Bantu Pemulihan Psikologis Anak Korban Bencana Aceh, Tim Pengabdian FPsi UM Terapkan PFA CERIA
Reporter
Mutmainah J
Editor
A Yahya
20 - Jul - 2026, 09:47
JATIMTIMES – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (FPsi UM) yang diketuai oleh Rizka Fibria Nugrahani, S.Psi., M.Si., melaksanakan program Psychological First Aid (PFA) CERIA (Cerita, Ekspresi, Relaksasi, Imajinasi, Apresiasi) bagi anak-anak korban bencana di Desa Baling Karang, Aceh Tamiang, pada 16 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek kesehatan mental, pendidikan, dan penguatan ketahanan masyarakat pascabencana.
Program PFA CERIA dikembangkan sebagai respons terhadap kebutuhan psikologis anak setelah mengalami bencana. Pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika air telah surut dan aktivitas masyarakat mulai kembali berjalan. Bagi anak-anak, pengalaman menghadapi situasi yang mengancam, perubahan lingkungan, dan ketidakpastian dapat meninggalkan rasa takut, kecemasan, kesulitan mengekspresikan emosi, hingga berkurangnya rasa aman.
Baca Juga : Batang Lapuk, Pohon Pinus 12 Meter di Songgoriti Tumbang hingga Robohkan Tiang Listrik
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Pengabdian FPsi UM bekerja sama dengan Rumah Relawan Remaja (3R) menghadirkan pendekatan Psychological First Aid yang dikemas melalui aktivitas bermain dan media ramah anak. Kegiatan ini diikuti oleh 40 siswa serta melibatkan perangkat desa dan relawan sebagai bagian penting dalam membangun dukungan psikososial berbasis komunitas.
Menurut Rizka Fibria Nugrahani, S.Psi., M.Si., selaku Ketua Tim Pengabdian, CERIA dikembangkan agar dukungan psikologis awal dapat diberikan kepada anak melalui aktivitas yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan tahap perkembangannya. “Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali lingkungan secara fisik. Anak-anak juga membutuhkan ruang yang aman untuk mengenali perasaan, mengekspresikan emosi, dan kembali membangun rasa aman setelah mengalami bencana,” jelasnya.
PFA CERIA mengajak anak terlibat aktif dalam lima rangkaian aktivitas, yaitu Cerita, Ekspresi, Relaksasi, Imajinasi, dan Apresiasi. Anak-anak diajak bercerita secara aman, mengenali dan mengekspresikan perasaan, melakukan latihan relaksasi sederhana, membangun imajinasi positif, serta memberikan apresiasi kepada diri sendiri dan orang-orang yang telah memberikan dukungan.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Melalui Buku Aktivitas CERIA, lembar kerja bergambar, permainan emosi, dan aktivitas seni-ekspresif, anak-anak belajar mengenali serta mengelola perasaannya melalui pengalaman bermain yang menyenangkan dan ramah anak.
Tidak hanya menyasar anak, kegiatan ini juga memperkuat kapasitas relawan dalam menerapkan prinsip Psychological First Aid. Keterlibatan perangkat desa dan relawan menjadi bagian strategis dalam memastikan perhatian terhadap kebutuhan psikososial anak dapat terus berlanjut setelah kegiatan pengabdian selesai.
Baca Juga : Pria di Turen Curi Emas Tetangga untuk Judol, Beraksi saat Korban Pergi ke Masjid
Kegiatan ini mendukung SDG 3: Good Health and Well-being melalui penguatan kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis anak; SDG 4: Quality Education melalui aktivitas edukatif yang mendukung perkembangan sosial-emosional dan kesiapan anak untuk kembali belajar; serta SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions melalui penguatan ketahanan psikososial, perlindungan anak, dan keterlibatan komunitas dalam membangun lingkungan yang aman dan damai.
Melalui implementasi PFA CERIA di Desa Baling Karang, Tim Pengabdian FPsi UM berharap media ini dapat dikembangkan sebagai model pendampingan psikososial yang praktis, inklusif, dan mudah diterapkan di wilayah terdampak bencana lainnya. Kolaborasi antara perguruan tinggi, komunitas relawan, perangkat desa, dan masyarakat menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya membangun kembali lingkungan fisik, tetapi juga mengembalikan rasa aman, keceriaan, dan harapan anak-anak untuk tumbuh dan melanjutkan masa depan mereka.
