10 Pantangan Saat Imlek yang Masih Dipercaya, Jangan Sampai Bawa Sial di Awal Tahun
Reporter
Mutmainah J
Editor
A Yahya
17 - Feb - 2026, 10:50
JATIMTIMES - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan suasana hangat, penuh doa, dan harapan baru. Rumah dihias warna merah, keluarga berkumpul, hidangan istimewa tersaji di meja makan, dan angpao dibagikan sebagai simbol berkah.
Namun di balik kemeriahannya, ada sejumlah pantangan yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Tionghoa. Pantangan ini bukan sekadar larangan tanpa alasan, melainkan simbol dan filosofi agar tahun yang baru dimulai dengan energi positif, rezeki lancar, dan hubungan harmonis.
Baca Juga : 70 Personel Polisi Disiagakan Jaga Liburan Panjang, Simpang MCC dan Kayutangan Jadi Fokus Pengamanan
Dilansir dari berbagai sumber, berikut penjelasan lengkap 10 pantangan saat Imlek yang kerap dijaga hingga kini.
1. Tidak Menagih atau Meminjam Uang
Imlek dipercaya sebagai momentum membuka lembaran baru. Karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan utang piutang sebaiknya diselesaikan sebelum pergantian tahun.
Menagih utang saat Imlek dianggap bisa merusak suasana dan membawa kesialan bagi kedua pihak. Sementara meminjam uang diyakini dapat membuat masalah finansial berlarut-larut sepanjang tahun.
Banyak keluarga memilih menahan urusan keuangan hingga lewat hari kelima perayaan agar awal tahun tetap terasa ringan dan penuh kedamaian.
2. Menjaga Ucapan, Hindari Kata Bernada Buruk
Dalam budaya Tionghoa, kata-kata memiliki kekuatan simbolik. Apa yang diucapkan di awal tahun dipercaya bisa menjadi doa atau bahkan “ramalan” untuk bulan-bulan berikutnya.
Karena itu, kata-kata seperti sakit, miskin, gagal, mati, atau sial sangat dihindari. Suasana dijaga tetap positif dengan ucapan selamat, doa panjang umur, kelimpahan rezeki, dan kebahagiaan keluarga.
Intinya sederhana: awal tahun harus dimulai dengan energi baik.
3. Dilarang Bertengkar dan Sebisa Mungkin Tidak Menangis
Imlek adalah simbol keharmonisan. Pertengkaran di hari pertama dianggap bisa “mengundang” konflik sepanjang tahun.
Bahkan, menangis pun dipercaya membawa kesedihan berkepanjangan. Namun jika anak kecil menangis, orang tua biasanya tidak memarahinya demi menghindari suasana negatif. Dalam tradisi lama, tetangga bahkan ikut menenangkan bila terjadi perselisihan agar suasana tetap damai.
Harmoni menjadi kunci utama dalam menyambut tahun baru.
4. Tidak Menyapu atau Membersihkan Rumah di Hari Pertama
Menyapu dan membuang sampah saat hari pertama Imlek dipercaya sama artinya dengan membuang rezeki dan keberuntungan yang baru datang.
Karena itu, rumah biasanya dibersihkan secara menyeluruh sebelum malam pergantian tahun. Jika memang harus menyapu, ada anjuran untuk mengarahkan debu ke bagian dalam rumah dan tidak langsung dibuang hingga beberapa hari kemudian.
Tradisi ini melambangkan menjaga agar rezeki tidak “terbuang” sia-sia.
5. Tidak Memberi Angpao Saat Penerima Masih Tidur
Memberi angpao adalah salah satu tradisi paling ditunggu saat Imlek. Namun ada etika tersendiri dalam pemberiannya.
Memberi angpao ketika penerima masih terbaring di tempat tidur dipercaya membuat orang tersebut “terbaring” atau malas sepanjang tahun. Bahkan menyuruh seseorang bangun dengan nada tergesa-gesa juga dianggap kurang baik karena melambangkan tekanan atau perintah sepanjang tahun.
Segalanya diusahakan berjalan santai dan penuh hormat.
6. Menghindari Minum Obat Jika Tidak Mendesak
Ada kepercayaan bahwa minum obat di hari pertama Imlek bisa menjadi simbol sakit sepanjang tahun. Oleh sebab itu, sebagian orang menunda konsumsi obat ringan jika memang tidak terlalu mendesak.
Namun penting ditekankan, tradisi ini bersifat simbolis. Jika seseorang memiliki penyakit kronis atau kondisi darurat, kesehatan tetap harus menjadi prioritas utama.
Tradisi tidak boleh mengalahkan keselamatan.
Baca Juga : Yayasan Pengelola MBG Dapat Insentif Rp6 Juta per Hari, Tetap Cair Meski Libur
7. Tidak Makan Bubur di Hari Pertama
Bubur dalam sejarah Tiongkok kuno identik dengan makanan rakyat miskin. Karena itu, menyantap bubur di hari pertama Imlek dipercaya kurang membawa kemakmuran.
Sebaliknya, keluarga biasanya menyajikan hidangan yang melambangkan kelimpahan seperti ikan utuh (simbol surplus rezeki), pangsit (simbol kekayaan), dan kue keranjang (simbol peningkatan keberuntungan).
Maknanya jelas: tahun baru harus diawali dengan simbol kemakmuran.
8. Tidak Mengunjungi Rumah Keluarga Istri di Hari Pertama
Dalam tradisi lama, perempuan yang sudah menikah dianggap menjadi bagian dari keluarga suami. Karena itu, hari pertama Imlek biasanya dirayakan bersama keluarga pihak suami.
Jika sang istri pulang ke rumah orang tua pada hari pertama, dulu hal itu ditafsirkan sebagai pertanda kurang baik bagi rumah tangga. Kunjungan ke keluarga istri umumnya dilakukan pada hari kedua Imlek.
Meski kini banyak keluarga lebih fleksibel, tradisi ini masih dikenal luas.
9. Menghindari Penggunaan Benda Tajam
Gunting, pisau, dan jarum dipercaya dapat “memotong” keberuntungan dan rezeki. Karena itu, memotong rambut atau menjahit biasanya ditunda hingga beberapa hari setelah Imlek.
Inilah sebabnya banyak salon tutup saat hari pertama perayaan. Segala sesuatu yang berkonotasi “memotong” dihindari agar keberuntungan tetap utuh.
10. Tidak Memberikan Hadiah yang Bermakna Kurang Baik
Saat bersilaturahmi, membawa buah tangan adalah hal yang lazim. Namun ada beberapa hadiah yang dihindari.
Jam misalnya, dalam budaya Tionghoa memiliki pelafalan yang mirip dengan ungkapan penghormatan terakhir kepada orang meninggal. Sementara payung dianggap melambangkan perpisahan atau menjauh.
Sebagai gantinya, buah seperti jeruk mandarin, kue tradisional, atau hampers bernuansa merah dan emas lebih disukai karena melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran.
Jika diperhatikan, hampir semua pantangan saat Imlek berkaitan dengan simbol dan makna positif: menjaga ucapan, menghindari konflik, menghormati keluarga, dan mempertahankan keberuntungan.
Tradisi ini bukan sekadar soal percaya atau tidak, tetapi tentang menjaga suasana hati tetap hangat dan harmonis. Imlek pada akhirnya adalah momen untuk mempererat tali keluarga, saling mendoakan, dan menyambut tahun baru dengan semangat optimisme.
Selama nilai-nilai baiknya tetap dijaga, Imlek akan selalu menjadi perayaan penuh makna dari generasi ke generasi.
