.
"Pendangkalan yang terjadi bukan semata-mata gejala alam, melainkan cerminan interaksi negatif antara manusia dengan ekosistem alami yang rapuh. Menjadi pelajaran penting bagi kita semua untuk menyadari kesalahan ini dan segera memperbaikinya secara bersama-sama,” tulis mereka.
Selain pemulihan danau, edukasi soal praktik pertanian berkelanjutan juga penting. Kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, dan komunitas lingkungan jadi kunci menjaga keberlanjutan danau yang punya nilai budaya dan ekologis ini.
“Mari bersama menjaga Ranu Pani!” pungkas BB TNBTS.
