Puluhan Tahun Tekuni Kerajinan Bedug di Magetan, Warga Sukomoro Ini Kebanjiran Order Jelang Lebaran
Reporter
Basworowati Prasetyo Nugraheni
Editor
Nurlayla Ratri
02 - Mar - 2026, 02:20
JATIMTIMES - Di tengah gempuran teknologi pengeras suara modern, keberadaan bedug rupanya masih menjadi instrumen yang paling dicari menjelang hari raya Idulfitri. Fenomena ini dirasakan betul oleh Apong (70), seorang pengrajin bedug senior yang memiliki workshop di wilayah Sukomoro, Kabupaten Magetan.
Lelaki kelahiran Bangka ini sudah puluhan tahun menetap di Magetan dan mendedikasikan hidupnya sebagai pembuat bedug. Meski usianya sudah memasuki kepala tujuh, semangat Apong tidak surut. Di bengkelnya yang terletak di Sukomoro, ia tampak sibuk mengawasi proses produksi yang tengah dikerjakan oleh para karyawannya.
Baca Juga : Serahkan SK Kenaikan Pangkat 76 ASN, Mbak Wali Tekankan Pelayanan Optimal di Bulan Ramadan
"Sudah puluhan tahun saya di sini. Suka duka, pasang surut harga bahan baku, sampai pasar yang sepi sudah pernah saya hadapi semua demi bertahan hidup di Magetan," ujar Apong saat ditemui di bengkel kerjanya.
Untuk memenuhi pesanan yang membludak, Apong biasanya mempekerjakan dua hingga tiga orang karyawan. Ia memantau dengan saksama setiap detail pengerjaan, mulai dari proses penghalusan kayu jati hingga pemasangan kulit kerbau, agar suara yang dihasilkan tetap nyaring dan awet.
"Pekerjaan fisik memang dilakukan karyawan, tapi saya tetap teliti semua prosesnya. Harus dicek satu per satu supaya pembeli tidak kecewa," imbuhnya.
Kualitas bedug buatan Apong rupanya sudah diakui secara nasional. Hal ini terbukti dari jangkauan pembelinya yang tidak hanya datang dari wilayah Magetan atau Jawa Timur saja.
Pesanan terjauh yang pernah dilayani Apong bahkan mencapai wilayah Riau, Sumatra. Menurutnya, kepercayaan pelanggan dari luar pulau tersebut didapat karena ia selalu mengutamakan penggunaan bahan baku kayu jati berkualitas tinggi.
Baca Juga : Refleksi Setahun Mas Ibin, Kota Blitar Siapkan Lompatan Menuju Kota Masa Depan
Mengenai harga, Apong mematok nilai yang bervariasi tergantung ukuran dan kerumitan pengerjaan. Produk paling prestisius dan termahal di bengkelnya adalah bedug dengan diameter 2 meter.
"Untuk bedug yang paling mahal harganya Rp 30 juta. Itu ukurannya besar, diameter 2 meter, dan menggunakan kayu jati pilihan. Proses pengerjaannya juga lebih lama dan butuh ketelitian ekstra," jelas pria asal Bangka ini.
Bagi Apong, peningkatan pesanan di musim Lebaran tahun ini adalah berkah sekaligus ujian untuk menjaga kualitas. Meski harus berhadapan dengan fluktuasi harga kayu dan kulit, ia berharap kerajinan bedug di Sukomoro Kabupaten Magetan tetap mendapat tempat di hati masyarakat.
