Sejarah Nama Tanjung di Kota Malang Bukan Sekadar Nama Kampung, Diduga Sudah Ada Sejak Masa Kerajaan

21 - Mar - 2026, 09:12

Jalan IR Rais atau yang lebih dikenal Tanjung (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah padatnya aktivitas perdagangan dan lalu lintas di sekitar Pasar Kasin, Kecamatan Klojen, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan jejak sejarah panjang Kota Malang. Meski kini tercatat di peta sebagai Jalan Ichwan Ridwan Rais, masyarakat setempat lebih akrab menyebut wilayah tersebut dengan nama Tanjung.

Nama Tanjung ternyata bukan sekadar sebutan biasa. Kawasan tersebut diyakini memiliki sejarah yang jauh lebih tua dari yang dibayangkan, bahkan diduga sudah dikenal sejak masa kerajaan Hindu Buddha.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Pemerhati sejarah sekaligus budayawan Kota Malang Agung Buana menjelaskan bahwa penamaan wilayah di Malang pada masa lalu sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan alam di sekitarnya.

“Penyebutan nama di daerah Malang itu erat kaitannya dengan tanaman. Kalau yang tumbuh tanaman tanjung, maka disebut Tanjung. Kalau kebun belimbing ya disebut Blimbing, kalau banyak sukun ya disebut Sukun,” ujar Agung.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa nama Tanjung bukan muncul tanpa alasan. Penamaan kawasan tersebut berkaitan dengan kondisi ekologis yang pernah ada di wilayah itu.

Pohon tanjung atau Mimusops elengi yang dikenal memiliki bunga harum serta kayu yang kuat diduga tumbuh cukup banyak di kawasan tersebut pada masa lampau. Keberadaan tanaman itu kemudian menjadi identitas wilayah yang akhirnya dikenal masyarakat sebagai Tanjung.

Jejak nama tersebut juga dapat ditemukan dalam berbagai peta lama peninggalan kolonial Belanda. Agung menyebut bahwa pada peta yang dibuat sekitar tahun 1920-an hingga periode 1942 dan 1945, kawasan tersebut masih tercatat dengan nama Tanjung.

“Di peta tahun 1945 masih ada penyebutan Tanjung. Bahkan daerah Bareng yang dekat Pasar Kasin dulu juga disebut Tanjung,” ungkapnya.

Menariknya, pada masa itu ternyata terdapat dua wilayah di Kota Malang yang sama-sama dikenal dengan nama Tanjung. Lokasinya berada di bagian utara dan selatan kota.

“Tanjung itu ada dua, di utara ada, di selatan juga ada. Jadi bukan hanya satu titik seperti yang kita pahami sekarang,” terang Agung.

Pada masa kolonial, kawasan Tanjung bahkan memiliki cakupan wilayah yang cukup luas. Area tersebut membentang dari sekitar kawasan Lambau yang dahulu dikenal sebagai lokasi sekolah pertanian hingga kawasan Jalan Turunan, yakni jalur tanjakan dari Pasar Kasin menuju arah timur.

“Ini menunjukkan Tanjung bukan sekadar nama kampung kecil, melainkan kawasan yang cukup luas dan penting dalam perkembangan kota saat itu,” tuturnya.

Seiring perkembangan kota, nama kawasan tersebut kemudian berubah dalam administrasi resmi. Jalan yang sebelumnya dikenal sebagai Jalan Tanjung mulai menggunakan nama Jalan Ichwan Ridwan Rais sekitar tahun 1960 hingga 1970-an.

Baca Juga : Jeng Ayud, Olahan Ikan Rumahan yang Kini Suplai Restoran

Namun perubahan nama tersebut tidak serta-merta menghapus ingatan masyarakat terhadap identitas lama kawasan tersebut. Hingga kini, sebutan Tanjung masih tetap digunakan oleh warga.

“Orang dulu menyebutnya Jalan Tanjung karena memang kampungnya bernama Tanjung,” imbuh Agung.

Nama Tanjung bahkan masih bertahan dalam struktur administrasi wilayah hingga sekarang, salah satunya melalui nama Kelurahan Tanjungrejo yang dikenal masyarakat Kota Malang.

Agung menilai sangat mungkin penamaan Tanjung sudah muncul sejak masa klasik atau periode kerajaan Hindu Buddha yang berlangsung antara abad ke-9 hingga abad ke-15.

“Masa klasik itu abad ke-9 sampai abad ke-15. Sudah dimungkinkan penamaan Tanjung ada sejak masa itu, karena tanaman tanjung memang banyak tumbuh di sana,” ujarnya.

Jika dugaan tersebut benar, maka Tanjung bukan hanya nama yang muncul pada masa kolonial. Sebaliknya, nama tersebut merupakan jejak toponimi yang telah berusia ratusan tahun dan menjadi penghubung antara masa kerajaan, era kolonial hingga perkembangan Kota Malang modern saat ini.

Agung menegaskan bahwa nama kampung sejatinya bukan sekadar label administratif. Nama tersebut merupakan arsip sejarah yang mencerminkan hubungan manusia dengan lingkungan alam di sekitarnya.

“Itu bukan kebetulan. Nama kampung adalah identitas sejarah yang merekam kondisi lingkungan pada zamannya,” pungkasnya.