Perbedaan Rukyat Hilal dan Hisab dalam Menentukan Awal Ramadan 2026, Mengapa Bisa Berbeda?
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
17 - Feb - 2026, 04:53
JATIMTIMES - Pemerintah melalui Kementerian Agama dijadwalkan menggelar Sidang Isbat pada Selasa, 17 Februari 2026, untuk menetapkan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah atau Ramadan 2026. Hasil sidang ini akan menjadi acuan resmi bagi umat Islam di Indonesia dalam memulai ibadah puasa.
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Perbedaan ini bukan hal baru. Hampir setiap tahun, potensi perbedaan awal puasa antara pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah selalu menjadi perhatian publik.
Baca Juga : Sekolah dan Poliklinik dari Solo: Perlawanan Sunyi Mangkunegara VI
Lalu, sebenarnya apa perbedaan rukyat dan hisab dalam menentukan awal Ramadan?
Apa Itu Metode Hisab?
Secara bahasa, hisab berarti menghitung. Dalam konteks penentuan awal bulan Hijriah, metode hisab menggunakan perhitungan astronomi atau ilmu falak untuk menentukan posisi bulan.
Metode ini tidak mengharuskan pengamatan hilal secara langsung. Penentuan awal bulan cukup dilakukan melalui perhitungan matematis yang sistematis dan ilmiah untuk memastikan apakah hilal sudah wujud atau belum.
Muhammadiyah dikenal konsisten menggunakan metode hisab dalam menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Mengutip dari situs resmi Muhammadiyah, penggunaan hisab didasarkan pada dalil Al-Qur’an, antara lain:
QS Ar-Rahman ayat 5: "Asy-syamsu wal-qamaru biḥusbān"
Artinya: Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
QS Yunus ayat 5: Allah menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menetapkan tempat-tempat orbitnya agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, Muhammadiyah memandang bahwa perhitungan astronomi merupakan bagian dari sunnatullah yang bisa dijadikan dasar dalam menentukan awal bulan Qomariyah.
Apa Itu Metode Rukyat Hilal?
Berbeda dengan hisab, rukyat secara bahasa berarti melihat. Dalam praktiknya, metode rukyat dilakukan dengan cara mengamati hilal atau bulan sabit pertama secara langsung setelah matahari terbenam.
Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyat dalam menentukan awal Ramadan. Berdasarkan penjelasan di laman resmi NU Online, hilal yang dimaksud adalah lengkungan bulan sabit paling tipis yang berada di atas ufuk barat setelah matahari terbenam.
Pengamatan hilal dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
• Menggunakan mata telanjang,
• Menggunakan alat bantu optik seperti teleskop,
• Menggunakan peralatan modern yang terhubung dengan kamera dan sensor.
Dasar penggunaan rukyat juga merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang menganjurkan umat Islam berpuasa ketika melihat hilal dan berbuka ketika melihatnya.
Baca Juga : Jejak Terminal dari Pecinan ke Arjosari, Museum Terminal Bakal Ada di Kota Malang
Mengapa Hasilnya Bisa Berbeda?
Perbedaan antara hisab dan rukyat terletak pada pendekatannya:
• Hisab: Menggunakan perhitungan astronomi tanpa harus melihat hilal secara langsung.
• Rukyat: Mengharuskan adanya pengamatan hilal secara faktual di lapangan.
Karena perbedaan pendekatan tersebut, hasil penetapan awal Ramadan bisa saja berbeda. Dalam beberapa kasus, metode hisab menetapkan awal bulan satu hari lebih cepat dibandingkan hasil rukyat. Namun, tidak jarang pula keduanya menghasilkan tanggal yang sama.
Di Indonesia, pemerintah biasanya menggabungkan dua pendekatan tersebut. Data hisab digunakan sebagai dasar perhitungan awal, kemudian dikonfirmasi melalui rukyat sebelum diputuskan dalam Sidang Isbat.
Sikap MUI soal Perbedaan Hisab dan Rukyat
Menanggapi perbedaan metode ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa baik hisab maupun rukyat merupakan hasil ijtihad para ulama. Keduanya memiliki landasan syar’i dan tidak dapat dianggap salah satu lebih benar secara mutlak.
MUI juga menerbitkan Fatwa Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Dalam fatwa tersebut ditegaskan bahwa umat Islam di Indonesia wajib mengikuti keputusan pemerintah apabila terjadi perbedaan pendapat mengenai awal Ramadan.
Perbedaan awal Ramadan seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan. Justru, hal ini menunjukkan adanya kekayaan khazanah keilmuan Islam, baik dari sisi fiqih maupun astronomi.
Baik metode hisab yang digunakan Muhammadiyah maupun rukyat yang digunakan NU sama-sama bertujuan untuk memastikan umat Islam menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. Pada akhirnya, keputusan pemerintah melalui Sidang Isbat menjadi rujukan resmi bagi masyarakat luas di Indonesia.
Dengan memahami perbedaan rukyat dan hisab secara utuh, umat Islam diharapkan dapat menyikapi potensi perbedaan awal Ramadan 2026 dengan sikap saling menghormati dan tetap menjaga persatuan.
