Investor Asing Ramai-ramai Cabut dari RI, Ini Deretan Penyebabnya
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
22 - May - 2026, 09:32
JATIMTIMES - Pasar modal Indonesia tengah berada dalam tekanan berat. Investor asing tercatat terus melakukan aksi jual dalam beberapa waktu terakhir, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga memicu kekhawatiran pelaku pasar.
Pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG anjlok 3,54 persen atau turun 223,56 poin ke level 6.094,94. Pelemahan tersebut sekaligus memperpanjang tren merah IHSG selama delapan hari perdagangan berturut-turut.
Baca Juga : Heboh Spanduk Permohonan Maaf di Gerbang UGM, Isinya Singgung Prabowo-Gibran
Secara akumulatif, IHSG tercatat sudah melemah lebih dari 15 persen sejak awal Mei 2026. Tekanan datang dari kombinasi sentimen global dan kebijakan domestik yang dinilai membuat investor asing memilih keluar dari pasar Indonesia.
Salah satu faktor yang paling banyak disorot pasar adalah kebijakan terbaru pemerintah terkait tata kelola ekspor sumber daya alam.
Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam. Dalam aturan itu, penjualan ekspor komoditas seperti sawit, batu bara, hingga ferro alloy diwajibkan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah.
Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran investor karena dinilai dapat memperpanjang rantai birokrasi serta menekan margin perusahaan swasta yang selama ini mengandalkan ekspor langsung.
Dalam pidatonya di DPR RI, Prabowo mengatakan aturan itu dibuat untuk memperkuat pengawasan negara terhadap hasil ekspor sumber daya alam.
"Hari ini pemerintah Republik Indonesia yang saya pimpin menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam," kata Prabowo.
"Penerbitan Peraturan Pemerintah ini adalah langkah strategis untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam kita. Penjualan semua hasil sumber daya alam kita, kita mulai dari minyak kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi, kita wajibkan harus dilakukan penjualannya melalui BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah RI sebagai pengekspor tunggal," sambungnya.
Prabowo menjelaskan hasil penjualan ekspor nantinya tetap diteruskan kepada pelaku usaha terkait.
"Dalam artian hasil dari setiap penjualan ekspor akan diteruskan oleh BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah kepada pelaku usaha pengelola kegiatan tersebut. Ini bisa dikatakan sebagai marketing facility. Tujuan utama kebijakan ini adalah memperkuat pengawasan dan monitoring," ujarnya.
Di tengah kondisi pasar yang tertekan, akun Instagram @auditpublik turut mengunggah pernyataan trader sekaligus praktisi pasar saham Indonesia, Michael Yeoh. Dalam video tersebut, Michael menyebut investor asing sebenarnya sudah mulai keluar dari Indonesia sejak awal pemerintahan Prabowo.
"(Investor Asing) Itu udah isu dari awal tahun bro. Dari awal pemerintahan Pak Prabowo terpilih, asing itu udah rutin keluar," ujarnya.
Michael menilai salah satu program yang menjadi perhatian investor asing adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Salah satu yang paling mereka against itu adalah MGB. Bagi mereka, kita kasih makan gratis ke anak-anak itu bukan usia produktif bro," katanya.
Ia kemudian menjelaskan pandangan investor asing terhadap program tersebut.
"Kasih makanan ke anak-anak umur berapa sih? 7 tahun, 8 tahun, 9 tahun, 10 tahun. Mereka bisa produktif kapan? 10 tahun lagi dong," lanjutnya.
"Jadi kalau kita kasih makan gratis keluarnya tai kata mereka. Kalau kita kasih pendidikan jadinya produktif," tambah Michael.
Baca Juga : Pria di Malang Divonis 11 Bulan Penjara dan Denda Rp100 Juta Usai Menang Lomba Menulis Hadiah Narkotika
Menurut dia, sebagian investor asing menganggap anggaran MBG seharusnya dialihkan ke sektor lain yang dinilai lebih produktif dalam jangka pendek.
"Dan harusnya bagi mereka mungkin MGB-nya harus dialokasikan ke yang lain. Dan itu ngebuat pressure dari asing keluar, keluar, keluar," ujarnya.
Selain MBG, Michael juga menyinggung pembentukan Danantara yang ikut menjadi perhatian investor asing.
"Nggak lama setelah itu ada Danantara. Gue nggak tau Danantara efek negatif atau jelek. Tapi yang pasti asing itu nggak suka kalau seandainya bisnis daripada BUMN dicampur adukan dengan politik," katanya.
Di sisi lain, pasar juga diguncang keluarnya sejumlah saham besar Indonesia dari indeks global MSCI dan FTSE Russell. Beberapa saham grup Prajogo Pangestu seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Barito Renewables Energy Tbk, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk dicoret dari indeks MSCI Global Standard Index efektif mulai 1 Juni 2026.
Keputusan tersebut memicu aksi jual besar-besaran dari investor institusi global dan passive fund.
Tekanan lain pasar modal indonesia juga datang dari nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level terendah terhadap dolar Amerika Serikat. Untuk menahan pelemahan tersebut, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Kenaikan suku bunga dinilai dapat meningkatkan biaya pinjaman korporasi, terutama perusahaan dengan utang besar dan sektor yang sensitif terhadap bunga tinggi.
Selain itu, arus modal asing keluar atau capital outflow juga masih deras. Investor asing tercatat melakukan aksi net sell ratusan miliar rupiah dalam sehari.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin berhati-hati terhadap prospek pasar modal Indonesia dalam jangka pendek.
