Athaya Putri Nirwasita, Remaja Malang yang Ubah Alat Dapur Jadi Lukisan Abstrak

Reporter

Irsya Richa

Editor

A Yahya

21 - Mar - 2026, 09:07

Athaya Putri Nirwasita dengan karyanya saat di rumahnya. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapinya, Athaya Putri Nirwasita mampu membuktikan bahwa bakat dan kreativitas dapat tumbuh dari mana saja. Remaja asal Kota Malang berusia 20 tahun ini dikenal sebagai pelukis sekaligus desainer muda yang karyanya lahir dari cara yang tidak biasa, yakni melukis menggunakan berbagai peralatan dapur.

Athaya merupakan penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang sudah terdeteksi sejak usia dua tahun. Kondisi tersebut sempat membuat kedua orang tuanya harus bekerja ekstra keras untuk mendampingi tumbuh kembangnya. Berbagai terapi hingga konsultasi dengan tenaga medis dijalani demi membantu Athaya berkembang.

Baca Juga : Hitungan Kalori Kue Lebaran dari Nastar sampai Kastengel, Lengkap dengan Cara Membakarnya

Sang ibu, Isa Maisah, mengaku perjalanan mendampingi putrinya tidaklah mudah. Namun ia memilih untuk terus mencari cara agar Athaya dapat menemukan aktivitas yang membuatnya nyaman sekaligus menggali potensinya.

“Sejak kecil saya sudah mencoba memberikan banyak aktivitas untuk Athaya, mulai dari menggambar, melukis hingga ikut kegiatan fashion show. Tapi waktu itu bakatnya belum terlalu terlihat,” kata Isa.

Ketertarikan Athaya terhadap dunia seni mulai muncul pada 2021, saat pandemi Covid-19. Kala itu ia terinspirasi dari kakaknya yang gemar menggambar. Dari situlah Athaya mulai mencoba melukis, meskipun dengan cara yang berbeda dari pelukis pada umumnya.

Alih-alih menggunakan kuas, Athaya justru memanfaatkan berbagai peralatan rumah tangga yang tidak terpakai sebagai alat melukis. Mulai dari garpu makan, sendok nasi, sumpit, sikat baju, hingga alat pembersih kaca menjadi media yang membantunya menciptakan goresan di atas kanvas.

Tak disangka, dari alat-alat sederhana tersebut lahirlah karya lukisan abstrak dengan warna dan komposisi yang unik. Bahkan, Athaya mampu menjelaskan makna di balik setiap lukisan yang dibuatnya.

Isa mengaku masih teringat jelas ketika pertama kali melihat hasil karya putrinya. “Awalnya dia melukis menggunakan pembersih kaca milik ayahnya yang sudah tidak dipakai. Saya kaget sekali melihat hasilnya, bagi saya lukisan itu sangat menakjubkan untuk ukuran anak dengan ADHD,” ungkap Isa.

Lukisan pertama Athaya menggambarkan suasana kebersamaan keluarganya di sebuah kebun pada siang hari. Warna-warna cerah yang dipilih menggambarkan kenangan masa kecil yang masih tersimpan dalam ingatannya.

Perjalanan seni Athaya kemudian semakin berkembang. Melihat minat putrinya yang semakin kuat di bidang seni, kedua orang tuanya mulai sering mengajak Athaya menghadiri berbagai pameran seni untuk memperluas wawasannya.

Dari sana, Athaya mulai berani mengikuti berbagai perlombaan. Hasilnya, ia berhasil mengoleksi puluhan penghargaan dari berbagai ajang, mulai dari tingkat kota hingga nasional.

Baca Juga : Empat Alat Pungut Pajak Daerah Andalan Bapenda Kabupaten Malang

Tak hanya berhenti pada seni lukis, Athaya juga mulai menyalurkan kreativitasnya ke dunia fesyen. Ia memadukan lukisan abstrak karyanya menjadi motif pada berbagai produk seperti pakaian dan aksesori.

Isa mengatakan, ide desain biasanya datang langsung dari Athaya. Ia kemudian membantu menuangkan ide tersebut dalam bentuk desain yang lebih detail. “Athaya biasanya punya ide sendiri, lalu saya bantu menggambarkannya karena ada keterbatasan. Tapi dia tetap mengoreksi kalau ada yang tidak sesuai dengan idenya,” katanya sambil tersenyum.

Kini karya Athaya tidak hanya hadir dalam bentuk lukisan, tetapi juga diaplikasikan pada berbagai produk fesyen seperti tas, sepatu, bucket hat, scarf, hingga perhiasan seperti kalung dan anting.

Namanya pun mulai dikenal dalam berbagai kegiatan kreatif. Athaya pernah tampil dalam ajang Malang Fashion Week serta diundang untuk menampilkan karyanya dalam Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Athaya memiliki mimpi yang sederhana namun penuh makna. Ia ingin membangun usaha sendiri yang dapat memberikan kesempatan kerja bagi teman-temannya sesama penyandang disabilitas. “Keinginannya punya bisnis yang bisa mempekerjakan teman-teman ABK. Dia ingin bisa saling mendukung dan berkembang bersama,” terang Isa.

Sebagai orang tua, Isa mengaku sangat bangga melihat perjalanan putrinya hingga saat ini. Ia berharap kisah Athaya dapat menjadi inspirasi bagi banyak keluarga bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

“Saya selalu mengingatkan Athaya untuk tetap semangat dan tidak menyerah dengan keadaan. Yang penting bisa terus berkarya dan memberi manfaat untuk orang lain,” tutup Isa.